Malam di Condong Catur

110

Kudengar angin lamat berbisik di dingin Condong Catur
Masih saja ia menyitir Soe
: Kita begitu berbeda, kecuali dalam cinta
Lalu ia kembali meringkuk
Menabur cinta pada angin, awan, juga semak belukar

Masih saja cemara mendoyong genit di Condong Catur
Seakan setuju bahwa malam tiada bertuan
Kembali kita merenung, memikirkan apa dan siapa
Lalu perlahan kita semua meringkuk
Menagih rindu pada bentang jarak, panas, dan juga debu

Dan masih saja kutengok bulan di atas Condong Catur
Yang menebar benih kerinduan pada seribu depa
Lalu kita bersikukuh bahwa segala keras bisa melembut
Tapi acap kita tak mau melembut. Mengeras.
Dan kita kembali memungut serpihan cinta pada angin, awan, juga semak belukar

Juga menyapih rindu pada bentang jarak, panas,
…dan juga debu.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR