Engkel dan Engkol

866
Salah satu kelemahan dan juga ketololan saya adalah: saya tak pernah bisa paham soal mesin motor. 
Ini sesuatu yang dari dulu pengen saya rubah. Apalagi saya punya keinginan buat keliling Sulawesi pakai CB. Kalau suatu saat saya beneran keliling pakai CB, trus motor itu mogok di tengah jalan, lalu saya gak paham mesin, mampus kan?

Nah, hari ini saya kembali digetok sama tuhan. Disuruh beneran belajar mesin.

Panjul, kawan saya yang tampan dan punya semilyar grupis itu, beberapa hari lalu pulang kampung ke Betawi. Motor kesayangannya dititipkan ke saya.

Tanpa saya tahu kalau motor itu sering mogok.

Kejadian mogok pertama adalah kemarin ketika saya mau beli sandal. Pas di lampu merah, tiba-tiba motor menyendat. Det det det, kayak kehabisan bensin. Padahal jarum indikator bensin ada pada huruf F yang artinya full. Saya panik. Kalau mogok di lampu merah, saya pasti akan diberondong dengan bunyi klakson orang-orang yang merasa paling sibuk sedunia itu.

Untungnya motor masih bisa jalan. Tapi setelah melewati lampu merah, ia beneran mati. Sialan.

Motor Panjul ini masih baru. Honda tipe racing. Makanya saya heran kok bisa mogok. Di pinggir jalan saya coba starter motor. Pakai jempol gak bisa, pake kaki juga gak bisa. Saya berulang kali nyoba. Sampai dengkul kaki saya gemetaran. Sial, ini pasti akibat “guilty pleasure” semasa muda dulu. Hehehe.

Dan yang kurang ajarnya, setelah kurang lebih 30 menit mencoba menghidupi motor, ketika saya iseng menekan tombol electric starter, eh si Honda tiba-tiba hidup begitu saja. Tanpa perlu usaha. Asu.

Hari ini si Honda kembali berulah.

Selepas dari kampus, saya dan beberapa kawan berniat makan. Dan nyaris sama seperti kejadian pertama, motor ini kembali menyendat di lampu merah. Saya tarik tuas choke untuk memperlancar aliran bensin. Lumayan, tidak menyendat lagi.

Tapi beberapa meter selepas lampu merah, si Honda tiba-tiba mati total. Jiampuuuut.

Sama seperti kejadian pertama, saya berusaha menghidupkan motor dengan segala cara. Digelitik, digodek, dielus, dan segala macam usaha lainnya. Motor masih tetap tak mau jalan.

Mana dari tadi pagi saya belum makan. Tubuh saya langsung gemeteran. Sialan. Nah, karena motor tak kunjung hidup, akhirnya saya dan motor didorong oleh kawan. Pas di depan tempat makan, saya coba starter motor ini. Hidup. Jancuk!

Nah saya pikir motor ini tidak akan mogok lagi.

Tapi malam ini, ketika saya ada beberapa keperluan dan sekalian cari makan, motor kembali tak bisa dihidupin.

Maka saya sms Panjul.

“Njul, motormu kenapa sih? Emang sering mogok ya?”

Tak berapa lama kemudian, dia membalas.

“Oh itu karbunya kotor.”

Ya tuhan, bahkan saya tidak tahu dimana letak karburator itu. Dan apa perbedaan antara karburator dan busi? Itu saya benar-benar tak tahu.

Karena si pria penuh lemak ini cuma ngomong begitu singkat tanpa ada solusi, maka saya pun nanya biasanya diapain biar gak mogok.

“Apa ya. Coba di engkel”

Apa pula itu engkel. Maka saya bertanya lagi pada Panjul.

“Engkol tau?” ia malah balik bertanya.

Sial, seharusnya selepas SMP saya masuk SMK mengambil jurusan mesin. Atau selepas SMA saya harusnya masuk jurusan Tekhnik Mesin, bukannya Sastra. Ah, tapi saya ingat. Engkol itu adalah salah satu alat bengkel, bareng sama obeng, kunci inggris, tang, dll.

“Tau laaah, itu kan alat bengkel” jawab saya yakin.

“Bukaaan, di engkol itu kayak ngidupin vespa.”

Sial. Bagaimana pula cara ngidupin vespa itu? Di starter pakai kaki gitu kan? Saya betul-betul merasa tolol.

Karena capai, maka saya menaruh motor, ngidupin komputer, lalu berselancar di internet. Pasrah. Siapa tau nanti motor hidup sendiri seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Eh, ada Panjul di internet…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR