Selamat Ulang Tahun ke 52, Ayah

641

 

Saat itu musim kemarau akhir tahun 1990. Dan saya seperti jadi remaja tergalau di seluruh dunia.
Pasalnya adalah saya gagal ujian masuk satu pondok pesantren modern yang ada di Solo. Saya baru saja lulus SD dan orang tua memutuskan untuk memasukkan saya dan kakak ke pondok pesantren. Rencananya tentu agar saya jadi anak yang pintar nan agamis. Sayang rencana orang tua saya itu berantakan. Saya dan kakak sama-sama gagal. Untuk anak SD, gagal memenuhi harapan orang tua itu rasanya seperti akhir dunia. Makan malas. Mandi pun jarang.
Pada suatu malam, saya jatuh sakit. Ayah membawa saya ke mantri dekat rumah. Sang mantri adalah teman ayah. Orangnya rada sombong. Dan malam itu kesombongannya menjadi karena anaknya diterima masuk di sekolah favorit, sedang saya di sekolah yang biasa-biasa saja.
“Wah, anak saya masuk sekolah favorit. Nuran kok bisa gak keterima? Sekolahannya itu kan yang banyak kasus kesurupannya itu?” ujar si mantri.
Kebetulan sekolah saya itu dikenal sebagai tempat jin kawin dan buang anak. Merit. Angker. Sering terjadi kesurupan di sekolah itu.
Si mantri terus menyombongkan anaknya yang konon meraih danem tertinggi di seluruh SD-nya. Bla bla bla. Saya hanya diam saja. Semacam terpukul karena gagal membuat ayah bangga.
Tapi ayah ternyata cuma tersenyum saja mendengar semua kesombongan mantri itu.
“Hehehe, kalau saya, sekolah dimanapun gak papa pak. Yang penting anak seneng dan bisa berprestasi” kata ayah.
Saat itu saya merasa, ayah adalah pria terhebat di seluruh dunia.
***
Saya menemukan keasyikan naik gunung ketika awal masuk SMA pada tahun 2003. Dulu saya seringkali melihat foto ayah naik gunung atau menjelajah. Saya ingin melakukan hal yang sama.
Gunung yang pertama kali saya daki adalah gunung Lamongan yang terletak di Lumajang. Saya ingat, pagi itu ayah mengantar saya ke terminal setelah sebelumnya membelikan saya berbatang-batang coklat cap Jago. Saya heran untuk apa coklat sebanyak itu.
“Makanan manis itu sumber energi dul. Kamu kalau naik gunung jangan sembarangan. Ojo asal munggah wae.” kata ayah ketus. Ayah menganggap saya serampangan naik gunung. Akhirnya ayah memberikan beberapa buku mengenai pendakian gunung.
Pendakian pertama itu gagal sampai puncak karena rombongan kami terjebak badai ketika bermalam di Watu Gajah. Tenda dihantam angin keras berkali-kali. Suara petir menggelegar. Hujan turun berderai-derai. Saya dan semua rombongan ketakutan. Ada yang istighfar. Ada pula yang menangis. Di saat yang mencekam itu, saya memakan coklat dari ayah. Dan rasa tenang pun datang hingga akhirnya saya tertidur.
Pernah ketika saya selesai mendaki gunung Raung, ketika pulang saya mendapati satu buah set kompor lapangan beserta tabung gas. Ayah yang membelikan. Mamak tinggal mengomel saja. Takut kalau anak laki-lakinya terlalu suka keluar rumah dan lupa pulang.
Suatu malam awal tahun 2005. Saya dan mamak bertengkar hebat. Pasalnya saya sudah menyiapkan carrier. Saya dan kawan-kawan sudah setuju akan rencana pendakian ke Gunung Arjuna dan Welirang. Mamak melarang, saya bersikeras. Mamak teguh dengan pendiriannya kalau saya harus membatalkan pendakian ini. Saya sudah kelas 3 SMA dan tak lama lagi menghadapi ujian nasional.
Mamak lantas menangis dalam kekeraskepalaannya. Sedang saya gamang antara tetap mendaki atau membatalkan perjalanan.
“Iki gawe sangu” kata ayah sambil merogoh semua uang yang ada di dompetnya. Beliau menyerahkan semua uang itu, hingga tandas uang di dompetnya. Saat itu tanggal tua. Mungkin beliau belum gajian. Dengan memberikan uang itu, ayah menyerahkan semua keputusan pada saya. Penuh seluruh. Ayah sudah menganggap saya dewasa.
Tapi akhirnya saya kembalikan uang sejumlah 70.000 lebih sedikit itu ke ayah. Saya memutuskan untuk membatalkan pendakian. Air mata mamak saya yang menahan saya untuk berangkat.
Tapi keputusan ayah untuk menyerahkan semua uang itu tetap berbekas hingga sekarang.
***
Sekarang tanggal 3 September 2011. Besok ulang tahunmu yah. Kalau kau masih hidup, kau akan berulang tahun yang ke 52. Tapi sayang usiamu terhenti di bilangan 51. Tapi tak apa. Kematian itu bukan akhir dari segalanya. Kematian adalah titik awal dari semua pengungkapan akan kenangan dan ingatan.
Mamak tadi cerita kalau besok kau ulang tahun. Ia seperti mengingatkan aku. Tapi mana mungkin aku lupa yah. Oke, aku khilaf. Aku menuliskan angka 5 September 1959 pada nisanmu. Tapi sumpah aku tak sengaja. Saat itu aku tak bisa berpikir. Tapi tak apa lah. Kau pasti suka kalau jadi lebih muda, walau hanya sehari.
Bagaimana kehidupan setelah kau tinggal? Well, susah menjelaskannya. Mamak masih saja mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia masih membiarkan baju yang terakhir kau pakai tergantung di hanger belakang pintu kamarnya. Ia kadang masih suka menciuminya. Aku tak pernah memprotesnya. Karena aku tak pernah tahu seberapa perih kehilangan orang yang telah berbagi hidup nyaris 30 tahun.
Aku kapan hari ke Jerman yah. Aku bisa kesana karena menang lomba nulis. Iya, lomba nulis yang dulu aku ceritakan. Mengenai PKI dan tragedi 1965. Lalu ketika mendengark aku akan pergi ke Banyuwangi, kau meminta ikut. Kau mungkin bosan di rumah saja, ingin jalan-jalan. Makanya, hiduplah sehat. Kau menyesal kan sekarang? Makanya kau selalu tak henti-hentinya cerewet. Mengingatkanku akan pentingnya menjaga pola hidup. Agar penyesalan yang sama tak aku rasakan juga.
Aku nyaris 1 bulan di Jerman yah. Sempat main ke Belanda, Italia, sama Perancis yah. Aku melaksanakan permintaanmu untuk melihat dunia yah. Memang, dunia itu indah, kau tak bohong. Lain kali aku akan melihat dunia lagi.
Oh ya, aku sudah pergi ke makam Jim Morrison. Kau iri kan? Kasihan :p
Hidup terus berlanjut yah meski kau sudah pergi. Aku memutuskan untuk sekolah lagi. Ke Universitas yang dulu pernah menolakmu masuk ke salah satu fakultasnya karena kau ternyata buta warna. Aku sudah tes, sekarang tinggal menunggu pengumumannya. Doakan saja agar diterima. Aku ingin bersekolah setinggi mungkin. Sesuatu yang dulu pernah kau kejar dengan gigih. Sesuatu yang kau ingin agar aku memilikinya juga.
Oh ya, mamak masih belum bisa pergi ke pusaramu. Katanya takut gak kuat lalu menangis. Aku paham itu. Semoga kau paham. Karena aku tahu meski mamak tak pernah datang langsung ke pusaramu, ia selalu mendoakanmu tiap saat. Juga mendoakan anak-anaknya. Kau telah memilih perempuan yang hebat yah.
Oh ya, kapan hari keluarga kita kehilangan satu orang terkasih lagi. Nenek meninggal. Sudah ketemu dengannya yah? Selamat melepas rindu ya. Nenek meninggal dengan doa dan tangis banyak orang. Semoga kau dan nenek mendapat tempat terindah di sisiNya yah.
Ya sudah lah. Cerita akan terlalu panjang kalau aku memaksa untuk terus bercerita. Kasihan kau, mungkin sudah lelah. Ingin segera istirahat. Sekarang sudah jam 9. Ini jam rutin tidurmu. Beristirahatlah dengan tenang.
Salam sayang dari Jember. Selamat ulang tahun ayah terhebat di dunia 🙂
Jember, 3 September 2011
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

12 KOMENTAR

  1. Makasih Enno. Pasti berat rasanya kehilangan Ibu. Semoga semua baik-baik saja. Semoga beliau diterima di tempat terindah.

    Salam kenal juga, makasih udah mampir (ato nyasar? hehehe)

    🙂

  2. 4 September? sama seperti bapak saya.
    tulisanmu sukses membuat semua pembaca merasa kehilangan yang hampir sama (kayaknya). semoga beliau diterima di tempat yang indah.

    yoopo carane aku isok nulis koyo ngene mas?

  3. Giri: Hehehe, suwun komene 😀 Wah,ayah kita punya tanggal lahir yang sama yo? Salam gawe bapakmu 🙂 Nggaweo film soal bapakmu poo, ojo nggawe film traveling wae 😀

    Dian: makasih ya 🙂 Kamu juga kangen ayahmu ya?

  4. Mbrebes mili aku baca tulisan ini, mas..
    Aku juga kehilangan Bapak, karena orangtuaku cerai, dan Bapak menikah lagi..
    Dan ibu yang jadi TKW sampe aku bisa kuliah.

    Semangat mas bro!

  5. ahaaa, sial. ini tulisanmu yang kedua yang membuat emosiku campur aduk. tulisan yang pertama yang bercerita soal kamu dan perempuanmu.

    kelak ketika kamu mati, tulisanmu yang akan menandakan bahwa kamu pernah hidup dan berkarya.

    selamat tetap menulis, bang nuran.

    *SKSD pake “bang” segala.

TINGGALKAN KOMENTAR