Sholat Jumat Pembawa Berkah

401
“Nuran, kamu gak ke masjid hari ini?” tanya Mohamed, teman satu kelas saya yang berasal dari Mesir.

Alamak. Saya lupa kalau hari ini hari Jumat. Waktunya Jumatan. Padahal seharian saya sudah melototin peta. Siang itu saya punya rencana ke Landungsbrucken, daerah pelabuhan di Hamburg yang kaya akan cerita mengenai para pengembara lautan. Setelahnya saya mau berkunjung ke Beatlesplatz, semacam daerah jajahan awal Beatles sebelum mereka lebih terkenal daripada tuhan. Tempat ini dekat dengan Pauli, jalan yang terkenal dengan dunia malamnya. Konon distrik merah di tempat ini adalah yang terbesar di Eropa, mengalahkan Prague atau Amsterdam. Saya belum yakin. Harus dibuktikan terlebih dahulu, hehehe.

Tapi ajakan dari Mohamed sedikit merubah rencana saya. Jadi saya pikir jalan-jalannya ditunda setelah Jumatan saja.

Maka berjalanlah saya dengan pria berumur 32 tahun ini, mencari masjid yang bernama Al Nour. Masjid ini terletak di jalan Kleiner Pulverteich, distrik Sankt Georg. Distrik ini merupakan daerah dengan komunitas muslim terbesar di Hamburg. Rata-rata berasal dari Turki, negara-negara Afrika dan juga beberapa dari negara Eropa Timur. Di daerah sekeliling masjid ini juga banyak bertebaran warung makanan Turki atau restoran yang menjual masakan Afrika.

Setelah berjalan sekitar 15 menit dari tempat kursus saya, maka sampailah kami. Sudah banyak jamaah yang berdiri di depan masjid sembari bertukar kata assalamualaikum. Berada ditengah para orang Turki dan Eropa yang berhidung mancung, saya merasa seperti orang yang paling pesek di seluruh dunia.

Masjid ini tak tampak seperti masjid. Hanya berupa bangunan dua tingkat biasa. Tampak tak ada beda dengan biro travel atau penjual makanan timur tengah di sebelahnya.


Yang menarik adalah pengaturan kutbahnya. Di masjid ini, tiap Jumatan selalu ada dua kutbah yang berlangsung bersamaan. Kutbah di tingkat bawah adalah kutbah yang memakai bahasa Arab. Sedang kutbah di lantai atas adalah kutbah dengan bahasa Jerman. Saya sih tak perduli mau ikut tingkat yang mana. Toh sama-sama gak ngerti apa yang mereka bicarakan.

Kutbah plus sholat berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Setelah salam terakhir dan kaki mau beranjak, mata saya bertumbukan dengan mata seorang pria. Dia melihat baju Surjan yang saya pakai. Sedang saya melihat hidungnya. Hidung yang sama peseknya dengan hidung saya.

“Indonesia?” tanya saya.

“Iya” katanya sembari tersenyum lebar.

Saya merasa tuhan langsung menurunkan jawaban atas doa saya kemarin. Doa agar saya dipertemukan dengan orang yang bisa membuat saya merasa dirumah. Saya merasa pria ini adalah orangnya.

Namanya Eko Minarto, asal Jombang. Dosen ITS ini sedang menempuh S3 di Universitas Hamburg, jurusan Geofisika. Mas Eko, begitu saya memanggilnya, lantas mengajak saya ke restoran Indonesia. Mata saya berbinar dan muka saya mendadak cerah. Restoran Indonesia berarti ada nasi. Oh, betapa saya merindukan nasi.

Mas Eko, yang mukanya persis Mas Ebhi Yunus 🙂
Akhirnya setelah berjalan 5 menit, sampailah saya di restoran yang bernama Cita Rasa ini. Saya langsung seperti merasa dirumah. Aroma masakannya. Warna kursinya. Hingga sapaan “Apa kabar” dengan bahasa Indonesia.

Dengan rasa girang, saya mengedarkan pandangan ke daftar menu yang semua tampak menggiurkan. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke Sapi Masak Kecap, masakan cacahan daging sapi yang ditumis dengan paprika aneka warna, wortel, dan dibumbui kecap serta bawang bombay. Tak lupa setangkup sambal berwarna merah menyapa layaknya karib yang begitu lama tak jumpa. Sayang, sang pelayan yang sepertinya berasal dari Turki tak begitu mengindahkan pesananan saya. Porsi kecil yang saya minta direspon dengan porsi besar. Jadilah saya tak habis. Pun harganya cukup mahal. Tapi tak apalah. Hitung-hitung sebagai pelunas rindu.





Setelah makan siang yang menyenangkan, kami beranjak ke toko yang menjual bahan-bahan makanan Indonesia. Uh, saya seperti berasa di rumah. Ada saus sambal Indonesia, kerupuk udang, tepung bumbu, bumbu nasi goreng, dan yang paling menyenangkan: TEMPE! Saya berasa belanja di Abung, toko kelontong langganan saya di dekat pasar Arjasa. Akhirnya saya beli tempe, bumbu nasi goreng, tepung bumbu, dan sebotol minyak goreng.


Setelah belanja itu, kami melangkahkan kaki ke daerah Ernst-Merck yang terletak di belakang Stasiun Hauptbanhof Hamburg. Jalur pedestrian panjang ini diisi dengan banyak butik mahal macam Prada, Mango, sampai Swarovski. Tapi ada juga toko baju murah macam H&M (dan kesana saya pergi untuk mencari sweater. Tapi modelnya aneh-aneh, dan saya tak jadi beli). Tapi bagi para pejalan kaki yang tak ingin belanja, bisa duduk santai di taman sembari menyeruput kopi dan makan hot dog.








Kemarin matahari bersinar terik. Saya baru merasakan musim panas yang sebenarnya. Walau angin sesekali bertiup dan membuat bulu roma saya berdiri. Kedinginan.

Di hari yang cerah itu semua orang mendadak jadi ceria. Semua tersenyum. Orang ngopi sambil bercengkrama. Ada yang pacaran. Ada yang memotret. Ada juga yang meminta-minta sembari menengadahkan tangan. Dan ada pengamen jalanan yang beraksi. Memainkan trompet, klarinet, hingga musik tradisional asal Uganda.

Ah Jumat yang menyenangkan.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR