Sang Binatang Jalang Diantara Perjalanan

606
Salah satu petuah yang selalu saya ingat adalah: kalau mau jadi penulis yang baik, berkelanalah ke tempat yang jauh, dan tulislah pengalamanmu. Sepertinya petuah itu benar. Banyak penulis hebat adalah pengelana. Sebut saja Mark Twain, Karl May, hingga Jack Kerouac. Semua adalah penulis dan pengelana.

Tapi entah bagaimana dengan penulis puisi. Karena saya tak tahu banyak mengenai latar belakang para penulis puisi, saya tak tahu siapa saja penulis puisi yang suka berkelana dan menulis puisi dari hasil kelananya.

Saya hanya tahu satu: Chairil Anwar.

Bulan Juli tahun 2011, sebuah perusahaan penerbitan besar menerbitkan antologi puisi sang maestro. Judulnya adalah “Aku Ini Binatang Jalang”. Buku puisi ini memuat kumpulan puisi Chairil mulai tahun 1942 hingga saat kematiannya, 1949.

Ketika saya menekuri baris demi baris sajaknya, saya merasakan beberapa hal. Yang pertama adalah Chairil rupanya seorang yang seringkali galau. Ia sering meracau mengenai cinta, tuhan, kematian, hingga mengenai wanita malam. Yang kedua adalah Chairil seringkali merasa kalah, terutama dalam hal cinta. Banyak sajaknya yang menggambarkan kekalahan (dalam cinta) dan kesepian. Yang ketiga, adalah hal yang paling menarik bagi saya: tentang kegemaran Chairil melanglang buana. Ia menuliskan tentang laut, tentang pegunungan, dan juga pelabuhan.

Contoh pertama adalah sajak berjudul “Perhitungan”. Saya tak tahu sebenarnya sajak ini tentang apa. Tapi karena memahami puisi adalah mengenai interpretasi, maka saya berikan interpretasi saya. Di sajak yang ditulis pada 16 Maret 1963, Chairil menulis:

Banyak gores belum terputus saja.
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya.

Langit bersih-cerah dan purnama raya…
Sudah itu tempatku tak tentu dimana.

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi…!?

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

Awal mula sajak ini seperti menggambarkan rumah yang kecil dengan cat berwarna putih dan lampu merah muda. Tapi Chairil memutuskan untuk meninggalkan rumah. Lantas ia berhadapan dengan langit yang cerah dan bulan purnama. Selepas melangkahkan kaki ke luar rumah, maka sejak itulah ia seperti tak punya rumah, mengembara kemana kaki menapak. Ia kadang di Bandung, kadang pula di Sukabumi. Dan pada tiap malam, ia sering merasa kesepian, ringkih di malam yang sunyi. Bagi banyak traveler, pasti pernah merasakan rasa “meringkih dalam malam sunyi” itu. Dimana kita berada jauh dari rumah, malam begitu sepi, dan kita merasa rindu akan rumah.

Puisi kedua yang bertemakan perjalanan atau pengembaraan, atau malah menggelandang, adalah sajak berjudul “Rumahku”. Sajak yang ditulis pada 27 April 1943 ini bertema nyaris sama dengan puisi pertama, rumah yang ditinggalkan untuk petualangan. Charil menuliskannya begini:

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah kemana

Di sajak ini, Chairil melukiskan rumahnya yang berkaca jernih. Rumah ini memiliki halaman yang besar lagi lebar. Tapi ia memilih untuk keluar dan meninggalkan rumah. Ia pergi kemana saja, hingga tesesat tak dapat jalan. Ketika senja datang, ia mendirikan kemah sebagai “rumah”, dan ketika pagi datang, ia kembali melanglang. Entah kemana. Dari sini saya merasa, Chairil bukanlah sekedar pejalan biasa. Ia adalah pejalan jauh, yang tak memiliki titik akhir dari perjalanan. Ia berkelana kemana ia suka.

Sajak ketiga yang bertema perjalanan saya temui di “Kawaku dan Aku”. Puisi ini memiliki dua versi, dari buku “Deru Campur Debu” dan “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus”, tapi inti puisinya masih sama, hanya berbeda sedikit diksi dan peletakan kata. Pada sajak yang dibuat pada 5 Juni 1943 ini, Chairil menuliskan:

Kami sama-sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Dia bertanya jam berapa?

Sudah lart sekali
Hingga tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Sajak ini sepertinya dibuat Chairil ketika ia sedang berada di pelabuhan. Ia bersama kawannya masih terjaga hingga tengah malam. Ketika sang kawan bertanya mengenai waktu, baru Chairil sadar kalau waktu sudah sangat larut. Pelabuhan yang biasanya hiruk pikuk, jadi sepi. Semua orang tertidur dan digambarkan dengan “dan gerak tak punya arti”. Saya pernah berada dalam posisi itu. Ketika berada di pelabuhan Sape. Hingga tengah malam saya tak bisa tidur, sedang di masjid tempat saya tidur, hampir semua musafir sudah terlelap pulas. Di luar, kapal dan truk berkakuan.

Sajak berikutnya adalah “Dalam Kereta”. Pada puisi yang ditulis pada 15 Maret 1944, Chairil sepertinya sedang menuju entah kemana, di tengah hujan yang deras, di dalam kereta. Ia menuliskan:

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo…, makin dekat saja
Menangkup senja.

Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa

Sayatan terus ke dada.

Dari sajak itu, saya merasa Chairil sedang kesepian. Ia di dalam kereta, sendirian, di luar sedang hujan. Percayalah, kombinasi antara di kereta sendirian+hujan itu adalah kombinasi terampuh untuk merasakan kesepian dan kegalauan yang teramat sangat. Saya beberapa kali merasakan perasaan yang sama. Yang paling parah, saya ingat, adalah ketika saya berada sangat jauh dari rumah. Saya di kereta, sendirian, orang-orang bicara dengan bahasa asing, sedang di luar hujan. Plus pemutar musik memutarkan “Melankolia” Efek Rumah Kaca. Lengkaplah sudah.

Chairil juga lihai dalam membuat puisi yang menuliskan sebab-akibat dari perjalanan. Sebab-akibat ini bisa diartikan mengembara-kesepian, atau mengembara-ditinggal cinta. Ya semacam itulah. Kadang kala, memang konsekuensi terberat dari perjalanan (apalagi yang tanpa batas waktu) adalah ditinggal orang-orang terkasih. Dan Chairil bisa menuliskannya dengan gemilang. Coba simak puisi berjudul “Lagu Siul”. Dalam puisi yang dibuat pada 25 November 1945, Chairil menuliskan begini:

Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Dari puisi ini, saya bisa melihat betapa syahdu dan melankolia-nya Chairil dalam memandang cinta. Chairil bisa dibilang sedikit enggan untuk menjalin hubungan dengan ikatan. Bukan karena apa, tapi ia takut sang wanita akan meninggalkannya ketika ia sedang berkelana. Karena Chairil tahu, tak banyak wanita yang sanggup bertahan dengan pria bohemian sepertinya. Ia seperti bisa meramalkan kehidupan romansanya, dimana ketika semua menjelang akhir, sang perempuan akan meninggalkannya, beranak dan berbahagia. Sementara Chairil? Ia akan terus mengembara serupa Ahasveros, sang raja Persia yang mengembara mencari makna kehidupan dan berakhir dengan menjadi gila.

Lalu ada pula sajak “Kabar Dari Laut”, dimana Chairil menuliskan

Aku memang benar tolol ketika it
mau pula membikin hubungan dengan kau;
lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu
berujuk kembali dengan tujuan biru

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi
Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang.

Sajak ini seperti mengibaratkan Chairil dengan seorang pelaut. Seperti kita tahu, pelaut pada jaman dulu tak pernah bisa memberikan kepastian kapan ia akan pulang. Bisa jadi pula ia mati di tengah laut dan tak ada yang memberi kabar. Chairil mengibaratkan diri sebagai kelasi yang “Tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu, yang berujuk kembali dengan tujuan biru.” Chairil juga enggan untuk memulai sebuah hubungan, karena baginya hidup hanya “berlangsung antara buritan dan kemudi”, yang menggambarkan hidupnya selalu mengembara tanpa tujuan. Sedang kisah romansa itu ibarat pembatasan, yang hanya akan memberikan kenangan. Dan jelas itu menyakitkan.

Karena itu, meski ia menuliskan sajak untuk banyak perempuan: Ida, Tuti, ataupun Mirat, ia tak pernah mau terikat, tak mau menikah hingga ajal memanggil. Meski pula ia jatuh cinta setengah mati dan tak sempat terungkapkan pada Sri Ajati, ia tetap teguh tak mau menikah. Karena ia sepertinya tahu mengenai pedihnya terikat kenangan.

Untuk Sri, ia juga menuliskan banyak sajak. Termasuk sajak terkenal berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Pada puisi yang ditulis pada tahun 1946, ia menggoreskan:

Ini kali tiada yang mencari cinta
Diantara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan.Tidak bergerak
Dan kini tanah dan airtidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri.berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba diujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Pada puisi yang sendu ini, kita bisa merasakan Chairil yang sedang menatap senja di pelabuhan kecil. Ia bercerita mengenai gudang, rumah tua, tiang serta temali, kapal, juga perahu. Sore itu sedang gerimis. Hari sedang muram. Dan Chairil masih saja sendiri. Tapi ia terus berjalan, mencari pantai keempat, berharap sedu bisa terdekap dan lindap. Oh Chairil, betapa kau kesepian bung.

Salah satu puisi Chairil yang paling panjang sekaligus paling menggetarkan, bisa jadi adalah “Kepada Kawan”. Sebuah sajak yang dibuat dengan maksud mengobarkan semangat untuk berkelana. Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat. Pada sajak yang lahir pada 30 November 1946 ini, sang pria kesepian ini menuliskan:

… Jadi
Isi gelas sepenuhnya, lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan.
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam.

Chairil mengajak untuk menenggak pengalaman sebanyak mungkin. Mengibaratkan diri sebagai gelas yang harus diisi oleh pengalaman, setelah penuh lantas kosongkan, lalu pergilah lagi. Jangan terperdaya oleh bujuk rayu, karena itu tinggalkan perempuan yang merayu. Pada benak Chairil, perempuan bisa jadi adalah penghalang untuk terus berkelana. Ah.

Selain sajak yang saya tulis diatas, masih banyak lagi sajak dengan tema perjalanan. Sebut saja “Sajak Buat Basuk Resobowo”, “Malam di Pegunungan”, hingga “Aku Berada Kembali”.

Pada akhirnya, Chairil memanglah seorang penulis puisi yang legendaris. Sangat legendaris bahkan. Tapi banyak pula yang alpha, lupa kalau Chairil adalah juga seorang pejalan jauh, pengembara, atau pengelana. Sebut saja lah. Karena, bagi Chairil, para pejalan adalah apa yang ia sebut dan ia suka dalam sajak “Prajurit Jaga Malam”,

Aku suka pada mereka yang berani hidup
AKu suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. Baca kata Sukabumi saya jadi ingat sama cerita bapak saya. Kala itu pembumihangusan PKI. Di desa tempat saya bermukim kini. Semua pengikut (orang desa) yang hanya ingin merasakan kesamaan dengan yang para pemimpin rasakan, di kirim kesukabumi. Suka itu demen, Bumi itu lemah. Jadi DemenLemah yang artinya mati.

  2. saya suka Chairil Anwar, terlebih lagi dalam sajak-sajak cinta tak sampai yang ia tuliskan.. Hmm. Btw, soal giveaway:

    1. Ada 1 syarat yang belum kamu ikutin yaitu follow blog-nya Memoar Ayu.. 😀
    2. Saya masih crosscheck, baca ulang kisah-kisah semua peserta giveaway.
    3. Saya belum sempat post tentang pengumumannya, karena terpaku sama acara Januari50K yang deadline-nya akhir Januari ini.

    Sekian dan terima kasih. 🙂

    Salam,

    Ayuu (pecinta flowers generation, orang gondrong, grunge, dan PEACE, LOVE, EMPATHY) #halah (saya kasihtau soalnya kita satu hobi, kayaknya sih)

TINGGALKAN KOMENTAR