Hal Yang Harus Belajar Kau Hadapi

112

Ada beberapa hal yang harus belajar kau hadapi.
Yang pertama adalah rasa malas. Entah ini perkara umur atau saya sudah terbiasa dengan zona nyaman, saya seringkali merasa malas duluan ketika mau pergi traveling. Contohnya: besok saya memutuskan untuk pergi ke Timur dengan menggunakan motor. Tapi ketika packing, saya memikirkan perjalanan panjang yang harus saya tempuh. Lalu bagaimana lamanya waktu penyebrangan feri antar pulau yang bisa memakan waktu hingga 6 jam. Kalau ombak sedang besar malah bisa 8 jam. 
Tapi itu bukan berarti saya harus berhenti jalan-jalan.
Karena saya rasa, berdasarkan pengalaman saya belakangan ini, rasa malas ini harus dihadapi. Bayangkan kalau saya lari ketika dihadapkan dengan gambaran rasa jenuh ketika duduk di kapal selama 6 hingga 8 jam, bisa-bisa selamanya saya tidak kemana-mana. Bayangkan juga kalau saya malas naik kereta ekonomi, atau naik truk, atau naik colt pick up, yang menawarkan ketidaknyamanan, bisa jadi saya hanya mendekam di rumah saja. Alamak.
Selain rasa malas, rasa takut juga hal yang patut dihadapi. 
Mamak saya begitu takut ketika saya pergi naik gunung untuk pertama kalinya. Ia berpikir gunung itu penuh dengan marabahaya. Tanah yang licin dan menanjak, hawa dingin yang menusuk dan mencakar, serta berbagai macam kelebatan hal menakutkan lain. Tapi bayangkan, kalau saya menuruti rasa takut itu, saya tidak akan pernah merasakan magisnya pengalaman berdiri di puncak tertinggi dan menyaksikan gumpalan awan sejauh mata memandang. Atau menyenangkannya duduk melingkari api unggun ketika malam datang dan kabut perlahan turun dari puncak menuju lembah.
Hal yang ketiga yang harus belajar kita hadapi adalah rasa bersalah.
Kemarin salah seorang perempuan terkasih berkata pada saya bahwa ia ingin mengalihkan rasa bersalah pada seseorang dengan cara berkonsentrasi pada tugas kuliahnya. Ia berharap bahwa rasa bersalah itu akan teralihkan kalau ia sibuk menggarap tugasnya.
Saya hanya bilang “Kamu dan aku menghadapi masalah yang sama. Tapi kamu tahu beda antara aku dan kamu? Aku belajar berani menghadapi masalah, sedang kamu memilih lari. Percayalah, kamu tidak akan bisa konsentrasi menyelesaikan tugasmu, karena rasa bersalah itu akan menghantui dan memburumu hingga kau menyelesaikannya”.
Ya, belajarlah berani menghadapi rasa malas. Termasuk juga rasa takut. Termasuk juga masalah.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

8 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR