Kegembiraan Bersama Suryono

169
Apa yang membuat bermain musik begitu menyenangkan? Kalau anda bertanya pada saya, mungkin saya akan menjawab “cinta”. Rasa cinta terhadap musik pada akhirnya akan menghasilkan semangat. Semangat itu pula yang akan membawa pada permainan bermusik yang penuh gairah. Alah, saya kok jadi melantur.
Jadi intinya, saya sudah lama sekali berhenti bermain musik dalam sebuah band. Paling pol yang sekedar gitaran, menyanyikan Soldier of Fortune atau Leaving on a Jet Plane buat Rina. Selain itu nihil. Aktivitas saya bermain musik total berhenti ketika band mate saya, Alfien, resmi lulus dari kampus dan jadi abdi negara. Setelah itu saya tak pernah bermain musik karena tidak (belum) menemukan partner yang cocok. Kecuali beberapa waktu lalu ketika saya menyanyikan medley Genjer-genjer dan Light My Fire bersama Danang. Sejak itu pula saya sudah lupa bagaimana rasanya kesenangan bermain dalam band.

Sampai tadi malam…

Saya didapuk sebagai pembetot bass di sebuah band bernama Suryono Ramonse. Dari namanya, sudah terlihat kalau punggawa band ini sedikit gila. Digawangi oleh para aktivis kesenian dari Dewan Kesenian Kampus, band ini dengan konsisten memainkan lagu dari band punk rock tingkat dewa, The Ramones. Tapi saya tak salah tulis, nama belakang band ini adalah Ramonse, bukan Ramones. Semacam plesetan yang seringkali digunakan oleh para komedian. Lalu penggabungan nama Jawa dan nama band punk rock jelas tipikal kegilaan para anak-anak seni, hehehe.

Awalnya Stanly, sang vokalis, menulis di statusnya kalau band-nya sedang membutuhkan bassist. Saya iseng menawarkan diri. Gayung bersambut, bocah labil ini lantas mengajak saya. Karena rindu bermain musik, saya pun setuju. Walaupun saya lebih terbiasa memegang gitar ketimbang bass.

Bersama Yongki si drummer dan Arif si gitaris, kami pun latihan sehari sebelum manggung. Set list kami adalah KKK Took My Baby Away, Do You Remember Rock N Roll Radio, Blitzkrieg Bop, dan She’s Sensation. Meski jari sedikit sakit karena lama tak menekan fret, tapi show must go on. Sikat!

Para personil Suryono sendiri adalah anak-anak angkatan 2007 dan 2008, yang otomatis menjadikan saya sebagai personel tertua. Tapi dalam rock n roll tak ada kata tua. As long as I got rock n roll, I’m forever young .

Band ini sungguh sering mengocok perut saya, terutama tingkah polah si vokalis yang bodor. Seperti ketika latihan tadi sore. Stanly menemukan stiker di lantai, dan dia dengan girang berkata “wah, nemu cap-capan”.

Cap-capan? Ini tahun 2011 kan? Saya kira diksi cap-capan itu sudah resmi punah di akhir 90-an, ternyata masih ada saja orang yang menyebut stiker dengan cap-capan, hahaha.

Setelah dua kali latihan, akhirnya tadi malam kami pun manggung di gig yang dibuat oleh anak-anak kesenian Fakultas Pertanian. Gig ini sederhana, tak ada panggung ataupun dekorasi. Tapi suasananya hangat, intim. Inilah yang menyenangkan dari gig komunitas. Semua saling kenal, semua saling mendukung, semua memberi aplaus walau penampilan tak maksimal.

Selepas pukul 7 malam, Suryono Ramonse pun dipanggil. Awalnya saya merasa tak enak. Ramalan saya benar. Stanly yang suka bercanda dan menggojlok, dengan enteng berkata “Hari ini saya membawa Pak Nuran, sang legenda musik dari Fakultas Sastra.” Asu! Legenda disini bukanlah hal yang bagus. Itu adalah sebutan dari Stanly untuk para mahasiswa yang lama kuliah. Saya jelas masuk kategori legenda itu.

“Ah, saya kenal mas ini. Dia calon kakak iparnya *****. Sampeyan mas-nya Orin kan?” tanya sang MC sembari menatap saya. Orin adalah nama adik saya, dan pacarnya (yang tak saya ketahui gimana mukanya dan siapa namanya) adalah salah satu panitia acara ini. Saya merasa gig ini bertambah absurd…

Meski sedikit bermasalah dengan sound (yang membuat kami membatalkan lagu Blitzkrieg Bop), tapi saya rasa penampilan kami cukup bagus, hehehe. Dan yang paling penting dari itu semua adalah kami bermain begitu lepas dan bahagia. Menikmati semua momen. Kami tertawa ketika menyanyikan “KKK took my baby away, he took her away, away from me”, seperti ikut menertawakan Joe yang menderita karena pacarnya direbut oleh rekan satu band-nya, Johnny. Juga berteriak lepas ketika bagian “We need change, we need it fast. Before rock’s just part of the past”, seakan ketakutan akan nasib rock n roll yang sedang berada di titik nadir.


Ah, menyenangkan sekali gig malam ini. Hey ho let’s go!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR