Selamat Natal Rara!

237
Masih Single Lho. Ada Yang Tertarik?

Maya Rara Tandirerung sedang gundah. Hal itu tidak biasa, karena biasanya Rara selalu ceria. Sebabnya karena ini malam natal, tapi ia tak bisa pulang ke kampung halamannya di Toraja. Sudah dua tahun berturut-turut ia absen merayakan natal di rumah. 
“Tapi lebih ngenes tahun lalu bang. Tahun lalu gue baru pulang dari Laos dan gak berani pulang karena belum sarjana. Gue di Bandung sendirian” kata Rara sembari tertawa pahit.
Rara adalah gadis tomboy. Dia bergabung di organisasi pecinta alam. Dua tahun lalu dia pergi ke Laos untuk ekspedisi susur gua.
Malam Natal tahun 2011 dilewatkan Rara di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di jalan Maulana Yusuf, Bandung. Gereja penuh. Karena tak kebagian tempat duduk, akhirnya ia duduk di tangga. Malam itu, Rara menangis karena dua alasan. Pertama karena ia terharu oleh suasana Natal. Yang kedua karena ia kangen rumah. Tangisnya masih berlanjut lagi ke episode berikutnya. Setting tempat kali ini adalah di kosan. Ia menangis semalaman.
Selama 23 tahun hidupnya, baru 3 kali ia tak merayakan natal di rumah. Pertama kali adalah tahun 2007. Saat itu ia baru saja masuk kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Di bulan September ia pulang kampung karena liburan lebaran. Desember ia tak mau pulang karena berat di ongkos. Natal tahun 2011 kembali ia lewatkan di luar rumah. Dan tahun ini pun ia tak bisa pulang ke Toraja. 
Sebenarnya ia bisa saja pulang. Ibu dan kakaknya menawarkan diri untuk membayari tiket pulang ke Toraja. Tapi Rara menampiknya. Ia gengsi karena masih belum dapat kerja. Padahal ia begitu rindu rumah.
Ia berkisah, setiap tanggal 24 malam, ia dan keluarga ibadah bersama di rumah. Perempuan penyuka Manchester United ini menyebutnya ibadah keluarga. Lalu tanggal 25 pagi, ia dan keluarga pergi ke gereja. Biasanya ibadah berakhir antara jam 11 atau jam 12. Setelahnya adalah acara makan-makan. Rara bingung ketika ditanyai apa makanan favoritnya.
“Apapun yang terbuat dari babi, itu favorit gue” kata Rara sambil tergelak.
Malam tadi, Rani dan Machi berusaha menghibur Rara. Machi adalah kawan karib Rani yang lantas juga akrab dengan Rara. Akhirnya mereka bertiga, ditambah saya dan Angga (kawan Machi) pergi makan ketan susu di Kemayoran. Lalu disambung piknik singkat di Monas.
“Gue pengen makan kembang gula” ujar Rara penuh harap.
Kami menemani Rara makan kembang gula di bawah Monas. Monumen nasional itu penuh sekali malam tadi. Ada keluarga yang duduk santai di tikar. Ada pasangan yang memutar lagu band Wali. Ada pula kakek yang menjual fotokopian artikel-artikel lama. Hingga puluhan motor polisi yang melakukan patroli. Jalan tak seberapa penuh. Hari ini instansi pemerintah libur karena cuti bersama. Banyak kantor swasta yang juga libur. Ada pula yang masuk tapi setengah hari. Jakarta menyenangkan kalau jalanan tiada macet.
Tapi di gereja, polisi banyak berjaga. Entah sejak kapan, di Indonesia, natal harus dijaga. Saya kadang bergidik heran. Bahkan untuk ibadah saja, mereka harus dijaga oleh pasukan bersenjata. Sesuatu yang tidak perlu ada andai saja kondisi aman. Bahkan malam tadi ada sesuatu yang membuat hati seperti disayat sembilu: jamaah gereja  HKBP Filadelfia Bekasi dilempari kotoran dan air comberan. Entah apa yang merasuki para pelempar. Mengerikan. 
“Ini kenapa sih orang mau ibadah kok malah dilempari kotoran?” tanya Rara dengan muka sedih. Ia gadis yang polos. Baginya, gontok-gontokan perkara agama itu adalah hal yang tak perlu. Menyaksikan kabar itu, rasa gundahnya berlipat-lipat. Sudah tak bisa pulang, masih pula menyaksikan saudara-saudaranya dinistakan. 
“Tapi untung tahun ini ada kalian. Gue jadi gak ngerasa sendiri” kata Rara dengan senyum manis. Benar Ra. Sepahit apapun hidup, kawan selalu bisa membuatnya jadi lebih manis.
Selamat natal Maya Rara Tandirerung. Semoga damai selalu ada di hati 🙂
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR