Lebaran Yang Tak Akan Pernah Sama Lagi

139


Hingga beberapa tahun lalu, lebaran masih menyenangkan.

Semua saudara berkumpul. Ayah sehat. Nenek pun sehat. Biasanya H-3 semua sudah berkumpul di rumah nenek. Meski ada beberapa kamar kosong, saya dan beberapa saudara yang seumuran macam Kiki, Hendra, Hendri, Kak Rizal, juga Ilham, lebih memilih untuk menggelar kasur lipat. Tidur di depan televisi setelah memindahkan meja. Setelah bercanda beberapa patah kata, kami pun tertidur.

Setelah sahur, kami teruskan tidur. Setelah sholat subuh, kami begitu enggan untuk tidur. Alih-alih membungkus diri dengan selimut, kami biasanya pergi berjalan kaki ke Alun-alun. Disana biasanya kami bermain judi poster. Kenapa disebut judi poster? Karena permainan ini memang adu kuat antara malaikat keberuntungan kami melawan malaikat keberuntungan sang penjual.

Ada kartu domino dijejer. Ada 10 kartu. Lalu kita disuruh memilih satu kartu, dan menyebutnya kecil atau besar. Kalau kita memilih kecil, dan jumlah lingkaran di kartu yang kita pilih memang kecil dan yang lain lebih besar, maka kami yang menang. Kalau bukan, maka sang penjual yang menang. Tak ada permainan otak, tak ada taktik. Semua memang permainan keberuntungan. Hadiahnya adalah poster. Biasanya poster pemain sepak bola yang tersohor pada waktu itu. Ada Beckham, Batistuta, Boksic, Nesta, hingga Del Piero.

Pernah suatu hari kami menang besar, dan sepertinya bapak bandar itu akan alih profesi.

Kala siang datang, kami semua bergelimpangan. Membuka baju, tengkurap dan meletakkan perut di ubin. Biar dingin dan haus minggat. Tak terhitung pula kami menengok jam.

Kalau panas sedang tak sopan, biasanya ayah mengajak saya dan para saudara sepupu untuk pergi ke Selokambang. Ini adalah pemandian alami yang terletak sepenanakan nasi dari rumah nenek. Airnya dingin. Hawanya sejuk karena banyak pohon. Kami tak pernah menolak ajakan itu. Biasanya kami pulang selepas Ashar. Sampai rumah tinggal menunggu waktu berbuka.

***

Hari idul fitri tiba. Semua bersuka cita. Setelah sholat ied dan sungkem, ritual utama tentu makan soto banjar.

Soto banjar adalah satu dari banyak varian soto di Indonesia. Biasa dimakan dengan lontong atau nasi. Isinya ada bihun, suwiran ayam, irisan telur, perkedel, kentang goreng, daun seledri, dan bawang goreng. Kuahnya sedap sekali. Gurih dengan rasa kaldu ayam yang kental. Setelah semua tersaji, tinggal menambahkan perasan jeruk nipis dan sambal bajak sesuai selera. Biasanya soto ini selalu gagal menghalangi kami menambah porsi.

Biasanya yang memasak soto banjar adalah nenek. Tapi semenjak kesehatan beliau memburuk, mamak yang mengambil alih tugas ini. Kadang juga tante Yun.

Setelah makan, yang ditunggu pun tiba. Pembagian angpau. Sudah hal yang wajar, bahwa kami yang belum bekerja pasti mendapat angpau yang cukup banyak. Biasanya setelah semua sanak saudara memberi angpau, kami hitung jumlah angpau, lalu saling memamerkan, dan berakhir dengan semangkuk bakso plus es jeruk di kedai bakso sebelah rumah.

Lebaran memang selalu menyenangkan bukan?

***

Tapi memang semua tadi adalah kenangan masa kecil. Dimana kami masih jadi anak ingusan yang tak tahu bahwa dunia ini tak sekedar terdiri dari kesenangan. Pada akhirnya kami tersadar bahwa ada kepahitan dari setiap kesenangan yang kita tangguk. Memang kadang tak langsung. Tapi pasti terjadi.

Kesenangan dan kesedihan bagaikan yin dan yang. Atau dua sisi mata uang yang berdampingan.

Lantas, lebaran tak lagi menyenangkan. Karena ada satu dan beberapa masalah. Kami tak lagi berkumpul. Ada beberapa yang terpisah. Walau kadang beberapa dari kami masih tetap berkumpul dan melakukan ritual makan soto banjar.

Tapi sudah tak ada menggotong meja di depan televisi, menggelar kasur, tidur bareng, jalan-jalan pagi ke Alun-alun, atau bermain judi poster dan memamerkan jumlah uang angpau sembari memakan bakso.

Tapi hidup adalah kemauan untuk terus berjalan. Maka hidup pun harus terus berjalan.

***

Ayah terserang stroke pada tahun 2001. Sempat sembuh dan kambuh beberapa kali, hingga akhirnya beliau tak bisa sembuh secara penuh. Beliau tak bisa lagi mengajak saya dan para saudara pergi ke Selokambang. Bahkan beliau tak lagi ikut sholat ied.

Hingga akhirnya kehilangan ayah dalam beberapa kegiatan itu memuncak, kehilangan ayah untuk selamanya. Itu terjadi pada tahun 2010 yang penuh warna. Belum sampai satu tahun lalu.

Lalu nenek menyusul ayah, beberapa waktu lalu. Dua kehilangan besar bagi saya, dalam waktu tak sampai satu tahun. Tak bisa dipungkiri, kehilangan itu membuat luka yang menganga. Seperti bom dalam game Plant vs Zombie, yang menggelegar dan membuat lubang besar pada tanah. Dan jelas membutuhkan waktu lama untuk kembali seperti keadaan biasa. Dan sepertinya itu musykil.

Karena memang tak pernah ada kehilangan yang mudah untuk dihadapi.

***

Ada satu dan banyak hal yang memang tak akan pernah bisa kembali. Guns N Roses pernah membuat mahakarya berjudul Appetite for Destruction, dan jelas tak akan bisa membuat mahakarya sedahysat itu lagi. The Doors kehilangan Jim Morrison, dan jelas tak akan pernah bisa menemukan penggantinya. Begitu pula dengan kenangan lebaran saya yang sepertinya akan mustahil untuk bisa diulang.

Ada sesuatu yang lebih baik dibiarkan sebagai kenangan. Hal yang membuat kita menjadi sentimentil, melankolis, atau merenung. Malam ini saya membiarkan kenangan lebaran itu menari liar. Diantara bunyi petasan yang bersahutan, juga bunyi takbir yang berpacaran dengan riuh klakson.

Saya rindu kalian semua…

Lumajang, 30 Agustus 2011

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR