Melanglang Via Musik

175

Dalam sebuah kisah perjalanannya, Jack Kerouac, sang flaneur itu, berkali-kali bercerita mengenai kegilaannya terhadap jazz. Dalam kisah perjalanannya melintasi Amerika, ia mengalami kecanduan jazz. Ia bercerita mengenai kultur jazz di New Orleans, jam sessions, pesta jazz liar, dan segala imajinasi tentang jazz.
Salah satu pasase yang paling saya ingat adalah ketika Jack menceritakan sebuah jam session yang liar, yang ia gambarkan sebagai “…Slim sits down at the piano and hits two notes, two Cs, then two more, then one, then two, and suddenly the big burly bass-player wakes up from a reverie and realizes Slim in playing C-Jam Blues  and he slugs in his big forefinger on the string and the big booming beat begins and everybody starts rocking and Slim looks up just as sad as ever, and they blow jazz for half an hour, and then Slim goes mad and grabs the bongos and plays tremendous rapid Cubana beats and yells crazy things in Spanish, in Arabic, in Peruvian dialect, in Egyptian, in very language he knows, and he knows innumerable languages…”
Dari kalimat panjang itu, kita tahu bahwa Jack sedang berpergian di Amerika, tapi musik yang dimainkan mengajak imajinasinya melanglang ke seluruh dunia. Dari irama Kuba, teriakan orgasmik dalam berbagai bahasa: Spanyol, Arab, Peru, bahkan Mesir. Dalam adegan gila itu, tampak jelas bahwa musik bisa menerabas segala sekat kebangsaan. Bahwa ternyata semua jenis manusia bisa dijadikan satu dalam irama musik?
Jack Kerouac menggambarkan kisah perjalanannya yang memikat itu dalam On the Road. Disana ia juga menceritakan tentang traveling through music. Jack sadar bahwa musik –bisa jadi– adalah salah satu pencapaian peradaban tertinggi suatu bangsa. Karena itu, berbicara musik adalah juga berbicara  mengenai manusia dan segala peradaban yang melingkupinya.
Musik juga melangkahi ruang dan waktu. Dalam banyak literatur, diceritakan bagaimana babad musik blues bermigrasi dari daratan Afrika menuju Amerika. Dari panasnya gurun pasir dan dataran tandus, menyebrang ke hilir sungai Mississippi yang teduh dan sepoi. Musik itu dibawa dan dimainkan oleh para budak kulit hitam. Blues menceritakan tentang penderitaan, kepedihan, juga rindu akan kampung halaman.
Blues lantas bergerak lagi ke segala arah. Ke New Orleans menjadi jazz. Lalu bergerak lagi ke Chicago, menjadi electric blues. Lalu berdiaspora ke tempat lain. Menjadi anak yang kelak bertumbuh besar dan punya identitas sendiri.
Lalu kenapa Jack juga menuliskan tentang musik jazz dalam kisah perjalanannya? Apakah tak cukup ia becerita saja mengenai birunya langit atau hijaunya daun? Atau tips traveling murah dan hidup menggembel?  Bisa jadi, karena Jack sadar bahwa traveling bukanlah melulu dongeng tentang keindahan. Traveling juga (seharusnya) berkisah tentang peradaban, manusia, dan juga kebudayaan. Dalam kasus ini, kebudayaan jelas diwakili dengan musik. 
Lalu kenapa jazz? Karena jazz adalah Amerika. Ia dianggap sebagai musik identitas Amerika. Hasil peleburan antara budaya Afrika dan Eropa yang lahir dan tumbuh di Amerika. Ditambah lagi, Jack menyukai jazz. Semua itu lantas diramu menjadi karya yang kelak jadi legendaris dan dianggap sebagai salah satu travelogue terbaik sepanjang masa, On the Road.
***
Saya lupa sejak kapan mulai mengamati musik ketika sedang melakukan perjalanan. Seingat saya, ketika pertama kali berjalan sendirian, saya sudah menikmat dan mengamati musik. Apalagi kalau anda sama seperti saya, yang lebih sering menggunakan moda transportasi murah seperti bis ekonomi dan kereta kelas kambing. Moda transportasi macam itu memang secara naluriah selalu mengundang para musisi jalanan untuk beraksi. Entah itu yang benar-benar bermain musik, atau sekedar genjrang genjreng plus mumbling.
Semenjak saya punya handphone dengan fitur musik, saya tak pernah melepaskan barang itu dari gengggaman. Ditambah dengan headset, maka saya menikmati musik yang seringkali saya pilih dengan seksama agar pas dengan suasana ketika traveling. Pada tahun 2009, saya pernah menuliskan sebuah e-book bersama seorang kawan. Selain kisah perjalanan, saya juga menambahkan rubrik “Backpacker Tunes” disana. Isinya adalah lagu-lagu yang menemani kami di sepanjang perjalanan.
Sayangnya, saya tak memasukkan lagu daerah disana. Pun, saya asing dengan musik daerah. Ini adalah kesalahan saya.
Kalau saja saya mau sedikit jeli, Indonesia juga punya identitas musik daerah. Lupakan sejenak mengenai lagu-lagu daerah tradisional. Mari kita berbicara musik tradisional kontemporer sejenak.
Kalau anda berpergian ke daerah pantai utara, kuping anda pasti –iya, pasti– akan dijejali oleh musik-musik dangdut koplo. Kalau anda pergi ke daerah Banyuwangi, anda akan sering mendengar musik Using kontemporer. Kalau mengemasi ransel dan melangkah ke Madura, anda akan menemukan kisah-kisah manusia dan segala permasalahannya dalam lagu berirama dangdut modern yang dinyanyikan dalam bahasa Madura.
Saya pernah pergi ke Madura  beberapa tahun silam. Di sebuah pasar malam dadakan di alun-alun Sumenep, kawan saya ngotot mencari lapak VCD bajakan. Ternyata dia ingin membeli rekaman khas musik Madura. Sekali lagi, bukan musik Madura tradisional. Melainkan musik Madura kontemporer. Musik yang diberi sentuhan dangdut pop, dan dinyanyikan dengan bahasa daerah mereka.
Salah satu penyanyi yang saya ingat dari VCD yang dibeli oleh kawan saya itu, adalah seorang penyanyi bernama Sukkur. Ternyata ia cukup kondang, terutama di kawasan Madura dan sekitarnya. Ia mempunyai banyak lagu yang cukup digemari. Sebut saja “Alenklenk”, “Marlena” dan beberapa yang lainnya.
Lagu Madura ternyata cukup nyaman didengar. Apalagi liriknya sangat dekat dengan keseharian. Saya tak tahu apakah sudah ada peneliti yang mengamati eratnya kaitan antara musik dan cerita keseharian. Tapi dari pelajaran semasa kuliah di Fakultas Sastra, saya memahami bahwa ada reciprocal, sebuah hubungan yang tak bisa dielakkan dan saling mempengaruhi, antara sastra dan dunia nyata. Karya sastra pasti dipengaruhi oleh lingkungan tempat sang pengarang hidup, dan karya sastra itu juga bisa mempengaruhi lingkungan para pembaca.
Mungkin sama kasusnya dengan musik-musik Madura yang dibeli oleh kawan saya itu (dan sepertinya hal yang sama terjadi di musik lain). Ada sebuah hubungan erat antara hidup keseharian dan musik lokal. 
Simak saja lagu “Marlena” dari Sukkur. Disana ia berkisah dengan romantis dan sedikit merayu, Marlena/dika mace’ raddina/eabasa dari dimma/dika cek sampornana. Disana mungkin kita bisa lihat bagaimana kultur merayu masyarakat Madura yang sepertinya tak jauh beda dengan kultur masyarakat Melayu, sedikit mendayu dan hiperbolis. 
Atau simak juga lagu “Abini Due”, yang dalam arti harfiahnya adalah “Beristri Dua”. Disana ada dua penyanyi: laki dan perempuan. Sang lelaki mengeluh, kenapa hanya beristri satu. “padana mano’ le’ e dalam korong” katanya. Lalu sang istri membalas dengan ketus “pajhat reng lake’, ngalak nyamanna dibi’“.
Disini kita bisa melihat bagaimana –ini dugaan iseng saya semata– kisah beberapa pria patriarkis –yang kebetulan berbahasa Madura– yang ingin beristri dua dan ditentang oleh sang istri yang menganut falsafah Madura “lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata“, yang artinya lebih baik putih tulang ketimbang putih mata. Peribahasa ini dimaknai sebagai lebih baik mati ketimbang hidup menanggung malu. 
Falsafah itu memang lebih sering diasosiasikan dengan budaya carok. Tapi keyakinan “lebih baik mati ketimbang hidup menanggung malu” juga layak disematkan terhadap para perempuan yang dengan keras menolak poligami. Mereka menolak untuk dimadu. Bagi mereka, dimadu adalah sebuah aib. 
Selain contoh yang saya ceritakan diatas, jelas masih banyak lagi contoh lain yang bisa kalian temukan di daerah yang  kalian kunjungi. Kalau kalian berpergian ke suatu tempat, usahakan cari VCD musik lokal. Cari musik tradisional kontemporer, musik yang bercerita mengenanai kekinian, tapi dinyanyikan dalam bahasa daerah. Biasanya, musik-musik macam ini erat dengan ritus keseharian masyarakat lokal.
***
Singkat cerita, VCD berisi lagu-lagu Madura itu pun diboyong pulang ke Surabaya, tempat sang kawan tinggal. Ketika saya iseng-iseng menengok back-sleeve, saya melihat sebuah logo label. “Ainun Aula Records”. Saya merasa pernah melihatnya. Saya mengingatnya dengan keras, dimana saya pernah melihat logo itu.
Sial! Itu adalah logo perusahaan rekaman di kota Jember, kampung halaman kami berdua! Dan kami tak pernah sadar akan hal itu. Ah, kami memang bukan pejalan dan pengamat yang baik… []
Post-scriptum: beberapa kalimat dalam bahasa Madura memang sengaja tidak diartikan. Jika ingin tahu apa artinya, silahkan mencari tahu sendiri. Tulisan ini dibuat dalam rangka menulis untuk majalah The Travelist edisi 6 yang bertema Traveling Through Music. Majalah keren ini bisa diunduh cuma-cuma di sini. Oh ya, majalah kece ini juga baru saja merayakan hari lahir yang pertama. Sukses terus buat kalian, let’s get lost!
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR