Rendra, Tinju, dan Tawuran

290
Ketika duduk di bangku SMP, saya punya teman sekaligus bodyguard. Namanya Rendra Dwijaya. Saya tak salah memilihnya jadi bodyguard. Pasalnya, ia adalah petinju amatir yang namanya cukup disegani di kalangan pelajar Jember. Kakaknya, Oki, sudah lebih dulu terkenal dan masuk jalur profesional.

Rendra sering ikut turnamen tinju antar sekolahan. Sering menang sehingga diutus untuk mewakili Jember dalam beberapa ajang kompetisi tinju. Karena duduk sebangku, saya hafal sekali perangai dan kebiasaannya ketika di kelas.

Selain jadi petinju dan bandar judi bola amatir, ia suka mencorat-coret buku tulis. Salah satu kalimat yang sering sekali ia tulis adalah “Hanya Pengecut Main Keroyokan”. Kalimat itu dibentuk tebal. Garis hurufnya tegas. Nyaris di setiap buku tulisnya, terpampang kalimat itu.

Saya tak paham apa maksud kalimat itu. Ia lalu menjelaskan bahwa kalimat itu adalah slogan sebuah acara tinju pelajar yang rutin ditayangkan di TVRI. Karena penasaran, saya pun menontonnya sepulang sekolah.

Rendra tak membual. Acara tinju antar pelajar SMA itu benar-benar ada. Namanya juga petinju amatir, jangan harap menemukan gaya bertinju ala profesional. Hanya baku hantam biasa. Bedanya, memakai sarung tinju dan pengaman kepala. Tapi bukan berarti pertandingan tinjunya tak seru. Sangat seru malahan. Kalau di tinju profesional, petinju kerap wait and see. Terlalu banyak pertimbangan dan kehati-hatian yang membuat penonton bosan. Kalau di tinju amatir, yang namanya pertimbangan dipinggirkan dulu. Hantam dan hantam! Karena itu, serunya jadi berlipat.
 

Seusai nonton turnamen itu, keesokannya saya ngobrol dengan Rendra. Tentang betapa serunya pertandingan kemarin, siapa petinju yang paling jago, dan kok bisa ada ide tentang tinju pelajar itu.

“Itu tinju antar SMA yang diadakan untuk meminimalisir tawuran pelajar di Jakarta” ujarnya pendek.

Rendra benar. Kalau saya tak salah ingat, di Jakarta tahun 2000-an tawuran berkurang drastis ketimbang periode 90-an. Bukan tak ada sama sekali, tapi kuantitasnya berkurang. Mungkin salah satunya karena adanya pertandingan tinju antar SMA.

Rendra juga menambahkan, turnamen ini sering diikuti oleh sekolah-sekolah yang hobi tawuran. Entah itu benar atau tidak. Toh Rendra dan saya juga tak paham SMA mana saja yang hobi tawuran.

Saya lantas mengerti kenapa Rendra begitu memuja slogan “Hanya pengecut main keroyokan”. Baginya, lelaki sejati itu harus berani berduel. Satu lawan satu. Saling hantam. Siapa yang kuat dan mentalnya lebih tangguh, ia yang terakhir berdiri. Tinju juga mengajarinya sportivitas. Ketika pertandingan usai, kalah atau menang, kedua petinju tetap bersalaman.

Ia lantas menceritakan seorang rivalnya. Kedudukan sementara antara Rendra dan sang rival adalah 2-2 dari 4 kali bertanding. Meski pernah kalah 2 kali melawannya, Rendra sama sekali tak pernah dendam pada sang rival. Malahan Rendra sering jogging bareng sang rival. Rendra juga berlatih lebih keras agar bisa mengalahkan sang rival.

“Dia tangguh. Aku pukul kepalanya berkali-kali ia masih berdiri. Pukulanku harus dilatih lagi Ran” katanya bersemangat.

Karena itu pula, Rendra benci sekali tawuran. Kebetulan ada satu SMP yang berdekatan dengan sekolah kami. Seringkali ada tawuran antara sekolah kami dan sekolah tetangga. Tapi setiap diajak,  Rendra tak pernah mau ikut.

“Mereka cuma gerombolan pengecut” ejek Rendra.

                                                                               ***

Baru-baru ini, 1 pelajar tewas akibat tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 di Jakarta. Selang sehari, ada lagi tawuran di daerah lain. Sepertinya kebiasaan era 90-an mulai berkembang lagi.

Sementara para pendidik, pengamat pendidikan, hingga ahli psikologi remaja berdebat dan berembuk tentang solusi, saya malah teringat Rendra dan turnamen tinju antar SMA. Turnamen tinju antar SMA itu sudah lama tak ada.

Mungkin menarik kalau turnamen semacam itu kembali diadakan. Cari sekolah-sekolah yang hobi tawuran, ambil pentolan-pentolannya, lantas diadu. Satu lawan satu. Berduel, baku hantam. Biar puas. Saya sih percaya dengan omongan Rendra kalau baku hantam di ring itu sama sekali tak melahirkan dendam. Walau kalah, tak ada keinginan untuk melakukan hal buruk di luar ring. Yang ada hanya keinginan untuk menang. Tentu di dalam ring.

Anggap saja petinjunya tidak dendam, bagaimana kalau pendukungnya yang dendam dan akhirnya malah tawuran? Nah itu dia fungsi pentolan sekolah. Biasanya pentolan sekolah punya ‘kuasa’ atas anak buahnya. Ya pentolannya yang harusnya menjaga agar tawuran tak terjadi. Kalau ternyata malah petinju yang kalah lalu dendam dan mengajak anak buahnya tawuran? Ya berarti itu masalah mental. Mentalitas pengecut.

Mereka harus ketemu Rendra, biar disemprot “hanya pengecut main keroyokan!”

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. setuju mas nuran..
    jadi begini, tawuran di jakarta memang muncul karena tidak ada penyaluran sarana kegiatan fisik.
    jaman sekarang di jakarta tempat lapang untuk kegiatan fisik sudah berkurang drastis.
    ditambah tekanan hidup. yasudah, tawuran.

  2. ide yang bagus tuh… dari pada tawuran mendingan ikut lomba tinju.. kalau tidak suka berantem saja disitu ya… betul sekali setuju mas.. prihatin saya lihat anak sma pada berantem.. gurunya kemana ya..

  3. Ide bagus sekali.
    andai sekolah masih kuasa terhadap pentolan siswa yang mbandel. Masalahnya anak-anaknya ini mau nggak diajak sportif seperti itu. wong suka seenak udelnya sendiri.

    kudu di baycl*n dulu tuh otak2nya biar bisa waras.

TINGGALKAN KOMENTAR