Once Upon A Time in Paris (1)

143
Dua perempuan paruh baya itu adalah dosen di jurusan kehutanan. Ibu Zuraida yang berperawakan lebih kecil namun ceriwis itu mengajar di Institut Pertanian Bogor. Sedang Ibu Rahma yang kalem itu mengajar di Universitas Sumatera Utara. Keduanya baru saja mengikuti simposium di Alba, Italia. Lalu mereka melangkahkan kaki menuju Paris. Jalan-jalan sekalian pulang, karena pesawat yang akan membawa mereka pulang berangkat dari Paris.
Ibu Zuraida (kiri) dan Ibu Rahma
Kami akan menaiki kereta yang sama menuju Paris. Kami banyak ngobrol sore itu sembari menanti kereta datang. Dua orang ibu ini bercerita bagaimana susahnya pergi berdua dengan membawa sekitar 6 koper berukuran raksasa.
“Tadi itu mau ke toilet sampai gak bisa, karena bu Rahma takut ditinggal” kata Bu Zuraida kocak. Yang dituding hanya bisa mesem-mesem. 
Tak berapa lama kereta pun datang. Kereta TGV kayaknya. Yang konon merupakan salah satu kereta tercepat di Eropa. Tapi saya juga ragu, jangan-jangan ini kereta EC 9248, salah satu varian kereta antar negara di Eropa.

Meski dunia sudah mengakui emansipasi, namun tetap saja kalau berurusan dengan barang berat, perempuan selalu menyuruh lelaki untuk mengangkatnya. Kalau tak mau, bisa-bisa dituding tak gentle. Oke, jadi saya berusaha mengangkat beberapa koper yang berat itu. Dua orang ibu itu menyemangati saya terus-terusan. Saya ngos-ngosan. Mengangkat koper ini sungguh berat dan tak praktis. Karena itu saya lebih suka traveling menggunakan ransel. Efektif dan efisien.

Setelah nyaris separuh nyawa tercerabut, semua koper pun berhasil diusung ke dalam kereta. Suasana kereta menyenangkan. Meski tak seberapa lapang, suasananya nyaman sekali. Dengan air conditioner yang bertugas sebagaimana mestinya, mengatur sirkulasi udara, bukan untuk mengeluarkan udara dingin. Jadi ingat kereta eksekutif di Indonesia yang kadang menyetel suhu ac terlalu rendah sehingga penumpang kedinginan. Di dalam kereta, kami duduk dengan tenang, berusaha menikmati pemandangan sepanjang Torino menuju Paris. Di perbatasan Italia-Perancis pemandangannya begitu indah.
Ada jejeran pohon cemara di lereng gunung yang berbatu. Lalu di sebelahnya ada sungai yang alirannya deras. Di pinggir sungai itu ada beberapa rumah dari kayu. Sangat cantik. Mata jadi malas untuk terpejam walau ngantuk sudah memanggil.
Tak berapa lama, datang seorang kondektur berkebangsaan Italia. Kelihatan dari namanya. Dia memeriksa tiket semua penumpang. Lalu ketika tiba giliran saya, saya menyodorkan tiket eurail. Ia melihatnya sejenak, lalu bercetus “so, the payment should be 17 euro”. Saya pun bingung. Selain bahasa Inggris-nya tak jelas, saya bingung kenapa saya harus membayar lagi.
Saya pun ngotot tak mau bayar. Walaupun sebenarnya sia-sia, karena saya yakin sengotot apapun saya berargumen, saya pasti harus membayar. Tapi lebih baik gagal, daripada tak mencoba sama sekali. Ya itung-itung mengasah skill debat dalam bahasa Inggris, hahaha.
Si kondektur tampak bingung karena saya merepet cepat dalam bahasa Inggris. Si Italiano ini memang tak begitu menguasai bahasa Inggris. Lalu ia mencari penumpang yang bisa berbahasa Inggris, lalu menerjemahkan perkataan saya ke dalam bahasa Italia, lalu menerjemahkan perkataannya ke dalam bahasa Inggris.
Jadi intinya kereta yang saya naiki ini bukan kereta biasa. Intinya: tetap harus membayar 17 euro. Karena saya sudah puas mendamprat pak kondektur itu (walaupun ia tak salah, saya yang salah dan sok tau), akhirnya saya memutuskan untuk membayar.
Perjalananan kami isi dengan ngobrol. Sesekali tidur ayam. Kadang ngemil kentang dari Torino. Dari jadwal, diperkirakan kereta sampai pukul 23.34. Lama perjalanan sekitar 6 jam. 
Setelah berapa lama, kereta tampak berjalan melambat. Dari kejauhan tampak lampu berpendar-pendar riang. 
Paris!
Gare de Lyon
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR