New Day Rising*

215
Ketika sedang berada dalam middle age, masa remaja yang labil, ada beberapa hal yang akan membuat langitmu serasa runtuh. Misalnya: kamu diselingkuhi? Atau pacarmu tiba-tiba meninggalkanmu untuk menikah dengan pria yang jauh lebih mapan? Atau diputus secara sepihak? Itu kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja kalau kamu memilih untuk berpacaran. 
Lalu apa selanjutnya? Kalian bisa menangis merengek sembari berharap sang pacar tidak meninggalkan kalian. Bisa juga bunuh diri mumpung obat nyamuk murah harganya. Atau menulis racauan galau di socmed dan memelihara dendam tetap menyalang. Tapi untuk para pejalan, jika galau cinta melanda, wajib hukumnya untuk mengenyahkan galau via traveling.
Bermula dari perbincangan absurd di twitter, akhirnya tercetus ide mengenai destinasi yang pas untuk dijadikan tempat untuk move on. Tempat itu bisa kota, ataupun obyek daya tarik wisata. Ada 5 orang yang akan menulis destinasi favorit mereka untuk melarung duka dan galau. Tiap penulis mendapat jatah 2 tempat. Jadi total ada 10 tempat yang bisa jadi referensi ketika kamu terserang gundah karena cinta.
1. Gili Meno


Almanak 2012 baru saja berjalan 2 bulan, saya sudah mengalami salah satu periode berat dalam hidup. Ada beberapa pilihan bagi saya dalam menghadapi masalah ini. Tapi saya memilih yang membuat saya paling tenang: traveling. Dengan memanggul ransel berisi tenda, misting, kompor, dan sleeping bag, saya mengarahkan motor ke arah timur, pergi ke pulau Lombok.
Lombok dikenal punya banyak pantai bagus. Dan sekarang 3 Gili (Air, Meno, dan Trawangan) menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Lombok. Bagi yang suka keramaian, hilangkan duka lara kalian di Gili Trawangan, pulau kecil yang mirip Ibiza. Ada bar, cafe, restoran, dan segala macam tempat yang menawarkan kenikmatan surgawi. Keramaian tak pernah lindap. Selalu ada, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Tapi saya enggan membuang galau di tempat ramai. Membuang galau di tempat ramai itu hanya bersifat tentatif, sementara. Maka saya mengalihkan tujuan ke Gili Meno, pulau terkecil sekaligus yang tersepi diantara 3 gili itu. Saya mendirikan tenda di bibir pantai. Bermain bola dengan anak-anak lokal. Mengobrol dengan penduduk setempat. 
Ketika malam tiba, pantai gelap sekali. Tidak ada penerangan. Tapi untung saat itu sedang bulan purnama. Saya buka pintu tenda, dan jadi sedikit terang. Saat-saat sepi seperti itu , saya seketika langsung berpikir “asu, laopo aku nang kene cuuuk? Dewean maneh”. Tapi sumpah, itu saat-saat paling menenangkan dalam hidup saya. Tak ada suara manusia, tak ada suara apapun. Di depan ombak berkejaran.  Di saat seperti itu lah, saya mulai berkontemplasi mengenai banyak hal tentang hidup. Juga tentu saja apa yang akan saya lakukan selepas pulang dari Gili Meno.
Ketika pagi datang, saya buka tenda: air laut yang biru menghampar. Tinggal buka baju, langsung nyemplung. Mandi sepuasnya. Kalau sudah capai, tinggal menyeduh air untuk kopi. Setelah kopi habis, hamparkan matras untuk tiduran di bawah pohon cemara udang. Siang, bangun, diajak makan di restoran yang dikelola oleh seorang penduduk lokal yang berkenalan dengan saya. Gratis. Setelahnya, snorkeling menjadi pilihan yang menyenangkan.
Total saya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Di malam terakhir, saya dan kawan-kawan baru disana minum bir sembari bermain gitar. Saya tidur nyenyak, dan bangun dengan hati yang jauuuh lebih lega. Galau sudah saya larung di lautan. Yeah.
2. Yogyakarta

Salah satu lagu pop terbaik tentang Indonesia adalah “Yogyakarta” milik Kla Project. Tentu sebelum lagu magis ini dirusak oleh band warna janda yang memainkan lagu ini tanpa penjiwaan sama sekali. Fakk yuu.

Yogyakarta selalu jadi tempat yang menyenangkan untuk saya. Selalu ada sudut dan lorong untuk melepas penat. Termasuk galau. Menghabiskan waktu di Kaliurang sembari melihat Merapi, menelusuri pantai-pantai di Gunung Kidul, menyelusup di Pasar Beringharjo, berburu kaset bekas di pojokan, berbelanja di Malioboro, menyantap gudeg tengah malam, ngopi di angkringan, berburu buku dan majalah bekas di Shopping, atau mencoba peruntungan di beringin kembar. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meleburkan galau di udara. Saya sendiri bersyukur sejak September tahun lalu, berkesempatan tinggal di kota berhati nyaman ini. Dan menjelajah Yogya adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi saya.
Lagu “Yogyakarta” sendiri tidak hanya bercerita mengenai keindahan Yogya. Tapi juga tentang rasa kehilangan. Katon bernyanyi dengan lirih, getir, tapi sekaligus tak menangisi kehilangan. Sedang Lilo dan Adi meramu musik dengan bersahaja tapi tetap begitu nyaman di dengar. Mereka menunjukkan bahwa kehilangan tak harus disikapi dengan sedu sedan. Ada banyak cara untuk terus melangkah.
Percayalah…
Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…

Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

post-scriptum: Dua destinasi ini ditujukan untuk tulisan kolaborasi antara saya, Dhani, Awe, Kinkin, dan juga Farchan. Kami sepakat untuk masing-masing menulis dua destinasi yang pas untuk dijadikan tempat untuk move on. Melangkah dari masa lalu dan beranjak ke masa depan. Tulisan lengkapnya nanti bisa dilihat di situs Hifatlobrain.net.

*Baidewai, “New Day Rising” adalah judul lagu dari Husker Du, yang seakan memberi semangat bagi kita untuk memulai hari yang baru.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

7 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR