Mix-tape: We’re Not Hipster(s)!

200

Tak semua penulis di Jakartabeat adalah hipster dan elitis yang menyukai band-band yang namanya saja susah dihafal –apalagi dimengerti musiknya. Ada beberapa penulis yang suka dengan musik orang kebanyakan. Saya dan Fakhri Zakaria mungkin salah duanya.
Saya menggemari musik hair metal yang sempat menjadi perwakilan industri musik arus utama circa 80-an. Sedang Jaki –panggilan akrab Fakhri– menggemari musik pop mainstream macam Padi atau Sheila on 7 dan juga indie pop macam Pure Saturday atau Bangkutaman.
Karena merasa memiliki kesamaan dalam hal menyukai musik arus utama, dan dengan sadar menolak tudingan hipster, kami berdua sepakat untuk berkolaborasi dalam menyusun mix-tape. Daftar lagu ini adalah heavy rotation kami belakangan. Ada 8 lagu yang kami susun, semua ghalib mengalun dalam pemutar musik kami: pagi siang malam. Penyusunan mix-tape ini sedang menjadi ritual rutin para penulis di Jakartabeat yang diusung dengan nama Occupy Jakartabeat.
“Gontai” – ROXX
Salah satu track heavy rotation sejak beberapa minggu lalu. Album self-titled Roxx memang begitu berbahaya. Nyaris tak ada komposisi yang tidak berhulu ledak tinggi. Salah satunya adalah track ini, one of my favourites. Bagi saya, struktur lagu ini begitu mirip dengan “Rocket Queen” kepunyaan Guns N’ Roses. Yang sedikit berbeda mungkin kalau “Rocket Queen” bercerita mengenai hubungan pria dan wanita, lagu “Gontai” bercerita mengenai kisah segerombolan pemuda yang dianggap tak punya masa depan. Bagian awal bercerita tentang dunia yang “gelap”. Lalu dipungkasi dengan lorong yang berakhir dengan cahaya terang di depan. Jikalau lagu “Rocket Queen” punya solo gitar penutup yang indah, Roxx pun demikian. Simak baik-baik solo gitar menjelang akhir lagu. Itu salah satu solo gitar terbaik musik rock Indonesia. (Nuran Wibisono)
“Neraka Jahanam” – Boomerang cover
Boomerang terkenal sering meng-cover lagu. Mulai “Neraka Jahanam” milik Duo Kribo, “Berita Cuaca” dari Gombloh, sampai “Kisah Seorang Pramuria” dari The Black Brothers dan “Hidupku Sunyi” punya The Mercys. Hebatnya, tidak ada yang mengecewakan. Dan “Neraka Jahanam” adalah yang terbaik. Kredit khusus untuk isian gitar dari gitaris mereka, John Paul Ivan. Sukses membuat lagu ini terdengar lebih seram. Lebih jahanam. (Fakhri Zakaria)
“Community Property” – Steel Panther
Tak disangsikan lagi, Steel Panther adalah band penerus kejayaan hair metal dari Sunset Strip yang disebut sebagai penerus kejayaan hair metal dari Hollywood, memegang tongkat estafet dari Motley Crue, Poison, dan juga Guns N’ Roses.  Kuartet binal ini menyajikan musik metal dengan unsur bersenang-senang ala hair metal yang tak pernah lekang waktu. Album kedua mereka yang dirilis tahun 2009, Real Steel, mendapat sambutan meriah. Pada album itu, banyak musisi lain yang ikut berpartisipasi. Mulai Justin Hawkins dari The Darkness, M. Shadows dari Avenged Sevenfold, hingga Scott Ian dari Anthrax yang memainkan gitar di lagu “Asian Hooker”. Sedangkan “Community Property” adalah lagu cinta (seharusnya saya memberikan tanda petik pada kata cinta) yang akan membuat kalian terbelalak, terutama yang mendefinisikan cinta sebagai puisi-puisi Kahlil Gibran. Dan kalian akan memaki setelah tahu apa yang dimaksud sebagai “community property” itu. (Nuran Wibisono)
“Gang Bang Glam Rock” – Sangkakala
Diambil dari EP mereka, Macanista, yang merupakan bootleg penampilan mereka di Taman Budaya Yogyakarta dua tahun silam. Lagu ini mengambil konsep kolase, dimana liriknya adalah gabungan dari beberapa lirik lagu band rock terkenal. Selain musiknya yang ngebut dan liar, percakapan absurd antara penonton dan orasi sang vokalis yang terekam dengan baik, membawa imajinasi kita mengembara. Seakan ikut dalam pesta panggung para macan di Yogyakarta yang penuh dengan baju atau celana loreng, rambut mullet, dan juga letusan kembang api. Meriah! (Nuran Wibisono)
“Mahadewi” – Padi
Mendengar lagu ini yang terbayang adalah sebuah band yang sudah mencapai kematangan dalam bermusik. Padahal ini adalah salah satu lagu dalam album debut sebuah band yang sebelumnya mengisi kompilasi bentukan salah satu label rekaman besar. Dari segi aransemen terlihat bagaimana Padi mampu memberi porsi seimbang untuk tiap personel. Namun alih-alih terlihat mendominasi, semua yang dikeluarkan terasa pas di telinga. Bagi saya, intro “Mahadewi” adalah salah satu intro terindah yang pernah saya dengar dari band/musisi Indonesia. (Fakhri Zakaria)
“Shadow Days” – John Mayer
Di album terbarunya, Born and Raised, John Mayer menampakkan dirinya yang seharusnya: seorang cowboy dari selatan Amerika yang tandus, lengkap dengan pengaruh musik dari Bob Dylan, Neil Young, atau David Crosby. Ia tak perlu lagi jadi playboy bermulut besar yang melemparkan kalimat flirting: your body is a wonderland. Kalau dulu ia bisa membuat para perempuan menjerit karena lirik lagu menggoda dan tatapan genit, sekarang pada “Shadow Days” ia bisa membuat perempuan –atau bahkan kaum lelaki– meleleh dengan musik yang sederhana tapi mengena dengan lick blues sendu, tatapan sentimentil, plus rambut gondrong dan jaket jeans belel-nya. (Nuran Wibisono)
“Brilliant 3 X” – Sheila On 7
Diambil dari Pejantan Tangguh, album eksperimental unit pop asal Yogyakarta ini. Sheila On 7 menumpahkan seluruh energinya dalam lagu berdurasi empat menit dua puluh satu detik ini. Sebuah pencapaian maksimal dalam karier musikal mereka. Lagu ini jadi kuncian segala kegilaan dan keliaran yang ada di album keempat dalam diskografi mereka. Sulit rasanya untuk menemukan lagu semacam ini lagi dalam katalog Sheila On 7 berikutnya. Brilliant! (Fakhri Zakaria)
“Kalian Dengarkan Keluhanku” – Ebiet G. Ade
Isu kehidupan kaum akar rumput selalu berhasil menjadi lirik penuh racun. Ada yang menelanjanginya secara blak-blakan seperti Iwan Fals, atau secara elegan. Nama Ebiet G. Ade menempati formasi yang disebut terakhir. Kalian Dengar Keluhanku berhasil memotret problem mantan pesakitan yang berusaha menghidupi anak istrinya. Dihadirkan dengan cara nan sophisticated lewat paduan aransemen dan pemilihan lirik berbahasa Indonesia yang manis namun menggigit. Saya gatal untuk mengutip nukilannya disini. (Fakhri Zakaria)
Apakah buku diri ini selalu hitam pekat?
Apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan?
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
dengan sinar mata-Nya yang lebih tajam dari matahari
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR