“This isn’t a tale of derring-do, nor is it merely some kind of ‘cynical account’; it isn’t meant to be, at least. It’s a chunk of two lives running parallel for a while, with common aspirations and similar dreams. In nine months a man can think a lot of thoughts, from the height of philosophical conjecture to the most abject longing for a bowl of soup – in perfect harmony with the state of his stomach. And if, at the same time, he’s a bit of an adventurer, he could have experiences which might interest other people and his random account would read something like this diary.”

(Ernesto Guevara, The Motorcycle Diaries)

 

SEBUAH perjalanan rupa-rupanya bisa mengubah seseorang sedemikian rupa. Itu yang diucapkan oleh Ernesto Guevara. “Let the world change you, and you can change the world,” serunya suatu kali. Ia tak sedang membual. Perjalanan sejauh 8.000 kilometer menjelajahi Amerika Selatan yang ditempuhnya bersama seorang sahabat, Alberto Granado, berhasil mengubah Ernesto menjadi seorang “Che” yang kelak mengubah dunia –atau setidaknya Amerika Selatan.

Perjalanan menggunakan motor Norton 500 cc yang dinamai La Poderosa ini kelak dibukukan dengan judul The Motorcycle Diaries (selanjutnya akan disebut sebagai The Motorcycle). Buku ini disebut sebagai perpaduan sempurna antara Das Kapital dan Easy Rider. Das Kapital adalah buku karangan Karl Marx yang banyak berbicara mengenai politik ekonomi, sedang Easy Rider adalah sebuah film tentang dua pengendara motor bohemian yang dibintangi oleh Peter Fonda dan Dennis Hopper.

The Motorcycle adalah sebuah sisi humanis dari Ernesto. Kalau kita berbicara Che, maka kita akan menemui seorang pria Amerika Latin yang garang, brewokan, revolusioner, tegas, dan bisa dengan santai berujar “Sebuah revolusi tanpa senjata? Itu tak akan berhasil.”

Saya jelas lebih menyukai sosok Ernesto ketimbang sosok Che. Selain saya bukanlah tipe orang yang menyukai revolusi dan semacamnya, saya lebih tertarik pada gagasan dan keberanian seorang Ernesto yang rela “sengsara” demi melihat dunia yang selama ini hanya bisa ia impikan. Bagaimana tak berani dan rela sengsara; Ernesto seorang dokter muda, anak dari keluarga terpadang, punya kekasih yang cantik dan dari keluarga kaya; malah pergi menghantam debu jalanan dengan seonggok motor tua yang sebenarnya lebih layak dimuseumkan? 8.000 kilometer pula. Gila.

 

SEBELUM menunggangi La Poderosa, Ernesto lebih dulu menjelajah Amerika Latin pada tahun 1950. Dengan menaiki sepeda yang dipasangi motor kecil menuju daerah utara Argentina, ia berpergian sejauh 4.500 km sendirian. Di San Francisco del Chahar, dia bertemu dengan seorang teman lama, Alberto Granado,yang bekerja di sebuah pusat penanganan lepra. Di sana mereka banyak mengobrol tentang impian dan keinginan untuk berkeliling Amerika Selatan.

Akhirnya pada Desember 1951 perjalanan legendaris pun bermula. Perjalanan yang oleh Ernesto disebut sebagai “…a chunk of two lives running parallel for a while, with common aspirations and similar dreams.” Ya, mereka dua lelaki pemimpi yang rela meninggalkan zona nyaman mereka untuk mengejar apa yang dinamakan impian. Saat itu Ernesto baru berumur 23 tahun –sama dengan umur saya sekarang–, dan Alberto berumur 29 tahun.

Kalau anda membaca buku dan menonton film The Motorcycle, susah membayangkan kalau beberapa tahun kemudian pria yang punya penyakit asma kronis ini bakal jadi tokoh revolusi yang berhasil menggulingkan kekuasaan Fulgencio Batista di Kuba.

Dalam The Motorcycle, Ernesto seringkali muncul dan bercerita sebagai pria yang lebih sering dibodohi oleh Alberto. Mulai dari kalah suit dan harus berenang mengambil bebek hasil buruan mereka di danau yang airnya sangat dingin; hingga bagaimana Ernesto yang sesak nafas dan sekarat tapi Alberto malah sibuk merayunya untuk meminjami uang agar bisa menyewa perempuan penghibur.

Ernesto juga sering tampak sebagai pemuda yang tolol dan lugu. Dalam suatu acara, Ernesto yang jadi pelayan dalam sebuah pesta berusaha mencuri beberapa botol anggur dan beberapa kerat daging. Ia tak tahu bahwa tindakannya dicuri lihat oleh seseorang. Akhirnya anggur dan daging yang ia sembunyikan secara susah payah (dengan berpura-pura mabuk), berhasil digondol orang. Susah untuk tidak tertawa melihat semua kebodohan yang ia lakukan dan tuliskan.

Tapi Ernesto tak melulu soal pemuda naif yang lugu dan gampang dibodohi.

Ia adalah pemuda yang tergetar melihat semua ketidakadilan. Ketika mengunjungi Chuquicamata, tambang terbesar di Chili yang dikelola oleh perusahaan Amerika Serikat, ia melihat kisah getir tentang bagaimana dominasi Amerika yang ia sebut dengan “imperialist gringo domination”.

Lalu dia menuliskan “… para pekerja itu, kedinginan di gurun pada malam hari, saling memeluk agar hangat. Mereka adalah representasi semua kaum proletar di belahan dunia manapun.”

Juni 1952 Ernesto dan Alberto tiba di sebuah daerah penampungan para penderita leper di San Pablo yang dibelah sungai Amazon. Di sana mereka bekerja sukarela untuk merawat para penderita lepra. Ketika hari ulang tahun Ernesto tiba, para dokter dan juga Alberto berencana merayakannya. Ternyata Ernesto tidak ada. Menghilang. Padahal hari sudah malam, dan Amazon malam hari jelas bukanlah kala yang ramah. Semua panik dan mencarinya.

Alberto lantas menemukan Ernesto sedang berdiri di tepian dermaga. Di seberang sana tampak cahaya remang. Koloni para penderita lepra. Tiba-tiba ia melepas baju dan celananya. Alberto panik, seperti bisa menduga apa yang ada di pikiran Ernesto. Dugaan Alberto benar. Ernesto melompat ke sungai. Berusaha berenang. Alberto bertambah panik, lalu ia memanggil para dokter dan suster. Tapi sayang, tak ada yang bisa mereka lakukan.

Ernesto semakin jauh dari pandangan mereka. Seperti lenyap ditelan malam.

Di koloni para penderita lepra, suara gaduh terdengar. Suara para manusia di seberang rupanya menggaung sampai sana. Lantas banyak penderita lepra itu keluar dari bilik beratap rumbia mereka. Penasaran ingin tahu apa yang diributkan. Tampak sayup kecipak air tersibak. Tapi malam membuat tak jelas apa yang datang.

Ternyata Ernesto yang berenang. Para penghuni koloni ikutan gaduh. Ketika Ernesto berhasil sampai di daratan, para penghuni koloni lantas memeluknya haru, memberinya selimut penghangat badan. Di seberang sana Alberto berteriak kegirangan. Ia percaya bahwa Ernesto bisa melakukannya.

Apa sebab Ernesto menyebrangi sungai Amazon di kala malam ulang tahunnya? Tak lain tak bukan adalah ia ingin merayakan hari kelahirannya dengan para orang yang terpinggirkan, orang yang terasing dari dunia orang kebanyakan. Para penderita lepra di sana adalah orang yang tersingkirkan dari dunia orang kebanyakan.

Lantas ia menuliskan, “Kasih sayang dan perhatian bagi mereka bisa datang dari hal kecil, seperti menyentuh mereka tanpa sarung tangan dan semua tetek bengek peralatan medis, menjabat tangan mereka layaknya saudara, dan duduk bersama, bercengkrama tentang apa saja, atau sekedar bermain bola bersama mereka.”

Pagi datang, Ernesto harus kembali. Para penghuni koloni menatap pria berhati lembut itu dengan haru. Pria pertama yang mau menyentuh dan mengelus mereka tanpa sarung tangan. Sesuatu yang dokter pun enggan melakukannya.

Ernesto lantas menjadikan cinta sebagai landasan revolusinya, walaupun secara kontradiktif ia mengatakan revolusi akan berhasil kalau melibatkan senjata. Ia pernah berkata “…revolusi sejati itu akan selalu dituntun oleh perasaan cinta yang besar.” Cinta baginya tak sesempit cinta yang membusuk di lagu-lagu atau puisi. Cinta baginya adalah berjuang demi kehidupan yang lebih baik, untuk semua.

 

SEPERTI yang saya tulis di atas, saya jauh lebih menyukai Ernesto ketimbang Che. Meskipun mereka adalah satu sosok yang sama. Ernesto adalah seorang pejalan yang romantis, kuat dan rapuh secara bersamaan, berhati lembut, tapi berkemauan baja. Semua mimpinya berhasil ia capai. Walau kelak mimpi itu terhenti di Bolivia. Ia mati di ujung peluru revolusi yang ia galakkan.

Ketika Ernesto memulai perjalanannya, ia baru saja berusia 23 tahun. Hal itu selalu memberi saya semacam cambukan keras. Saya sudah berumur 23 tahun, dan apa yang sudah saya lakukan? Kalau sedang berpikir seperti itu, rasa-rasanya ingin segera melakukan sesuatu. Apa itu biar saya yang tahu. Semacam start revolution from my bed.

Hari ini Ernesto berulang tahun. Saya ingin memberinya ucapan dan mengingatnya sebagai Ernesto, seorang pemimpi berhati teguh. Seorang pejalan yang tangguh. Dan seorang manusia pecinta kehidupan. Bukan sebagai Che yang wajahnya banyak diobral dan disablon di kaos atau poster. Bukan sebagai Che yang memulai revolusi di banyak tempat. Bukan pula sebagai Che yang oleh seorang anak SMA di Jakarta pernah dibilang sebagai “rocker kan?”

Selamat hari lahir Ernesto Guevara!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. Saya bahkan lupa alur ceritanya mas, yang saya ingat saat ernesto gangguin istri orang di pesta malam.
    Tulisan-nya mengalir dan membuat saya membuka rongsokan dvd film ini.

    “Cinta baginya tak sesempit cinta yang membusuk di lagu-lagu atau puisi. Cinta baginya adalah berjuang demi kehidupan yang lebih baik, untuk semua.”
    kalimatnya penuh makna sekali.

  2. hehehe, yang itu juga konyol yud 😀 kalau yang adegan nyembunyiin botol anggur dan daging itu adanya di buku yud, di film kayaknya gak dimasukin deh, mungkin dianggap fragmen kurang penting 🙂

    tapi yang godain istri orang itu beneran konyol, bikin ngakak aja euy 😀

TINGGALKAN KOMENTAR