Molen

736

Ada yang tahu asal mula molen? 
Saya punya beberapa kenangan personal dengan molen. Dulu sekali, sepulang saya les bahasa Inggris dan menanti angkot untuk pulang, saya selalu menyempatkan diri untuk membeli molen. Penjualnya adalah seorang bapak tua asal tanah Pasundan. Molennya masih murah. Kalau tidak salah 100 rupiah per butir. Isinya macam-macam. Ada yang paling konvensional: pisang. Ada pula rasa coklat, kacang hijau, strawberry, atau nanas.
Saat itu di Jember sedang demam molen. Kalau ingatan belum jua berkarat, ada banyak penjual molen bertebaran di pojok-pojok kota Jember. Semua terkena demam molen. Itu saat saya masih SD. Sekarang penjual molen sudah tak sebanyak dahulu.
Molen memang menyenangkan dan mengenyangkan. Saya suka dua jenis: molen pisang dan molen nanas. Saya suka molen pisang karena memang dasarnya suka pisang. Ketika kelembutan pisang berpadu dengan balutan adonan tepung yang digoreng hingga kecoklatan, hmmm, itu nikmat sekali. Kalau yang nanas, itu selera pribadi saja. Saya suka rasa yang sedikit asam. Kelak saya mengetahui, di daerah Jawa Tengah hingga ke arah barat, molen nanas ala daerah itu menggunakan nanas asli. Bukan selai nanas.
Dulu saya pernah bertanya pada ayah tentang muasal molen. Kata ayah, molen itu asalnya dari Bandung. Dulu saya mengiyakan saja. Hipotesa ayah cukup masuk akal. Menurutnya ada banyak sekali jenis gorengan yang berasal dari tanah Sunda.  Bandung sebagai kota besar di tanah Sunda dianggap berandil besar dalam mempopulerkan beraneka ria gorengan itu. Mulai dari batagor, cireng, cimol, bala-bala, hingga molen. Tak heran kalau Bandung dikenal dengan pisang bolen ala Kartika Sari yang harganya mahal itu.
Saya suka molen Kartika Sari. Tapi saya lebih suka  molen rakyat. Seratus rupiah dapat satu butir molen. Paling enak dimakan ketika hangat. Kerenyahan adonan tepung masih kuat terasa.
Tapi  harga kebutuhan pokok yang berlari kencang, tak mungkin membuat harga molen diam di tempat. Namun penjual selalu punya kiat untuk tidak menaikkan harga. Atau kalaupun naik ya tak banyak-banyak amat. Ukuran molen dibuat lebih kecil. Di warung penjual molen yang sering mangkal di depan warung kikil SMP 2 Jember, ukuran molennya sangat kecil. Harganya memang murah, hanya dua ratus rupiah saja. 
Ukuran kecil dengan harga dua ratus rupiah itu sepertinya jadi SOP penjual molen sekarang. SOP itu juga dituruti dengan taat oleh penjual molen di dekat kosan saya di daerah Condong Catur.
Saya –sekali lagi– punya kenangan personal terhadap molen ala Condong Catur ini.
Sekitar 9 bulan lalu saya sedang mengerjakan sebuah proyek penulisan yang membuat saya begadang. Setiap hari, saya selalu tidur selepas jam 8 atau jam 9 pagi. Itu berulang rutin selama sekitar 1 minggu.
Pada suatu hari, sembari mencari sarapan, saya melewati Aa’ penjual molen itu. Ia masih muda. Mungkin belum sampai kepala dua. Ia tampak tekun membalutkan adonan tepung ke pisang dan ubi. Kalau adonan tepung sudah habis, ia kembali menggulung adonan, membuatnya jadi lebih tipis. Lalu kembali menggulungnya ke potongan pisang dan ubi.
Ketekunannya menarik minat saya.
Saya berhenti ke Aa’ itu dan membeli beberapa butir molen. Harganya sesuai SOP, dua ratus rupiah per butir. Sejak saat itu, setiap pagi ketika suntuk melanda dan perut keroncongan, saya berjalan kaki menuju Aa itu untuk membeli beberapa butir molen. Aa penjual itu sangat pemalu. Setiap saya ajak dia ngobrol, dia selalu menjawab dengan suara pelan. Ketika saya tanya asalnya, ia menjawab kalau dari Tasikmalaya –yang semakin menabalkan kebenaran hipotesa ayah saya tadi.
Nah, saat itu saya sedang dekat dengan perempuan bernama Rani Basyir. Ia selalu bertanya kenapa saya suka sekali molen. Tak ada alasan khusus. Rani sekarang sudah jadi pacar saya. Dan sampai sekarang pun saya masih suka makan molen.
Seperti malam ini misalnya. Saya membungkus sekitar sepuluh butir molen untuk menemani saya menulis hingga pagi nanti. Oh ya, penjual molen langganan saya sekarang adalah burjo di dekat kosan. Harganya memang lebih mahal sedikit ketimbang Aa’ penjual molen. Di burjo ini harga molennya lima ratus rupiah per butir. Tapi ukurannya lebih besar dan mantap. Rasa adonan tepungnya pun manis. 
Post-scriptum: Ini kenapa saya tiba-tiba jadi nulis tentang molen ya? Padahal saya ada kerjaan yang harus selesai malam ini. Saya sepertinya memang penderita ADD. Oh ya, tadi saya Googling tentang asal muasal molen. Tapi tidak ada satupun entry yang menjelaskan tentang sejarah molen. Kalau ada yang tahu, bolehlah dibagi disini 🙂
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. Juga suka molen! 😀

    Aku ketawa baca molen diitung pake biji (sebiji molen, dua biji molen, hahaha). Molen pake selai itu macam apa, mas? Gak pernah lihat. Juga gak pernah nemu di Jogja ada molen harga 200 perak. Aku baru nemu molen isi nanas itu di Jogja, di Purwokerto gak ada. Trus molen di sini kecil-kecil. Kalau di Kalimantan, molennya besar, pake satu pisang utuh.

    Pisang bolen sama pisang molen beda kan, mas? Bolen pake keju dan bentuknya kotak. Pantes deh mahal. Kalau molen kan yang digulung-gulung? Oiya, mungkin molen itu dari Belanda (http://kamus.ugm.ac.id/dutch.php), tapi aneh. Di Belanda kan gak ada pisang.

    Ah, marai pengen!

    • Nah itu dia Prim. Asal-usul molen sangat misterius bukan? *sok misterius* Dalam bahasa Inggris, molen itu alat pengaduk semen yang berputar-putar itu. Entah kenapa bisa dijadikan nama jajanan. Mungkin karena bentuk kue molen itu macam alat molen pengaduk semen itu, sedikit elips.

      Bolen itu mungkin bentuk advance dari molen. Dari segi penampilan, rasa, maupun isian. Harganya pun advance, asu tenan.

      Ngomong-ngomong, kamu berarti belum sah sebagai warga Jogja kalo belum nemuin molen seharga 200 rupiah :p

TINGGALKAN KOMENTAR