Untuk Wido

107
Senin pagi itu, almanak 2004 mendekati saat dilepas dari dinding. Saya sudah duduk di kelas 3 SMA. Masuk di kelas 3 IPS 2. Para murid sudah bergerombol di lapangan, bersiap upacara bendera. Yang tak punya topi ribut bagaimana cara menghindar dari upacara bendera. Yang sepatunya tidak hitam sudah memikirkan cara bagaimana melesat meninggalkan gelanggang upacara.

Tepat jam 7 pagi, upacara bendera dimulai. Saya duduk-duduk di bagian belakang bersama beberapa orang kawan. Malas mendengarkan pidato guru. Setelah beberapa menit melakukan pidato, tiba-tiba ocehan retoris sang kepala sekolah terhenti.

“Itu siapa yang di kelas IPA 3?” tanya beliau sembari menunjuk kelas yang terletak dibelakang barisan murid. Sontak, para murid menoleh ke belakang.

“Ayo keluar kesini” kata bapak itu lagi. Suasana hening mulai terpecah oleh desusan ratusan murid peserta upacara.

Tak ada jawaban, dan tak ada yang keluar.

“Itu ada yang tengak-tenguk (celingukan) di jendela. Coba wali kelas IPA 3, jemput yang tengak-tenguk itu” perintah kepala sekolah pada pak Sandy, wali kelas IPA 3.

Suasana lalu tambah riuh oleh tawa yang tertahan.

Setelah Pak Sandy masuk kelas, beberapa saat kemudian keluarlah dua orang bromocorah kelas 3 IPA 3: Wido dan Bendol.

Tawa yang ditahan meledak sudah. Pak kepala sekolah tak bisa menahan tawa juga. Ia cuma geleng-geleng kepala melihat dua orang berbadan subur yang keluar dari kelas dengan cengengesan.

Wido dan Bendol ini sering dianggap sebagai saudara kembar. Badannya sama-sama tambun, suka bercanda dan memancing tawa. Mereka berniat tak ikut upacara karena tak punya topi dan malas. Jadi mereka ngumpet di kelas.

“Dadi ceritane ngene Ran (jadi begini ceritanya Ran)” kata Wido memberitahu saya jejak historis cerita tolol itu.

Awalnya mereka berdua santai di dalam kelas. Ternyata upacara berjalan lebih lama ketimbang biasanya. Mereka bosan. Lalu mulai mondar-mandir. Bendol lantas menengok ke jendela, mencari tahu apa yang membuat upacara berjalan lebih lama ketimbang biasa.

Nah, saat kepala Bendol terjulur, saat itulah Pak Kamil, kepala sekolah kami (Rest In Peace, sir), melihat kepala Bendol.

Ketika Pak Kamil menyebut ada orang yang tengak-tenguk, Bendol dan Wido panik. Mereka disuruh keluar, tapi mereka mengacuhkan perintah Pak Kamil. Karena takut dan malu tentu saja. Akhirnya mereka keluar setelah dijemput oleh Pak Sandy.

“Jet Bendol iki, tengak tenguk barang! (Bendol itu sih, pakai celingukan segala)” kata Wido sembari tertawa keras ketika bercerita kejadian beberapa tahun silam itu.

Saya lupa bagaimana akhirnya, yang pasti suasana upacara jadi lebih meriah dengan tawa pagi itu.

                                                                         ***

Arif Sandi nama lengkapnya. Bendol adalah nama panggilannya. Bendol ini bahasa Jawa yang berarti bengkak. Mungkin Arif dinamakan Bendol karena badannya yang besar dan tambun. Kulitnya legam, cara bicaranya sering diimbuhi dengan tawa pelan. Kalau ia bicara serius, ia selalu menambahkan kalimat “Iyo kan? Iyo ta gak?” seakan mencari persetujuan.  Saya dua kali sekelas dengannya, kelas 1 dan 2.

Wido Arisandi adalah murid pindahan tahun 2003, waktu itu saya baru masuk kelas 1. Semester 2 baru saja dimulai. Di kelas 1.6 ada murid pindahan dari Bondowoso. Dia Wido. Badannya lebih besar ketimbang Bendol. Dan dia lebih kocak ketimbang Bendol.

Menginjak kelas 3 akhirnya mereka bareng, dan menjadi sahabat akrab. Partner in crime. Karena saya masuk kelas IPS, saya jarang nongkrong bareng mereka. Hanya sesekali saja membolos bareng. Tak banyak kisah kocak nan absurd yang bisa saya ceritakan. Yang saya ingat hanya beberapa, termasuk kisah paling lucu yang saya ceritakan diatas, dan kisah ini:

Kalau kalian masih ingat pelajaran olahraga, ada praktek lompat jauh. Dimana kalian berlari dari start, lalu di titik tolak kalian harus melompat sejauh mungkin.

Nah, Wido seringkali dijadikan bahan lelucon kalau praktek lompat jauh tiba. Kawan-kawan satu kelasnya biasanya berdiri di samping arena pasir tempat mendarat. Nah, ketika Wido mulai berlari (tentu dengan tawa, karena ia tahu apa yang bakal terjadi), kawan-kawannya sudah mulai menggoyangkan badan: pertanda bahwa gempa kecil mulai terjadi. Ketika Wido melompat, hupp, lantas mendarat, bruuukk, anak-anak itu merobohkan diri, bergelimpang kesana kemari, seakan-akan gempa besar terjadi. Lalu meledaklah tawa kawan-kawan sekelasnya.

Hahaha.
                                                                           ***

2005 adalah tahun kelulusan kami. Sudah 7 tahun berlalu semenjak kami memegang ijazah dan mulai menempuh jalan hidup masing-masing. Sesekali kami masih berkumpul bersama, mengenang masa muda yang begitu penuh semangat dan tak punya beban.

Bendol sekarang sudah sukses. Dia jadi pemilik warung makan yang cukup terkenal di daerah kampus Universitas Jember. Ia merintis dari awal warungnya. Sejak tahun 2006 warung itu dibuka. Sekarang makin laris dan makin beragam menunya. Ketika kapan hari berkunjung kesana bersama seorang kawan, saya tak dibolehkannya membayar.

“Sing penting kan iso ketemu karo awakmu Ran, iso ngobrol-ngobrol, suwi gak ketemu (yang penting kan bisa ketemu kamu Ran, bisa ngobrol, lama gak ketemu)” ujarnya dengan senyum manis. Asoy.

Sedang Wido menikmati hidup dengan bekerja sebagai tenaga keamanan di sebuah perusahaan gas. Ia hidup tenang dengan 1 orang istri dan 2 orang anak. Itu yang saya tahu sih. Soalnya Wido suka mencari calon istri muda, hahaha.

Beberapa malam lalu saya ditandai dalam sebuah foto oleh Wido. Ternyata itu foto Wido dan Bendol yang menghabiskan malam Minggu di Alun-alun Jember setelah bermain bilyard. Senyum mereka tersungging. Sedikit bisa dibilang cengengesan.

Cengenges yang masih saya ingat ketika mereka digiring keluar dari kelas, 8 tahun lalu 🙂

                                                                       ***

Hari ini Wido mengulang hari lahir. Dari kalender di facebook, umur Wido konon baru 26 tahun. Saya tidak percaya. Wajahnya jelas menunjukkan kalau ia lahir –paling tidak– 29 tahun yang lalu.

Tapi berapapun umurnya, saya senantiasa mendoakan yang terbaik untuk kawan baik saya itu. Semoga sehat selalu, rejeki mengalir lancar, jadi bapak yang  baik dan sabar bagi anak-anakmu, suami yang setia bagi istrimu, dan kawan yang solider terhadap karibmu.

Proficiat!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR