Banyak Jalan Menuju Roma (3)

128

Dingin masih saja menggigit ketika kereta menuju Venezia datang. Setelah memastikan kereta itu benar menuju Venezia, saya pun melompat ke dalamnya. Huupp. Kereta ini merupakan kereta kompartemen. Hal ini lazim untuk kereta malam. 
Ketika saya masuk dan melihat-lihat, semua kompartemen sudah terisi. Penuh. Para penumpang sudah bergelimpangan. Menyelonjorkan kaki. Mirip dengan suasana di kereta Gaya Baru Malam Selatan atau Kahuripan, minus homo homini lupus. Meski penuh, suasana kereta masih nyaman. Tak tampak raut ketidaknyamanan pada muka mereka, raut yang selalu saya lihat ketika naik kereta ekonomi di Indonesia. Terutama mereka yang dengan terpaksa tidur di lantai atau duduk di toilet.
Tak berapa lama kemudian kereta bergerak. Pergi menuju Italia. Selamat tinggal Wina, semoga kita bisa berjumpa lagi kapan-kapan.
Karena kompartemen yang penuh, maka saya menggelar badan di lantai dekat pintu. Menjadikan tas sebagai bantal. Saya rebah, lalu tertidur. Sampai saya mendengar suara omelan beberapa orang.
Ternyata mereka penumpang yang tak kebagian kursi. Mereka mengomel. Memaki kerja perusahaan kereta yang mereka anggap tak becus. Alamak, belum pernah datang ke Indonesia atau India rupanya.
Saya cuek aja, berusaha memejamkan mata. Berhasil, walau cuma sekejap. Karena seorang kondetur datang untuk memeriksa tiket saya. Saya keluarkan tiket sakti bernama Eurail. Dia lantas memeriksanya. Saya pikir semua akan beres. Tapi saya salah.
“Karena ini kereta malam, anda harus menambah biaya. 7 euro.” ujarnya pendek. Saya kebingungan. Masih belum tahu kalau naik kereta malam harus menambah biaya. 
“Maaf pak, kalau misalnya saya duduk di lantai saja, tapi gak usah bayar, boleh gak?” tanya saya. Kondektur itu memandang saya dengan pandangan aneh. 
Sepertinya kebiasaan saya duduk di lantai kereta terbawa hingga kesini.

Setelah ngobrol barang sejenak, saya masih tak dibolehkan duduk di lantai dan harus bayar. Saya pikir itu pungli, tapi saya salah. Cerita lengkap mengenai “pungli” ini nanti akan berujung panjang ketika saya naik kereta menuju Paris. Kondektur bilang 7 euro itu memang biaya tambahan untuk kereta malam dengan kompartemen. Karena saya membayar biaya 7 euro itu, saya akan dapat kursi. Oke, saya setuju.

Sebelum saya sempat mengeluarkan dompet, petugas mengajak saya ke sebuah kompartemen. Kompartemen itu gelap. Ketika pintu dibuka, lampu menyala. Hanya ada 5 orang disana, seharusnya isinya 6 orang. Satu orang tidur selonjor, membuat kompartemen itu penuh. Setelah kondektur membangunkan satu orang penumpang, ia lantas menyilahkan saya duduk. Saya lega, bisa mengistirahatkan badan dengan tenang.
Saya terbangun ketika terdengar suara tirai dibuka. Sinar matahari langsung menerobos. Silau euy. Tampak tebing-tebing menjulang. Sepertinya saya sudah memasuki Italia. Kalau melihat di peta, sepertinya sudah memasuki Udine. Venezia sudah tinggal sepenanakan nasi.
Mata sudah tidak mengantuk. Saya lantas menikmati daerah pegunungan Udine yang sesekali dilukis dengan jejeran pohon cemara. Aih, indah sekali. Mengingatkan saya pada lekuk Gumitir, daerah pegunungan perbatasan Jember- Banyuwangi yang berkelok dan banyak pohon cemara. Membuat saya kangen rumah.
Tak lama kemudian, pemandangan berganti jadi daerah pedesaan. Lengkap dengan rumah-rumah mungil yang sering saya baca di dongeng-dongeng. Ada sapi memamah rumput. Ada pula kuda. 
Lamunan saya terhenti. Suara dari speaker meneriakkan lantang kalau kereta sudah sampai di Venezia Santa Lucia. Saya harus turun, lalu berganti kereta untuk pergi menuju Roma. Sampai saya turun, kondektur itu tak mendatangi saya. Syukurlah, 7 euro tak jadi keluar.
Matahari bersinar terik. Saya menggendong ransel saya, membuka pintu kereta, lalu melompat keluar…

Bersambung…


Post-scriptum: Saya selalu suka dengan adegan pria beransel meloncat turun dari kereta. Kegemaran saya itu dibentuk oleh sosok Roy yang suka avonturir dengan menggunakan moda kereta. Ketika ia meloncat keluar dari kereta, itu tak berarti petualangan berakhir. Justru awal dari petualangan baru. Karena itu saya banyak menggunakan fragmen meloncat keluar dari kereta. Biar berasa jadi sosok Roy, hahaha.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR