Menyusuri Lorong Dunia: Joyce, Bir, dan Lumpia Babi

187
“Nuran, jam berapa kira-kira kamu sampe Bonn?” tanya suara dalam telpon.

Itu mas Andy Budiman, seorang kawan dunia maya yang sekiranya akan menampung saya di Bonn. Saya bilang mungkin sekitar 20 menit lagi. Kereta saya akan berangkat dari Koln. Saya baru saja sampai Koln beberapa menit lalu, dan akan segera naik kereta menuju Bonn. Koln- Bonn tak begitu jauh. Bisa ditempuh dengan kereta selama 15-20 menit saja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi langit musim panas di Bonn masih benderang. baru saja gerimis usai. Saya turun dari kereta dengan carrier yang tampak makin menggembung. Udara dingin. Saya merapatkan jaket jeans. Di saat seperti ini saya mengutuk kecerobohan diri. Mengira musim panas di Eropa adalah nihil hujan dan dingin.

Mas Andy gampang dikenali. Badannya tinggi, tegap, dan sedikit tambun di bagian perut. Wajahnya ceria. Senyumnya selalu terkembang. Matanya sedikit sipit, dan ia memakai kacamata. Saya kenal dia dari jejaring pertemanan antar kontributor di Jakartabeat. Mas Andy adalah kawan dekat mas Yus Ariyanto dan mas Philips Vermonte, yang juga dekat dengan saya. Begitu tahu saya sedang ada di Jerman, ia menawarkan mampir. Selain itu, sebagai pecinta makanan enak, ia juga memberi beberapa saran bertahan hidup di Jerman yang makanannya –konon– merupakan makanan paling tidak enak sedunia.

“Hoiii Nuran” teriak mas Andy dari kejauhan. Ah, rupanya saya juga gampang dikenali.

Mas Andy tak sendiri. Ia membawa kawannya, dua orang perempuan yang sepertinya seumuran. Saya berkenalan dengan mereka. Yang berambut pendek dan memakai topi bernama Mbak Ayu. Ia suka sekali tertawa. Lalu yang gopoh ingin membeli tiket pulang ke Munich bernama Mbak Dina. Ia berambut panjang keriting. Malam itu ia kangen suaminya.

“Duh, pokoknya gue harus pulang besok. Gue udah kangen laki gue” katanya sembari sibuk membeli tiket pulang di mesin penjual tiket.

Saya hanya tersenyum. Apalagi setelah mendengar guyonan mas Andy dan Mbak Ayu yang memprovokasi Mbak Dina agar jangan buru-buru pulang.

“Mau kemana ini enaknya? Ngebir di Joyce?” tanya mas Andy. Mbak Ayu mengiyakan. Saya dan Mbak Dina yang tamu jelas ikut apa kata tuan rumah.

Lalu kami melangkahkan kaki menuju tempat minum bir yang disetujui. Bonn kota kecil. Penduduknya hanya sekitar 324 ribuan. Meski begitu, kota yang dibelah oleh sungai Rhine ini sempat menjadi ibu kota Jerman Barat mulai tahun 1949 hingga 1990.

Bonn memiliki beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi turis. Yang paling banyak dikunjungi tentu rumah kelahiran musisi klasik besar, Ludwig van Beethoven. Rumah itu sekarang dijadikan museum.

“Eh, kayaknya penuh deh” celetuk mbak Ayu sembari celingukan di pintu Joyce yang tadi disebut.

Joyce yang dimaksud ternyata sebuah bar Irlandia. Irish Pub. Nama lengkapnya: James Joyce Irish Pub. Gambar di plangnya adalah seorang lelaki dengan kacamata bundar, memakai jas berkancing dua, bertopi, memakai sepatu pantofel, menyilangkan kaki, dan memegang tongkat di tangan kanannya. Sepertinya itu potret dari James Joyce, sastrawan yang masyhur dengan Ullyses.

Saya ikut melongok ke dalam. Benar, penuh. Orang-orang duduk sembari bercengkrama. Pelayan berseliweran membawa baki berisi gelas-gelas besar bir. Setelah memastikan bahwa tak ada tempat lagi, kami beranjak pergi ke pusat kota. Ada bir yang enak disana, kata mas Andy. Selaku tamu, lagi-lagi saya cukup mengiyakan.

Mas Andy tidak berdusta. Birnya enak. Rasa pahitnya tak begitu kentara. Dan yang paling penting: baru dua tiga teguk, kepala saya langsung sedikit pening. Saya merasa seperti terangkat-angkat. Kepala berasa goyang.

Sepertinya saya bakal tidur nyenyak malam ini…

                                                                                    ***

Dunia, atau mari bilang takdir, punya cara khusus untuk mengembalikan kenangan yang mungkin sudah lama minggat dari benak.

Beberapa jam lalu saya bertemu dengan Wana dan Kinkin, dua orang traveler dari Jogja. Wana adalah penggagas majalah Travelist, media traveling dua bulanan yang di share gratis di dunia maya. Sedang Kinkin adalah sahabatnya yang kebetulan suka traveling. Mereka sedikit banyak mengingatkan saya pada Ayos dan Putri, dua orang sahabat saya yang juga sama-sama pecandu jejalan.

Kinkin memberi saya buku “Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2” karya Sigit Susanto. Buku ini menceritakan traveling dari sudut pandang yang berbeda. Sang penulis selain traveler, adalah pecinta sastra. Tujuan perjalanannya kebanyakan ke tempat yang berkaitan dengan dunia sastra.

Dalam buku jilid 2 itu, di bab pertama, ia bercerita kalau ia tanpa sengaja “tersasar” ke sebuah gedung di Zurich, Swiss, yang ternyata merupakan sekretariat Yayasan James Joyce.

Sang sastrawan legendaris itu ternyata meningalkan banyak kesan dan jejak. Bahkan ada sebuah pub di Zurich yang diberi nama sama dengan sang sastrawan asal Dublin, Irlandia itu. Dalam pub itu biasanya diadakan diskusi membahas karya-karya Joyce. Mungkin sama dengan James Joyce Pub di Bonn. Atau malah mereka adalah satu jaringan waralaba? Entahlah.

Membaca cerita petualangan Sigit ke gedung Yayasan James Joyce itu melanglangkan ingatan ke Bonn. Padahal sudah nyaris setahun saya meninggalkan Bonn. Di kota kecil itu pun saya tak tinggal lama. Hanya 3 hari 2 malam saja. Selain ingat Joyce Irish Pub, keramahan kawan-kawan baru: mbak Dina, Mbak Ayu, dan seorang kawan perempuannya (asal Indonesia juga) yang saya lupa namanya, saya tentu teringat dengan kebaikan mas Andy.

Dan juga keisengannya…

                                                                                        ***

Suatu sore yang hangat di beranda apartemen mas Andy, pria lulusan Unpad itu menyodorkan sepiring lumpia hangat berukuran kecil. Uap masih mengepul. Warna lumpianya sempurna, emas kecoklatan.

“Baru beli kemarin dari bazaar” katanya singkat.

Tanpa babibu, saya sikat lumpia itu. Dengan cocolan saus berwarna coklat, lumpia itu makin menjadi rasa lezatnya. Kulitnya garing. Isi dalamnya berupa cacahan daging dengan rasa gurih. Daging sapi sepertinya. Seingat saya, 4 potong lumpia masuk dalam perut dengan tenang dan nyaman.

Beberapa menit setelahnya, sembari mengaso, mas Andy bertanya, “Nuran, kamu gak masalah kan makan lumpia tadi?”.

“Ha? Maksudnya?” saya balik bertanya. Tidak paham dengan maksud pertanyaan mas Andy.

“Iya, lumpia tadi itu isinya daging babi” kata mas Andy tenang.

Saya terperanjat kaget! Tapi lumpia sudah tergilas oleh usus, masuk dalam lambung. Saya hanya bisa mengumpat sembari tertawa-tawa. Sialan. Hahaha.

“Aku pikir kamu gak ada masalah sama halal haram” sambung mas Andy, lebih tenang dari sebelumnya. Mukanya jahil sekali. Saya hanya bisa tertawa lebih keras.

Ah, lumpia babi dan bir? Dosa saya di Bonn tampaknya jauh lebih banyak ketimbang dosa saya selama 10 tahun di Indonesia. Hahaha. Kelak tragedi lumpia babi ini akan diceritakan ulang pada mas Yus dan mas Philips. Dengan segera, kisah ini menjadi klasik.

Sama klasiknya seperti Ullyses atau A Potrait of The Artist as a Young Man mungkin?

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR