Puisi Tentang Hujan

852
Apakah saya sudah bercerita kalau saya punya kawan-kawan yang menyenangkan juga lucu?
Siang tadi, seorang kawan yang sudah legendaris dengan kisah cintanya yang selalu tak berjalan dengan baik, mengirim sebuah pesan pendek. Isinya singkat “Tolong gawekno aku puisi tentang hujan”.

Saya bilang kalau saya sedang ikut seminar dan tak bisa membuatnya sekarang. Dia memaklumi. Saya tahu maksud kawan saya itu. Ia jelas ingin mengirim puisi pada cewek yang ditaksirnya. Gelagatnya ketika mengejar cinta selalu tampak jelas.

Kawan saya ini memang seorang pemburu cinta yang tangguh. Ia bahkan pernah rela pergi ke Malang dengan mengendari motor, menemui sang gadis pujaan hati sembari membawa oleh-oleh prol tape khas Jember. Sayangnya, prol tape itu malah dicuil oleh saya (yang kebetulan sedang ada di Malang) dan kawan seperjalanannya. Itu masih dibumbui dengan balada sang gadis yang tak mau menemuinya.

Sesampai di kos menjelang maghrib, saya sudah berniat kirim sms berisi puisi pendek. Tiba-tiba saya punya ide iseng. Saya bilang ke dia kalau saya akan kirim puisi via message facebook karena malas mengetik puisi panjang.

Tapi dia menolak. Dia ingin via sms saja. Brengsek benar kawan saya itu. Sudah minta dibuatin puisi ,masih saja malas mengetik. Ia bersikeras agar puisi itu dikirim via sms. Tapi saya menolak. Lalu ia menelpon.

“Ran, kirimen lewat sms wae. Ben iso langsung tak kirim nang areke” ujarnya penuh harap.

“Kesel aku cuk ngetik dowo” ujar saya.

“Wah, puisine dowo to? Iyo wis, engko tak cek fb” ujarnya senang. Ia jelas berharap mendapatkan puisi  romantis panjang mengenai hujan.

Maka saya bergegas googling, dan mendapatkan sebuah puisi legendaris tentang hujan.

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu
Kebun dan jalan semua sunyi
Tidak seorang berani lalu

Tik tik tik hujan turun dalam selokan
Tempatnya itik berenang-renang
Bersenda gurau meyelam-nyelam
Karena hujan berenang-renang

(Hujan, Karya Ibu Sud)
Kawan saya itu tadi bercerita kalau dia tak bisa koneksi internet dengan hp, jadi ia harus ke warnet. Ya, ia bela-belain pergi ke warnet hanya untuk melihat “puisi” tentang hujan itu. Dan kalian tahu apa balasannya ketika melihat “puisi” tentang hujan yang saya kirim?

“T*MP*K !!!”

Hahahahaha :)) Betapa saya cinta kawan-kawan saya yang menyenangkan dan juga lucu. Itu sebabnya saya tak butuh OVJ atau lawakan TV lainnya untuk membuat saya ketawa 😀

post-scriptum: karena saya tak tega, nanti saya berniat membuatkan puisi pendek tentang hujan untuk kawan saya itu 🙂

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. Oh, ha ha ha.. aku jadi ikut tertawa lebar baca post ini.. 😀

    Salam kenal mas. Tadi mampir ke blog ini tanpa sengaja tapi lalu nyangkut baca beberapa post disini — dan semuanya menyenangkan untuk dibaca. Besok2 mau mampir lagi baca yang lainnya… Salam hangat… d.~

TINGGALKAN KOMENTAR