Menulis Musik: Sebuah Catatan Personal

536
1. New Musical Express (NME) journalist, 1976-1979
2. Producer, Atlantic Records, 1964-1971 (approx.)
3. Any kind of musician (apart from classical or rap)
4. Film director
5. Architect

(5 Pekerjaan Impian Versi Rob Fleming)

Rob Fleming adalah sebuah tokoh fiksi dalam novel –yang kelak difilmkan– berjudul “High Fidelity.” Dikisahkan, Rob adalah orang yang menyukai musik. Bahkan tergolong sebagai snob. Nyaris terobsesi. Pengetahuan musiknya luas, lintas genre. Mulai dari The Clash. Captain Beefheart. Bruce Springsteen. Nirvana. Marvin Gaye. Hingga Kraftwerk.

Selain musik, Ia punya hobi lain: membuat  daftar tentang apapun. Mulai dari 5 album musik terbaik sepanjang masa, 5 lagu pengirim pemakaman, sampai 5 daftar pekerjaan impian.

Bukan tanpa alasan Rob memasukkan jurnalis musik dalam peringkat pertama pekerjaan impian. Bagi orang yang mencintai dunia musik, bekerja sebagai penulis musik adalah mimpi basah. Bayangkan, kamu bisa mendapatkan akses penuh untuk bertemu para musisi idolamu. Kamu bisa menonton konser gratis. Kamu bisa mendapatkan CD atau merchandise gratis. 

Tapi namanya juga mimpi basah, ketika terbangun setelah merasakan nikmat, kamu akan berdecak kesal. Celana dalammu basah dan lengket. Dan kamu harus mandi besar. 

Intinya: tak ada yang namanya pekerjaan impian itu. Wake the fukking up!

Itu pula yang menimpa William Miller. Seorang tokoh fiksi dari film “Almost Famous.” Film ini berkisah tentang perjuangan William, remaja yang berkeinginan untuk menjadi wartawan musik pada era kejayaan heavy metal, 1970-an. Ia rutin menuliskan review musik yang ia suka. The Who. Led Zeppelin. Jimi Hendrix. David Bowie. Macam-macam. Beberapa review musik itu ia kirimkan ke Lester Bang, seorang wartawan musik terkenal yang bahkan berani mencerca –dengan logis dan beralasan– MC5 dan The Doors.

Lester –ini tokoh nyata– terkesan dengan tulisan William. Maka ia meminta William untuk menuliskan review tentang Black Sabbath. 1000 kata, dan dibayar. Ia girang sebab itu pertama kalinya William mendapatkan honor untuk tulisannya. Maka menulislah ia. Tulisannya bagus seperti biasa. Dimuat di majalah Creem, majalah tempat Lester bekerja sebagai editor.

Tulisan itu lantas dibaca oleh Ben Fong Torres, editor majalah Rolling Stone. Ben –juga tokoh nyata– lantas meminta William menulis untuk Rolling Stone. Akhirnya William memtusukan untuk menulis tentang Stillwater, salah satu band favoritnya. Ia mengikuti band itu tur. Menyimak segala riuh bingar  dunia rock n roll. Ia juga berkesempatan menjalani mimpi basahnya. Tapi dari sana pula ia terbangun dan mendecak kesal. Jadi jurnalis musik itu ternyata tak seenak bayangannya.

Di sela kegundahannya, Ia lantas ingat petuah Lester:

You CANNOT make friends with the rock stars. That’s what’s important. If you’re a rock journalist – first, you will never get paid much. But you will get free records from the record company. And they’ll buy you drinks, you’ll meet girls, they’ll try to fly you places for free, offer you drugs… I know. It sounds great. But they are not your friends. These are people who want you to write sanctimonious stories about the genius of the rock stars, and they will ruin rock and roll and strangle everything we love about it.”

“Kamu TIDAK BISA berteman dengan para rockstar. Itu yang paling penting. Jika kamu menjadi seorang jurnalis musik rock, hal pertama yang harus kamu tahu: bayaranmu tak besar. Tapi kamu bisa mendapat album rekaman gratis dari perusahaan rekaman. Dan para rockstar itu akan mentraktirmu minum, kamu akan bertemu dengan para gadis, mereka akan mengajakmu tur dengan gratis, menawarimu drugs… Aku tahu, itu terdengar keren. Tapi mereka bukan temanmu. Mereka adalah jenis orang yang menginginkanmu untuk menuliskan kisah fantastis mengenai rockstar yang jenius, padahal mereka hanya akan merusak rock n roll dan menghancurkan rock n roll yang kita cintai.”

Tapi meski mimpi basah itu menyebalkan, tak pernah ada orang yang benar-benar kapok dan sebal jika mimpi basah datang. Selain itu, jika terus berusaha lebih keras: kamu akan benar-benar bisa bercinta, bukan sekedar mimpi basah…

***

Menulis musik adalah pekerjaan yang susah-susah gampang. Menurut hemat saya, music writing adalah pintu gerbang menuju music journalism. 

Saya sendiri bukan seorang jurnalis musik. Saya hanya seorang yang suka menulis tentang musik. Saya –sama seperti penghobi lain– hanya menuliskan tentang musik yang disuka saja. Hanya berkisar antara musik psychedelic, glam rock, dan hair metal. Saya jelas akan tergagap ketika harus menuliskan tentang musik elektronik, misalnya. Karena itu sepertinya saya tidak akan pernah bisa menjadi jurnalis musik.

Tapi saya belajar untuk menjadi penulis yang baik. Seorang penulis yang baik bisa menulis tentang apa saja. Bondan Winarno, ia bisa menuliskan investigasi skandal emas, perihal ekonomi dan periklanan, hingga yang terbaru: kuliner. Ia tidak memiliki dasar pendidikan di bidang kuliner. Tapi ia bisa menuliskan tentang kuliner dengan sangat baik. Karena jelas, Bondan –selain pembaca yang tekun– adalah penulis yang baik. 

Intinya mungkin begini. Saya adalah penyuka hair metal dan akan kebingungan jika harus menuliskan tentang Ayu Tingting. Tapi jika saya bisa menulis feature, maka saya tidak lagi sekedar menulis tentang musik Ayu. Saya juga akan berusaha menggali sisi lainnya. Misal: bagaimana efek popularitasnya. Berapa banyak pejabat yang menawarinya kawin siri. Atau pada umur berapa ia dicium lelaki. Itu akan jadi tulisan yang lebih menarik ketimbang berapa juta RBT “Alamat Palsu” yang terjual, bukan?
Lantas Gonzo! Lalu Feature!

Maka saya mulai belajar untuk menulis feature dan juga jurnalisme sastrawi. Feature memang penting jika kita berbicara mengenai penulisan musik yang mendalam. Bahkan UCA –University of Creative Art, sebuah kampus kreatif yang berada di Inggris—memasukkan mata kuliah “Feature Writing” untuk jurusan Music Journalism.

Dalam hemat saya, jurnalisme sastrawi adalah salah satu bentuk jurnalisme terkeren. Sebelumnya saya lebih dulu kenal istilah Gonzo Journalism. Jurnalisme Gonzo. Dan saya jatuh cinta padanya.

Jika berbicara definisi singkat, jurnalisme Gonzo adalah “…gaya menulis yang lepas dari beban obyektifitas, sering memasukkan reporter ke dalam bagian tulisa sebagai orang pertama.” Gonzo juga cenderung memasukkan pengalaman personal penulis, juga emosi sang penulis, untuk mendapatkan sebuah gambaran mengenai apa yang ditulisnya.

Menurut babad sejarah, Hunter S. Thompson adalah orang pertama yang mengenalkan dan mempopulerkan istilah gonzo itu. Hunther adalah jurnalis legendaris. Ia pernah bekerja pada Rolling Stone. Tapi lalu dipecat karena lebih suka mabuk-mabukan ketimbang menulis. Namun bagaimanapun, ia adalah penulis yang hebat.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Hell’s Angels: The Strange and Terrible Saga of the Outlaw Motorcycle Gangs. Buku pertamanya itu bercerita mengenai geng motor gede terbesar di Amerika. Untuk kebutuhan penulisan itu, ia sampai rela menyamar sebagai anggota geng dan hidup bersama anggota geng itu selama satu tahun. Sebelum akhirnya ia terpergok menyamar dan dihajar hingga setengah mampus. Buku ini sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi kualitas terjemahannya sangat buruk sekali. Saya tidak merekomendasikan buku terjemahan ini untuk dibaca.

Gaya Gonzo ini lantas diadopsi oleh banyak penulis lain, termasuk Lester Bangs. Gaya jurnalisme Gonzo yang cenderung liar, tak kenal aturan, dan seenaknya sendiri ini pula yang menyebabkan Lester dipecat pula sebagai kontributor tetap di Rolling Stone –selain fakta kalau ia sering ribut dengan pendiri Rolling Stone, Jan Wenner. Ia lantas menulis sekaligus jadi editor untuk majalah Creem. Setelah berhenti dari Creem, ia menulis untuk pelbagai media.

Tapi cinta saya pada Gonzo bertepuk sebelah tangan. Susah sekali rupanya menerapkan style ini. Kalaupun bisa, akan sangat sulit dan hasilnya tak akan sebaik karya era Hunther maupun Lester. Salah satu penyebabnya, sekarang tak banyak lagi penulis yang rela menghabiskan hidupnya untuk benar-benar masuk ke dalam objek tulisan.

Karena patah hati itu saya beralih ke jurnalisme sastrawi. Genre ini dikenalkan pada tahun 1960. Tom Wolfe, seorang wartawan legendaris, mengenalkan istilah ini dengan nama new journalism. Pada dasarnya, ini adalah laporan jurnalistik. Tapi laporan jurnalistik ini ditulis dengan panjang dan memukau. Bahasa yang digunakan bukan bahasa yang kaku. Ada karakter yang dibahas dalam. Ada drama. Ada plot cerita. Ibarat membaca sebuah novel. 

Sebenarnya plot perkenalan saya terbalik. Sebab gonzo journalism yang saya kenal lebih dulu adalah bentuk turunan dari jurnalisme baru ini.

Jurnalisme sastrawi ini lantas digunakan oleh banyak penulis jempolan. Sebut saja Truman Capote, Joan Didion, Gay Talese, Hunther S. Thompson, hingga John Hersey. Semua karya tulis mereka panjang dan menakjubkan.

Jika berbicara mengenai penulisan musik, bisa jadi salah satu feature paling terkenal adalah Frank Sinatra Has a Cold karya Gay Talese. Karya ini berkisah tentang Frank Sinatra. Tidak sekedar tentang musiknya. Tapi juga tentang hidupnya. Hebatnya, Gay menuliskan feature ini tanpa sekalipun mewawancarai Frank. Karena Frank termasuk orang yang sedikit anti media, Gay hanya membuntutinya, mengamati, dan mewawancara banyak orang dekat Frank.

Di Indonesia, genre jurnalisme sastrawi ini mulai populer pada tahun 2000. Kala itu, ada majalah Pantau yang menyebarkan genre ini. Salah satu penyuntingnya adalah Andreas Harsono. Ia juga salah satu penulis jurnalisme sastrawi terbaik di Indonesia. *

Saya suka sekali esainya yang berjudul “Dewa dari Leuwinanggung.” Berkisah tentang Iwan Fals. Tapi tidak sekedar membahas bagaimana musik Iwan dibuat. Andreas mewawancarai Iwan dan banyak lagi narasumber. Ada kisah mengenai Swami, Kantata Takwa, politik Orde Baru, Galang Rambu Anarki. Iwan dijadikan manusia seutuhnya. Hitam, putih, dan abu-abu. Bukan lagi menjadi dewa. Saya terpesona.

Lalu ada lagi Wendi Putranto. Ia adalah penulis di Rolling Stone Indonesia. Sebelumnya, ketika masih remaja, ia membuat zine bernama Brainwashed. Zine ini adalah zine pertama di Jakarta, dan ketiga di Indonesia. Wendi sempat menulis di banyak media. Tapi karya-karya terbaiknya muncul di Rolling Stone Indonesia.

Salah satu feature terbaiknya –bahkan hingga saat ini– adalah kisah mengenai Ari Lasso yang ia maktubkan dalam tulisan berjudul “Perjalanan Panjang.” Wenz menceritakan sisi lain dari seorang Ari. Wenz jeli menangkap sisi lain seorang Ari. Tulisan itu panjang. Namun tidak membosankan. Saya terkesima.

Dua orang itu membuat saya semakin tertarik mempelajari jurnalisme sastrawi yang nantinya akan saya terapkan untuk menulis musik. Karena saya sadar, saya bukan dan sepertinya tidak akan pernah menjadi jurnalis musik. Saya tak cakap untuk bisa menulis musik selain The Doors atau hair metal. Suruh saya menulis tentang musik Sigur Ros, maka saya lebih memilih untuk mendengarkan musik Kangen Band menggunakan headset dengan volume maksimal. 

Tabik![]

Jember, 17 Januari 2013,
 03.47 Waktu Indonesia Bagian Arjasa
Sembari mendengarkan Cinderella dan Ratt
Yeah, hair metal lagi.

—————
Post-scriptum:

Tulisan pendek ini dibuat sebagai pemantik diskusi pada kelas Akademi Berbagi Jember dengan tema “Music Journalism.” Untuk pemantik lebih lanjut, akan ada slide presentasi. Oh ya, kelas ini akan dihelat pada hari Minggu, 20 Januari 2013 di Warung Kopi Cak Wang Mastrip pukul 2 siang. Sampai jumpa disana!

* Untuk belajar lebih banyak mengenai jurnalisme sastrawi ini, sila berdiskusi dengan Oryza Ardyansah atau Arman Dhani Bustomi. Dua orang alumnus Universitas Jember ini pernah belajar jurnalisme sastrawi di Pantau dan diampu langsung oleh Andreas Harsono.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. Hallo Ran, tulisan yang bagus nih, salut. Cuma ada sedikit ralat, Lester Bangs tidak pernah menjadi karyawan tetap di RS, dia cuma kontributor tetap di sana waktu itu, dan “dipecat” karena ribut dengan Jann S. Wenner hehe.

    Brainwashed juga bukan zine pertama di Indonesia, tapi mungkin ketiga. Pertama itu Revograms zine dari Bandung dan kedua Mindblast dari Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR