Iga Bakar Pandanwangi

1492

 Gara-gara Panjul ngasih link soal blog http://indonesianculinary.tumblr.com, saya jadi lapar. Kebetulan ada salah satu postingan mengenai iga bakar di blog tersebut.

Ingatan dan juga perut langsung menyasar ke Jember, kota saya tercinta. Disana, saya pernah makan iga bakar yang enak plus murah. Nama warungnya Pandanwangi. Saya ingat, saya tergiur masakan ini gara-gara membaca review di blognya Nurul Lek. Review ini ditulis oleh sang penulis tamu yang juga pecinta kuliner, Fajar Ndud, kawan akrab saya sedari kecil.

Warung dengan ornamen bambu ini terletak di Mangli, beberapa meter di sebelah kantor travel Cipaganti.

Saya kesana bareng Rina, menjelang keberangkatan menuju Jerman beberapa waktu silam. Jadi kami makan bersama seolah ini makan bersama yang terakhir, hehehe. Tapi baru sekarang saya ingat dan sempat menuliskan review-nya.

Ada beberapa menu disana. Yang jadi menu unggulan tentu saja adalah iga bakar dan iga penyet. Saya kebetulan sedang akan menuju Malang menggunakan bis, jadi saya menghindari iga penyet yang rawan membuat saya sakit perut. Jadilah saya memesan iga bakar. Rina yang sepertinya sedang jaim hanya memesan salad buah (tapi nanti iga bakar saya malah dihabiskan olehnya).

Tak perlu menunggu terlalu lama, iga bakar datang dengan tampilan yang menerbitkan liur. Warnanya coklat kehitaman, mengkilat karena olesan kecap yang dibakar. Ada biji-biji cabe dan kulit cabe berwarna merah. Sepertinya pedas. Saya jelas tak bisa menolak godaan ini. Tak apalah makan pedas sedikit, tak bakal sakit perut. Tapi lalu saya mencolek sambal yang juga disajikan bersama dengan iga bakar ini. Sedap. Sial, saya akan makan semuanya! Perduli setan dengan sakit perut. Kalau sakit perut di tengah jalan, ya turun saja. Hidup terlalu berharga untuk menolak makanan enak hanya karena takut sakit perut.

Karena dirangsang rasa lapar dan tampilan yang menggugah, maka saya langsung menggigit iga bagai binatang buas. Ada tekstur rada alot disana. Iga melakukan perlawanan, walau tidak ketat. Ini baru standar iga yang ideal. Tak terlalu empuk, tapi juga tak terlalu liat. Dan bumbu yang meresap hingga ke dalam daging, ternyata tak begitu pedas. Ada rasa manis dari kecap yang berpadu anggun dengan cabai.

Dan seperti yang sudah saya ceritakan, Rina tak kuasa menolak godaan iga bakar itu. Ia lantas ikut makan. Melupakan perkataan “sudah kenyang” yang ia ucapkan beberapa menit lalu. Hanya sekedipan mata, iga bakar beserta setangkup nasi licin tandas.

Selain rasanya yang enak, harganya pun bersahabat. Untuk seporsi iga bakar yang ukurannya lumayan besar, plus nasi, sambel, dan lalapan, harga yang dipatok hanya 10.000 rupiah saja. Sangat murah, bahkan untuk ukuran Jember.

Tapi sayang, ketika saya ingin kesana lagi beberapa waktu silam, warung ini sudah tutup. Entah tutup permanen atau tutup sementara saja. Semoga sementara saja.  Memang, sepengamatan saya, warung ini seringkali sepi. Jadi wajar, dengan harga yang murah (sedang harga iga lumayan mahal) plus pengunjung yang tidak terlalu banyak, warung ini rawan bangkrut.

Kalau saja warung ini tutup selamanya, itu patut disayangkan. Warung ini terlalu berharga untuk tutup tanpa banyak orang yang pernah mencicipi lezatnya iga bakar disana.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR