Banyuwangi, Bali, Chili, Gili (Part 3)

265
“Nanti lewat Malimbu aja Ran” kata kak Ririn selagi saya sedang membereskan carrier.

Ya, pagi ini saya akan berangkat menuju Gili. Tujuan saya memang Gili Meno, pulau yang paling sepi diantara gugusan 3 gili. Kata kak Ririn ada dua jalur menuju Bangsal, pelabuhan kecil tempat diberangkatkannya kapal menuju gili-gili tersebut. Yang paling populer adalah jalur Malimbu. Ketika memilih jalur ini, akan ditemui pemandangan menakjubkan, laut luas yang dapat dilihat dari puncak bukit. Jalan menuju Malimbu memang berbukit dan menanjak.

Sekitar jam 9 pagi, saya berangkat. Menuju Malimbu. Sebelum masuk Malimbu, saya lebih dulu melewati Pantai Senggigi. Pantai ini sudah tak seramai dahulu. Bisa jadi akibat pembangunan pariwisata yang terlalu cepat dan tak memikirkan prospek jangka panjang. Jadinya pantai legendaris ini tidak sebersih dulu. Selain itu, pesona 3 gili juga turut meredupkan popularitas pantai Senggigi.

Dari Mataram menuju Bangsal, bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Jalan menuju kesana relatif baik, dengan pemandangan yang membuat kita sejenak menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Pemandangan ini juga membuat saya berkali-kali berhenti untuk memotret. Tak salah saya “melarikan diri” ke Lombok ini.

“Mister, bla bla bla is great, you must come there” teriak dua orang yang berboncengan menggunakan motor matik pada saya. Saya hanya bisa bengong.

Mereka berhenti. Masih berbahasa Inggris patah-patah. Menawarkan rental kendaraan untuk pergi ke pantai yang katanya bagus.

“Saya orang Indonesia pak” kata saya dengan senyum.

Mereka melengos, lalu langsung pergi. Sialan. Dasar mental inlander. Mereka mengira saya wisatawan asing. Mungkin saya dikira turis dari Thailand atau Vietnam. Sama-sama negara Asia dengan kontur muka yang tak jauh berbeda dengan Indonesia.

Ketika saya masuk Bangsal, hari sudah lumayan siang. Menjelang pukul 11. Matahari sudah nyaris sejajar dengan ubun-ubun. Menyengat. Setelah membayar retribusi sebesar Rp. 1000, saya langsung mencari penitipan motor. Ongkosnya Rp. 10.000/ 1 malam. Setelah memarkir motor, saya langsung menuju kantor tempat penjualan tiket kapal kayu menuju Gili Meno.

“Kapal menuju Gili Trawangan butuh 7 orang lagi”

Suara seorang perempuan terdengar dari speaker kecil yang ditempel di tembok. Satu kapal kayu biasa diisi sekitar 20-25 orang. Tapi kata seorang bapak di sebelah saya, dia pernah melihat kapal ditumpangi sekitar 40 orang.

“Ke Gili Meno satu mbak” kata saya pada mbak penjual tiket.

“Wah mas, ke Meno udah tadi pagi jam 10. Ada lagi baru jam 2 nanti. Yang mau berangkat sekarang itu yang ke Trawangan” mbak penjual menjelaskan.

Lalu saya tanya-tanya mengenai jadwal kapal ini. Untuk kapal ke Gili Trawangan, ada setiap jam. Tak heran, pengunjung ke pulau ini memang yang terbanyak. Untuk ke Gili Meno, pulau yang paling kecil dan yang paling sepi, ada setiap 1-2 kali sehari. Biasanya berangkat jam 9.30 atau jam 10. Kadang ada juga yang jam 2 siang, seperti hari ini. Lalu untuk menuju Gili Air, ada 2 kapal tiap hari menuju kesana. Biasanya berangkat pagi, antara jam 8 hingga jam 11 siang.

Untuk harga tiket, cukup terjangkau. Ke Gili Air, yang paling dekat dari Bangsal, cukup membayar sebesar Rp. 8.000. Ke Gili Meno yang berada di tengah, tiketnya sebesar Rp. 9.000. Lalu menuju Trawangan, harganya sebesar Rp. 10.000.

Karena menunggu hingga jam 2 saya rasa terlalu lama, maka saya memutuskan untuk pergi ke Gili Trawangan terlebih dulu. Tak perlu menginap, cukup menghabiskan waktu hingga jam 3 sore. Karena ada kapal dari Trawangan yang akan menuju Meno pada jam itu, harga tiketnya sebesar Rp. 20.000.

Setelah saya, ada serombongan perempuan berdarah timur tengah yang memborong tiket. Akhirnya kuota terpenuhi. Semua penumpang menaiki kapal kayu berukuran sekitar 20 meter itu. Di bagian atas kapal, ada puluhan pelampung berwarna oranye tergantung. Entah kenapa, melihat pelampung itu, bukan rasa tenang yang di dapat, malah bikin deg-degan. Memang seharusnya pelampung disimpan di tempat yang tersembunyi saja.

 Di dalam kapal ada berbagai tipologi penumpang. Ada sepasang suami istri bule yang membawa anak mereka, baru berumur beberapa bulan. Ada juga para pekerja yang akan mengadu nasib di Trawangan. Hingga penduduk lokal yang habis kulakan barang dagangan di Lombok.

Dari Bangsal menuju Trawangan ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ombak tak seberapa besar, walau cukup menggoncang adrenaline. Tapi tak separah guncangan rodeo boat yang pernah saya tumpangi dari Kalianget menuju pulau Sapudi, beberapa tahun silam bersama Ayos, Putri, dan Nurul.

Trawangan Yang Mirip Ibiza

Hup!

Saya meloncat dari kapal kayu menuju air yang bening serupa kristal. Pasir putih mulai menggoda saya untuk bergulingan. Tapi nanti dulu. Ditahan. Di Trawangan banyak kapal merapat. Saya lalu berjalan ke arah kanan (entahlah itu ke arah utara, selatan, timur, atau barat, saya buta arah). 

Trawangan mirip seperti Bali dalam skala lebih kecil. Pulau ini lebih cocok disebut sebagai kota ketimbang pulau. Nyaris segalanya ada disini. Hostel, hotel, bar, klub malam, tempat persewaan sepeda, bahkan hingga ATM. Semua orang yang pernah dengar nama Trawangan pasti juga sudah tahu kalau di pulau ini tak boleh ada kendaraan bermotor. Karena itu sarana transportasi yang ada cuma sepeda dan cidomo (sebutan orang Lombok untuk delman).

Siang di Trawangan tak begitu riuh. Hanya penuh manusia.

“Tapi kalau malam disini rame banget mas, kayak Bali” kata seorang ibu penjual nasi campur tempat saya makan.

Saya terus berjalan ke arah kanan. Tapi pasir putih dan air laut yang jernih terus bawel. Mereka memanggil-manggil saya.

“Nuran, nuran, ayo buka baju, perlihatkan perutmu yang six-pack itu” goda mereka.

Oke, saya nyerah. Saya langsung merangsek ke arah semak, menerabas mereka untuk mencapai pantai. Menaruh tas, mengganti celana panjang dengan celana pendek, lalu langsung melompat menuju air. Hurrah!

Tapi saya tidak melepas baju. Takut dikerubungi para perempuan yang histeris melihat seksinya perut saya. Saya kesini untuk menyepi, bukan untuk dikerubungi perempuan (lagi), hehehe.

Setelah saya sedikit lelah berkecipak di air dan dipanggang srengenge, saya menepi, berteduh di bawah sebatang pohon kapuk berukuran lumayan besar. Melihat para manusia yang berseliweran. Di pulau, yang kata mas penjaga rental sepeda, sudah mirip Ibiza. Apalagi di malam hari.

“Saya pernah ke Gili Air, suara musik dari sini terdengar sampai sana mas” katanya menjelaskan. Saya cuma tersenyum kecut. Ditambah saya tak tertarik untuk merayakan hidup dalam keramaian. Karena bagi saya, sunyi sepertinya jauh lebih menarik. Setidaknya saat ini.

Saya mengeluarkan buku, membaca di bawah teduh rindang batang pohon kapuk sembari terkantuk-kantuk. Jam 3 masih lama…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

    • ombak nang Sapudi iku the greatest wave i’ve ever had lek :)) dadi nang trawangan iku gak sampe nggarai istighfar 😀 dolan nang lombok pas akhir pekan wae lek, kan cedek toh 😀

TINGGALKAN KOMENTAR