Mereka Yang Harus Dimutilasi

115
Emirates memang pesawat yang keren. Dengan fitur ICE (Information, Communication, Entertainment), mereka berhasil menyabet beberapa penghargaan di dunia penerbangan.
Sadar bahwa saya akan terjebak selama hampir 5 jam dalam pesawat dari Jakarta menuju Dubai, tentu saya bersyukur dengan adanya fitur ICE ini. Terutama Entertainment. Di database Entertainment, tersimpan banyak film dan musik keren. Dari yang lama hingga yang baru. Ini jelas bisa membuat saya terhindar dari mati kutu terpancang di kursi pesawat.
Saya pun mencoba beberapa album yang belum pernah saya dengar sebelumnya, macam Tapestry atau Blonde on Blonde. Menyenangkan.
Bosan dengan para musisi kulit putih itu, saya berusaha mencari musik-musik dari belahan dunia lain. Ada Ravi Shankar, Fateh Khan, dan beberapa musisi world music lainnya. Yang lebih menyenangkan adalah saya melihat album “Nuansa Indonesia” di folder World Music. Wah, saya bangga bahwa musik Indonesia bisa dimasukkan ke world music oleh Emirates. Tanpa pikir panjang, saya tekan album itu.
Dengan mode awal shuffle, lagu yang terdengar di kuping saya adalah lagu di track 14. Ada suara gitar dan keyboard. Merengek. Sepertinya saya kenal lagu ini.
Jancuk!
Ini lagunya D’Bagindas! Brengsek benar. Siapa pula yang memasukkan lagu ini ke dalam “Nuansa Indonesia”? Apa tidak ada survey dulu sebelum memasukkan lagu yang dianggap mewakili nuansa Indonesia?
Penasaran, saya lihat daftar lagu lain. Perasaan saya tidak enak. Saya benar. Alamakjang tuhan semesta alam. Ada Armada, ST12, Radja, dan yang paling menggidikkan adalah lagu Pinkan Mambo yang berjudul sangat psikopat: Cintaku Di Mutilasi!
Ampun boss!
Entah yang memilih lagu ini punya dendam apa sama Indonesia. Kok bisa dengan sadisnya memilih lagu-lagu itu untuk mewakili Indonesia dalam “ajang” World Music. Padahal ada The S.I.G.I.T, AKA, Koes Plus, Guruh Gypsy, hingga para band yang masuk dalam kompilasi Those Shocking, Shaking Days.
Malam itu tidur saya tak nyenyak. Membayangkan kalau ada penumpang lain memainkan playlist “Nuansa Indonesia”, dan setelahnya ia berharap pesawat akan segera jatuh agar bisa mengakhiri penderitaannya.

Dan doa orang yang teraniaya itu manjur…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

7 KOMENTAR

  1. hahahha…sumpah..ngakak bacanyaa…itu yang masukin playlist kurang research..kenapa ga lagu tradusional aja mendingan, dentuman angklung atau sasando..itu kan lebih kereennn…. -_-“

  2. dian: hehehe, pancen sing survey iku koplak 😀

    mr.brukks: hehehe, iya. bisa bikin nyawa orang terancam 😀

    lek: pancen, tipikal musik pagi 🙂

    fira: hehehe, mending juga lagu2 Sunda yah :p

  3. hahahahahaha… jangan posting tulisan ini dong mas,,, ntar didamprat ma orang gunung lho,,,, wkwkkwkwkkw….

    inilah kondisi musik indo sekarang. mau tidak mau kita harus mendengarkan juga. hahaha

TINGGALKAN KOMENTAR