Oryza

242
Namanya Oryza Ardyansah. Nama depannya sedikit tidak biasa dalam khazanah penamaan bahasa Indonesia. Orang tuanya menamai Oryza dari oryza sativa, nama latin tanaman padi. 

Saya pertama kali bertemu pria ini sekitar tahun 2006 silam. Di ruang berkarpet merah, Tegalboto, Oryza memberikan materi mengenai jurnalisme sastrawi. Saat itu saya terperangah. Ternyata ada juga bentuk jurnalisme yang tidak kaku 5W 1H.
Oryza gampang dikenali. Badannya tambun. Pipinya penuh berisi. Kumis melintang di bawah hidung. Ia juga memelihara jenggot, walau saya tak pernah melihat ada tanda hitam di dahinya.
Ketika pertama bertemu, kesan menyenangkan langsung memancar dari pria ini. Ia ramah, murah senyum, dan yang paling penting: pengetahuannya tentang jurnalisme begitu banyak. Ia tak pernah pelit membagi ilmu. Orang tua Oryza tepat menamainya Oryza. Ia menjadi penganut falsafah padi, semakin berisi semakin merunduk. Dengan segera, pria penggemar Persebaya ini lantas jadi sumber ilmu pengetahuan bagi saya.
Pengetahuannya tentang jurnalisme sastrawi ia dapat dari Pantau, sebuah lembaga yang mengkhususkan diri di bidang jurnalisme sastrawi. 
Dalam buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat, dijelaskan bahwa “Jurnalisme sastrawi (literary journalism) adalah nama sebuah genre dalam dunia penulisan yang memadukan liputan/reportase dan penulisan dengan gaya sastrawi sehingga enak dibaca.” 
Pada tahun 2000, majalah Pantau terbit. Majalah bulanan terbitan Institut Arus Informasi ini menyajikan kesegaran. Banyak orang yang senang dengan adanya Pantau. Laporan jurnalistik yang disajikan secara renyah dan bercerita, membuat Pantau menjadi salah satu majalah wajib baca bagi banyak orang yang menekuni dunia jurnalistik. 
Selain itu, keberhasilan Pantau tampak dari banyaknya organisasi Pers Mahasiswa yang mulai memasukkan jurnalisme sastrawi ke dalam materi pendidikan dasar jurnalistik mereka.
Tapi setelah 3 tahun terbit, Pantau tumbang. Tiap bulan, Pantau dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Sekitar 2.000-2.500 eksemplar ludes. Bahkan ada beberapa edisi yang tak bersisa. Tapi itu rupanya tak cukup.
Pantau sempat hidup lagi, namun hanya setarikan nafas. Pantau lalu mati lagi tanpa tahu kapan hidup lagi. Meski tak lagi mengeluarkan majalah, Pantau yang kini sudah menjadi yayasan, masih rutin mengadakan kursus menulis jurnalisme sastrawi.
Pantau mengetahui Oryza dari resensi buku “Bre -X” karya Bondan Winarno. Awalnya Oryza menuliskan resensi itu untuk dikirim ke Kompas atau Jawa Pos. Saat itu tahun 2007. Buku Bre X mencapai umur 10 tahun penerbitan. Tapi rencana tinggallah rencana. Oryza terlalu asyik menulis hingga melar menjadi 15 halaman. 5.000 kata. Jumlah yang tidak akan bisa dimuat di Kompas atau Jawa Pos.
“Lalu, saya teringat Pantau. Lagipula saya kirim artikel beberapa kali ke Kompas tidak pernah dimuat. Mungkin karena nama saya tidak terkenal. Saya bukan selebritis penulis yang biasa mejeng di Kompas meski tulisannya sangat biasa-biasa saja.” kata Oryza.
Maka ia mengirimkan naskah itu ke Pantau.
Beberapa hari kemudian, ketika pagi baru saja dimulai, ia mendapat telepon dari Linda Christanty, awak majalah Pantau. Linda bilang pada Oryza kalau tulisan tentang Bre-X akan dimuat Pantau, “…tapi saya edit ya?” 
Oryza yang nyawanya belum genap terkumpul, langsung kaget. Ia terjaga sepenuhnya. Ia bingung harus bilang apa. Akhirnya ia bilang pendek, “Ya udah deh mbak, edit saja.” Meski begitu, Oryza senang bukan kepalang.
Dari tulisan itu, Oryza mendapat salah satu honor terbesar yang ia terima. Rp. 1,8 juta. Ia senang bukan kepalang. 
“Satu kali honor melebihi gaji satu bulan” ujarnya gembira.
Lalu tak lama kemudian, tulisan Oryza kembali dimuat oleh Pantau. Kali ini tulisan feature panjang mengenai Prosalina. 
Prosalina adalah nama sebuah radio besar di Jember. Pada tahun 2007, radio itu menyiarkan on air jalannya persidangan Samsul Hadi Siswoyo, bupati Jember yang tersangkut kasus korupsi kas daerah senilai Rp. 18 miliar. Oryza lantas menuliskan kisah tentang radio dan persidangan itu dalam sebuah esai panjang nan bernas yang berjudul pendek saja: “Prosalina.”
Adalah Linda yang juga mengusulkan nama Oryza untuk mendapat beasiswa Pantau. Pantau setuju. 
“Linda menyebut anda berbakat dan perlu diberi kesempatan (ikut kursus jurnalisme sastrawi),” kata Andreas Harsono pada Oryza.
Andreas mantan wartawan The Jakarta Post dan harian The Nation Bangkok. Ia juga pernah menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard. Sejak tahun 2000, ia menjadi salah satu tim penyunting majalah Pantau. Ia juga menjadi salah satu mentor Oryza di kelas Pantau. 
Bagi Oryza, mengikuti kelas menulis Pantau membutuhkan banyak pengorbanan.
“Saya mecah celengan untuk biaya ke Jakarta dan tinggal di Jakarta selama dua minggu.” katanya.
Tapi pengorbanannya tak sia-sia. Ia menjadi salah satu peserta terbaik di kelas itu. Bahkan sampai Janet Steele menuliskan kalimat pujian untuk Oryza di buku “Mars Within” : Bagi Mas Oryza, salah satu ‘wartawan terbaik’ di Suara Indonesia, dan salah satu peserta terbaik di kursus jurnalisme sastrawi.
Janet adalah Associate Professor of Journalism pada School of Media and Public Affairs di Universitas George Washington. Ia meraih Ph.D di bidang sejarah pada Universitas Johns Hopkins. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, yang bercerita mengenai kisah majalah Tempo dan hubungannya dengan rezim politi Orde Baru. Ia juga turut menjadi mentor Oryza di kelas penulisan Pantau.
Selain itu, Oryza merasa jadi bisa menemukan diri sendiri setelah mengikuti kelas Pantau. “Kursus jurnalisme sastrawi menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup saya.” kata Oryza.
Ia tidak sedang membual. Bagi seorang reporter, bisa mendapat beasiswa Pantau adalah sebuah kesempatan yang berharga. 
“…Pantau telah memberikan saya semua peralatan untuk berburu, menemukan kekuatan saya sendiri: teknik wawancara, teknik pembuatan struktur tulisan, sembilan elemen jurnalisme, immersion reporting, engine, semuanya adalah senjata saya kelak sebagai reporter dan penulis.” ujarnya.
***
Oryza suka sekali tiga hal: buku, bola, dan musik.
Saya pernah ke rumah Oryza. Banyak sekali buku. Ratusan. Atau bisa jadi ribuan. Tapi Oryza bukan tipe orang yang senang pamer jumlah buku yang ia punya. Maka saya tak tahu jumlah pasti koleksinya. Ia tekun sekali membaca. Karena itu pengetahuannya luas. Mulai politik, sejarah, budaya, hingga yang belakangan ia tekuni: ekonomi.
“Oryza memang kuat membaca” kata Sigit Edi Maryanto suatu ketika.
Sigit adalah senior saya di Organisasi Pecinta Alam semasa SMA. Kebetulan pula Sigit juga bekerja sebagai reporter. Ia sering bertemu dengan Oryza. Lantas berkawan baik. 
Jika berbicara bola, tim sepak bola kesayangannya adalah Persebaya dan Liverpool. Meski lahir di Situbondo, ia tumbuh dan besar di Surabaya. Karena itu, darahnya barangkali berwarna hijau, warna kebesaran Persebaya. Oryza seringkali menuliskan tentang Persebaya di blog pribadinya.
Sedang Liverpool adalah tim yang dulu pernah besar di era 80-an, era dimana Oryza tumbuh menjadi remaja. Wajar kalau Oryza mengidolakan tim dari kota asal The Beatles itu. Kesukaannya bertahan hingga sekarang.
Oryza dan saya seringkali bertukar gojlokan. Saya menyukai Manchester United, musuh bebuyutan Liverpool.
Untuk musik, Oryza menggemari musik-musik hard rock. Jika dipersempit, ia menyukai hair metal. Genre itu memang tumbuh subur di era 80-an. Oryza menggemari Motley Crue. Guns N Roses. Skid Row. Warrant. Hingga Poison. Tapi ia juga suka Jimi Hendrix. Led Zeppelin. Hingga Dream Theater.
Kesukaannya pada musik membuat ia tertarik mempelajarinya. Ia lantas mencoba belajar bermain gitar. Ia tidak sekedar bisa. Bahkan ia menjadi virtuoso pada jamannya 
Ketika masuk kuliah di Jember pada awal 90-an, Oryza dan bandnya sempat tampil pada sebuah festival. Oryza mendapat predikat gitaris terbaik.
Lantaran musik juga Oryza lantas jadi lebih akrab dengan saya.
Suatu sore, saya yang sedang berada di sekretariat Tegalboto memutar lagu “Little Wing” versi Skid Row. Lagu itu aslinya milik Jimi Hendrix. Terkenal, lantas dinyanyikan ulang oleh banyak musisi. Versi Skid Row adalah favorit saya.
Tanpa saya tahu, ternyata ada Oryza di ruang utama. Ia tiba-tiba saja menghambur ke ruang redaksi.
“Wuih, ‘Little Wing’ versi Skid Row! Iki yo favoritku pisan! (Ini juga favoritku!)” ujarnya sembari setengah histeris.
Dari situ obrolan kami berlangsung. Ternyata kami suka musik yang sama. Oryza merasa menemukan kesamaan dengan saya. Klop sudah. Saya belajar banyak mengenai jurnalisme sastrawi dari Oryza, dan Oryza mendapat partner seimbang jika berbicara mengenai hair metal, genre yang ditinggalkan oleh banyak generasi 90-an seperti saya.
***
Selama beberapa minggu terakhir Oryza dan saya selalu bertukar sapa “Salam Anggun.”
Ini bukan Anggun C. Sasmi. Atau Anggun dalam bahasa Indonesia yang berarti indah dan berkelas. Melainkan Anggun adik kelas saya di Fakultas Sastra. Perempuan manis ini bergabung di Ideas, UKM Pers Fakultas Sastra. 
Oryza kaget ketika mengetahui ada perempuan manis yang bergabung dengan UKM Pers.
“Jamanku ndisek, arek pers iki biasane gondrong, rombuh, jarang adus (Jamanku dulu, anak pers itu biasanya gondrong, jorok, jarang mandi)” kata Oryza.
Oryza benar. Bahkan hingga era saya, jarang sekali ada perempuan manis yang bergabung di UKM Pers. Itu mungkin hanya kebetulan saya. Atau faktor geografis. Sebab di Balairung, saya pernah bertemu dengan anggota mereka yang jelita dan sedap dipandang mata.
Tapi di Jember, entah kenapa, jarang sekali ada perempuan manis yang bergabung dengan UKM Pers. Tak heran, Oryza sedikit heran dengan keberadaan Anggun. Sejak saat itu, ia selalu menyapa saya dengan “salam Anggun!” dan saya pun membalas salamnya dengan kalimat yang sama.
Tapi saya tahu Oryza tak berniat genit. “Salam Anggun” hanyalah bentuk kekagumannya pada Anggun. Oryza sendiri adalah pria yang setia. Seumur hidupnya ia hanya pernah berpacaran satu kali dengan perempuan bernama Heni Agustini. Itu semasa kuliah. 
Sang pacar itu yang lantas menjadi istrinya. Mereka dikaruniai dua orang bocah lelaki lucu: Muhammad Neo Ardyansah Guerin dan Muhammad Marvel Ardyansah Hersey. 
Ada jejak kecintaan Oryza pada jurnalisme di nama kedua anaknya. Guerin diambil dari nama Veronica Guerin, wartawati asal Irlandia Utara yang dibunuh pada tahun 1996 oleh gembong narkoba. Sedang Hersey ia ambil dari John Hersey, penulis feature berjudul “Hiroshima,” yang memenangkan hadiah Pultizer. Hersey juga termasuk praktisi awal jurnalisme sastrawi.
Saya tidak percaya kalau Oryza hanya pernah berpacaran satu kali. Bagi saya, tak ada gitaris yang tak dikelilingi oleh banyak cewek. Bagi saya, meski muka tak setampan Christian Sugiono, asal bisa memainkan gitar dengan baik, maka perempuan secantik apapun bisa didapat.
Bender! Aku iki ndisek cuma mikiri munggah gunung, bal-balan, karo gitaran (Bener! Dari dulu aku ini cuma berpikir naik gunung, main sepak bola, dan main gitar)” kata Oryza sembari tertawa karena saya menyangsikan fakta kalau ia tidak pernah berpacaran.
Tapi Oryza memang tak berbohong. Ia sayang sekali dengan istri dan anak-anaknya. Ketika ada acara, ia nyaris selalu membawa mereka. Sebagai penulis, seringkali ia menuliskan tentang keluarganya di blog pribadinya. Semuanya manis-manis. Walau kadang sedikit tercecap rasa getir.
Dalam esai pendek berjudul “Ultah Perkawinan,” rasanya sulit untuk tak berkaca-kaca jika membacanya. Bagaimana tidak. Esainya dibuka macam begini:
“…Kemarin, tanggal 27 Desember, hari ultah perkawinanku yang kedua. Tak terasa sudah dua tahun aku menikah. Semestinya, perayaan pernikahan itu dilakukan berdua dengan istriku di kedai kaki lima seafood di dekat alun-alun. Istriku ingin banget makan kepiting. Tapi, aku tak punya duit banyak. Akhirnya, kami merayakan dengan sederhana, makan bakso solo di dekat Matahari. Cuma habis Rp 15 ribu.”
Lantas ia menarik kisah ke belakang. Saat itu tahun 2004. Ia dipecat dari sebuah harian jaringan salah satu media terbesar di Indonesia. Sebabnya? Oryza dianggap menulis berita “ngawur” alias menyinggung perasaan atau kepentingan pejabat.
Sebelumnya, ia sempat ‘dibuang’ ke Bondowoso, sebuah daerah di selatan Jember. Bondowoso daerah pegunungan. Jauh lebih sepi dan terpencil ketimbang Jember. 
Entah kebetulan atau tidak, saya menangkap pola yang sama dari harian itu: membuang wartawan yang dianggap ‘membahayakan’ ke Bondowoso.
Sahabat saya Arman Dhani mengalami hal yang sama. Ia bekerja pada harian yang sama dengan Oryza. Setelah memberikan begitu banyak pada tempatnya bekerja, Dhani dibuang ke Bondowoso sebelum akhirnya ia dipecat dengan alasan membolos selama 10 hari. Padahal ia pergi ke Jakarta karena mengikuti sebuah kursus penulisan seni rupa.
Itu pula yang terjadi pada Oryza. Setelah rela dibuang ke Bondowoso, akhirnya ia dipecat. Yang kurang ajar, sang bos memberikan surat pemecatan itu melalui office boy. Alasan dipecat? Oryza dianggap sudah membolos selama lima hari. Padahal Oryza sudah izin cuti untuk menikah.
Ketika Oryza dipecat, sang istri menangis. Bayangkan, biduk baru harus mengalami gelombang sedemikian besar. Oryza lantas menulis.
Aku terharu melihat istriku menangis…Ya, ia menangis…Tapi itu bukan tangis ketakutan…Tapi tangis keberanian…Ia menangis, karena sedih aku harus kehilangan pekerjaan yang sangat aku cintai…Ia menangis…Tapi bukan tangis cengeng…
Untunglah tak seberapa lama kemudian, Oryza mendapat pekerjaan di harian Suara Indonesia. Gajinya lebih besar dari perusahaan sebelumnya. 
Tapi pada tahun 2006, Suara Indonesia kolaps. Gaji Oryza telat dibayar selama berbulan-bulan. Cobaan ini tepat menghampiri ketika sang istri sedang hamil 3 bulan anak pertama.
Tapi badai segera berlalu. Suluh kembali menyala walau sebelumnya doyong terkena angin. Oryza dan istri kembali angkat sauh. Lanjut berlayar.
***
Tahun 2008, grup band Andra and the Backbone mampir ke Jember. Grup yang dimotori oleh gitaris  grup band Dewa, Andra Ramadhan, itu sedang tenar berkat lagu “Sempurna.” Lagu ini romantis tanpa terdengar cengeng.
Oryza kebetulan mendapat tugas meliput jalannya konser ini. Ia senang. Karena lagu “Sempurna” merupakan lagu favorit dia dan istri. Bahkan Neo sang anak turut menyukai lagu ini. Walau Neo baru bisa menyanyikannya dengan nggremeng.
Lewat beberapa lagu, akhirnya lagu yang ditunggu datang juga: Sempurna.
Ketika intro itu dimainkan, Oryza menelpon istrinya yang saat itu berada di luar kota bersama sang anak.
“Halo, ada apa, Yanda?” tanya sang istri. Yanda adalah panggilan sayang sang istri untuk Oryza.
“Sayang, lagu ini untuk kamu. Dengerin…” ujar Oryza sembari mendekatkan telepon genggam ke penonton. Lalu Oryza kembali menempelkan telepon genggam ke telinga. Lalu ia menyanyikan bait pertama lagu “Sempurna.”
Kau begitu sempurna. Di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu.
Oryza tak tahu bagaimana reaksi sang istri. Kemungkinan besar ia tersipu malu di balik telepon. Tak banyak pria yang masih berlaku romantis setelah beberapa tahun pernikahan.
Oryza adalah salah satu dari yang sedikit itu.
***
Hari ini Jember sudah diguyur hujan semenjak siang. Sempat reda beberapa saat. Namun sore hari, hujan turun lagi. Menjelang pukul 3 sore, saya bertemu dengan Oryza. Bukan pertemuan tanpa rencana. Sejak beberapa hari sebelumnya ia selalu menanyakan kapan saya pulang ke Jember. Kami lantas membuat janji untuk bertemu.
Oryza ingin menduplikasi buku “Neraka di Laut Jawa” karya Bondan Winarno yang sudah ia cari sejak lama, dan kebetulan saya punya. 
Selain itu, dia juga titip dibelikan majalah News Week edisi cetak terakhir, dan juga TIME edisi Person of the Year. Di Periplus, saya berhasil mendapatkan majalah TIME dengan sampul muka bergambar wajah presiden Amerika Barrack Obama. Tapi tidak dengan News Week. Edisi langka itu cepat sekali dibeli, macam kacang goreng di pasar malam.
Akhirnya tadi sore di Warung Kopi Cak Wang, warung kopi yang kecil, hangat, dan menyenangkan di bilangan Mastrip, kami bertemu.
Majalah saya serahkan. Begitu pula buku “Neraka di Laut Jawa.” Juga “Bang Your Head,” sebuah buku mengenai musik heavy metal di Amerika. Oryza mendadak tertarik ketika saya bilang punya buku tentang heavy metal. Ia meminta saya membawa buku itu turut serta.
“Aku ngopi video-videone pisan” kata Oryza.
Saya lantas menghidupkan laptop. Oryza memberikan sebuah flash disk. Ia lalu kaget mengetahui koleksi video-video hair metal saya. Ia mendadak terserang euforia.
“Coba setel Warrant sing ‘Heaven’ (coba putar Warrang yang Heaven)” pinta Oryza.
Heaven adalahh salah satu lagu favorit Oryza. Saya pernah melihatnya menuliskan lirik lagu itu untuk sang istri: I don’t need to be the king of the world As long as i’m the hero of this little girl. Juga untuk dua orang anak lelakinya: I dont need to be a superman as long as you will always be my biggest fan.
Oryza tampak kalap. Ia mengkopi banyak sekali video. Mulai dari Poison. KIX. Warrant. Skid Row. Def Leppard. 
“Kalau dengerin lagu-lagu ini, selalu ada kenangan. Ada ikatan emosional antara aku dan lagu-lagu ini” kenang Oryza.
Saya melihat matanya. Ia tampak mengenang masa muda dengan khusyuk. Main gitar, naik gunung, dan main sepak bola. Itu saja kegiatan favoritnya. Kala itu ia masih muda… dan kurus.
Tak berapa lama, saya teringat sebuah diskusi panjang nan riuh antara saya dan Oryza beberapa waktu lalu. Perihal Guns N Roses (GNR).
Band asal Los Angeles ini favorit Oryza. Tapi itu dulu, saat personelnya masih Axl, Slash, Izzy, Duff, dan Steven Adler.
Tapi sekarang band itu hanya tinggal menyisakan Axl sebagai personel asli. Oryza sudah berhenti mendengarkan GNR sejak album Spaghetti Incident. Setelah album itu, Slash, dan Duff  keluar mengikuti jejak Izzy dan Steven.
“Itu bukan GNR, tapi Axl Rose and frieds”  kata Oryza pedas.
Dulu saya setuju dengan pendapat Oryza. Tapi seusai menonton konser GNR dan kembali menekuri album baru GNR, Chinese Democracy, saya baru sadar kedahsyatan GNR era baru ini.
Maka kami berdebat panjang. Lebih sering tak ada juntrungannya. Debat warung kopi. Kami sama-sama mencintai GNR, tapi dengan cara yang berbeda.
Saya lantas bertanya pada Oryza, “sudah pernah dengerin album Chinese Democracy belum?”
“Cuma satu lagu, Love love, apa lah itu” kata Oryza. Yang ia maksud adalah “This I Love,” salah satu lagu ballad pada album Chinese Democracy.
“Cih! Itu namanya gak adil sejak dalam pikiran. Sudahlah, berhenti saja baca Pramoedya!” kataku sembari mencibir. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu pengarang favorit Oryza. Salah satu kalimat Pram yang terkenal adalah “jadi manusia itu harus adil sejak dalam pikiran.”
Oryza tertawa.
Sore ini saya mendengarkan “Better” pada Oryza. Menurut saya, ini lagu terbaik dalam album Chinese Democracy. 
Awalnya Oryza tak acuh. Ia hanya mendengar lamat-lamat saja. Tapi ketika  Axl mulai bernyanyi, Oryza sedikit menaruh konsentrasi. Puncaknya, saya memberikan headset agar Oryza bisa mendengar lebih jelas.
Oryza tersenyum. Bukan senyum bahagia. Melainkan senyum malu. Malu karena ia tahu kalau lagu “Better” itu sangat paten.
“Hehehe, enak pancen lagu iki (lagu ini memang enak)” tutur Oryza sembari tersipu.
Tapi ia masih belum mau mendengar lagu-lagu lain. Mungkin lain kali saya akan mencekokinya.
“Sing laine gak kiro enak, tapi ‘Better’ iki pancen enak (Yang lainnya gak mungkin enak, tapi ‘Better’ ini memang lagu enak)” kata Oryza.
Hujan sudah sedikit hilang. Tinggal sisa-sisa yang berjatuhan. Oryza pamit. Mau pulang. Kangen istri dan anak mungkin. Seharian Oryza melakukan reportase, menulis, lalu mengirimkannya via warnet di daerah kampus Universitas Jember. Ia ingin menghabiskan hari di rumahnya.
Saya segera mendegut tetes terakhir kopi saya. Memasang helm. Juga jas hujan. Hujan kembali turun. Jember basah… []
—————
Post-scriptum: Mendadak malam ini saya ingin menulis tentang Mas Oryza. Saya berhutang banyak sekali padanya. Berkatnya, saya mengenal jurnalisme sastrawi. Sepengamatan saya, Oryza juga lah yang memperkenalkan genre jurnalisme sastrawi ke pers mahasiswa di Jember. Tolong koreksi saya jika salah.

Hingga sekarang saya masih terus mempelajari genre itu. Agar bisa menulis dengan panjang dan memikat seperti mas Oryza. Anggap saja ini bentuk pelunasan hutang budi, juga pertanggung jawaban moral pada beliau. Mungkin jauh sekali mutunya jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan mas Oryza. Tapi saya janji, saya akan terus belajar. Agar setidaknya bisa menyamainya. Selain itu, tulisan ini kurang begitu dalam. Sebab hanya berdasarkan remah ingatan dan tulisan-tulisannya. Lain kali saya akan mewawancara Mas Oryza secara khusus dan menggali lebih banyak hal tentangnya.

 Oh ya, blog pribadi Mas Oryza bisa dibaca di sini.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. dari link di atas aku sampai pada karya Mas Oryza dan menyambung ke blog Pak Andreas. Baru tahu kalau ada bentuk jurnalisme naratif ini. Makasih

TINGGALKAN KOMENTAR