Ah, Sudah Tiga Tahun

200
Saya ingat, di suatu malam yang menebarkan udara galau, saya membuka email dari seorang bernama Philips Vermonte.

Ah, saya ingat si pengirim email ini. Ia pernah meninggalkan komentar mengenai konser The Brandals di blog lama saya.

Philips Vermonte adalah founder dari blog berburuvinyl, sebuah blog yang berisi kisah tentang perburuan piringan hitam oleh beberapa orang mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Amerika. Piringan hitam yang diburu adalah album yang masuk daftar 500 Greatest Album versi Rolling Stone Amerika. Blog ini ia rintis bersama kawan baiknya, Taufiq Rahman, wartawan sekaligus kritikus musik dari The Jakarta Post.

Saya suka blog itu. Membuat angan saya melanglang ke Amerika, tanah suci bagi para pecinta musik. Membuat saya memimpikan asyiknya berburu piringan hitam di sela-sela tugas kuliah yang membuat rambut rontok perlahan. Karena itu, ketika melihat foto mas Philip yang ternyata tidak botak, saya menduga itu karena dia masih sempat bersenang-senang dengan cara berburu vinyl.

Isi emailnya adalah meminta saya untuk menulis di website yang baru ia rintis. Web ini merupakan tindak lanjut dari blog berburuvinyl. Isinya beragam. Mulai musik hingga politik. Dari review buku hingga review film. Tentu saja saya tak menolak. Apalagi disana banyak penulis dengan reputasi yang tidak main-main.

Saya ingat, tulisan pertama saya di Jakartabeat adalah tentang album Continuum, album milik John Mayer yang kala itu setia menemani saya yang sedang patah hati berat. Judul tulisannya pun terdengar sangat annoying, “Obat Patah Hati Bernama Continuum” . Hahaha.

Ketika tulisan saya di upload, saya girang bukan kepalang. Saya pamer ke banyak kawan kalau tulisan saya dimuat di Jakartabeat. Tapi kala itu tak banyak yang tahu mengenai web yang baru berumur beberapa bulan itu.

Hingga sekarang, Jakartabeat telah membuat beberapa gebrakan, yang sebenarnya juga merupakan perpanjangan mimpi mas Philips.

Pada ulang tahun kedua, ada Jakartabeat Music Writing Contest, kontes menulis tentang musik yang baru pertama kali diadakan di Indonesia. Responnya meriah. Dan ketika pemenangnya diumumkan, tanggapannya jauh lebih meriah. Hehehe.

Jakartabeat juga sudah menerbitkan buku berjudul “Like This” yang merupakan kumpulan tulisan terbaik di situs ini selama periode 2009-2010. Buku ini dicetak terbatas, hanya 300 eksemplar, dan sudah licin tandas. Buku ini juga direview dengan baik oleh banyak media.

Jakartabeat juga mengadakan acara –yang diharapkan– bisa berjalan rutin, yakni The Vinyl Countdown, plesetan dari The Final Countdown. Ternyata, meski founder dan co-founder adalah hipster, baliknya tetap ke istilah yang diciptakan oleh hair rocker. Hehehe. Acara ini adalah pemutaran piringan hitam dan diskusi. Partnernya adalah Ruang Rupa, sebuah komunitas kesenian yang sudah menjelma menjadi komunitas besar. Beberapa hari lalu, baru saja diadakan The Vinyl Countdown yang ke 2 dengan tema Punk, Logika Kekuasaan dan Perlawanan.

Dengan penuh seluruh, saya sadari kalau situs ini begitu berharga untuk saya. Ia mengenalkan saya dengan beberapa orang hebat. Ia mengenalkan saya dengan musik-musik aneh yang coba saya dengarkan (and yet, hair metal is still the best). Ia juga memberi saya kesempatan menulis di sebuah situs yang sekarang menjadi web favorit bagi banyak orang.

Tanggal 18 Januari 2012 adalah hari kelahiran ke 3 situs ini. Tanpa disangka –bahkan oleh sang founder sendiri– web ini perlahan menjelma jadi sesuatu yang besar. Dan saya yakin ia akan semakin besar.

Kalau boleh mengutip salah satu band terkeren sepanjang masa, Poison, berada  dan menulis di Jakartabeat itu seperti doin nothing but a good time, how can I resist?

Rock on!
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR