Push Up

129

Kegiatan rutin saya ketika pulang ke Jember adalah menghabiskan waktu bersama kawan-kawan. Seringkali yang paling seru kalau berkumpul dengan kawan-kawan SMA.
Kalau semua sedang senggang, pada tengah hari, menjelang matahari naik ke atas kepala, kami sudah duduk di warung kopi. Kalau hari sedang terik, biasanya kami memesan Joshua, yakni campuran antara satu sachet merk minuman berenergi dengan susu, lalu diberi air dan es. Segar sekali. Atau kadang kami memesan kopi mix instan dengan es. Kalau hari sedang hujan, biasanya kopi panas siap terhidang.
Kalau tidak hina-hinaan, biasanya kami membunuh waktu dengan catur. Seringkali kastanya begini: saya dan Fahmi sama kuat. Kalkulasinya jika kami bermain 10 set, tiap dari kami akan mendapatkan 5 kali kemenangan dan 5 kali kekalahan. Atau paling tidak, selisih tipis. 
Wido adalah yang paling jago diantara kami. Tanpa kami duga, ia begitu mahir mengatur bidak-bidak caturnya. Ia bisa sangat perhitungan (termasuk rela mengorbankan satu bidak penting untuk mendapatkan mangsa bidak musuh yang lebih penting), namun ia juga bisa sangat cepat dan liar. Ia sedikit mengingatkan saya pada Vinnie, karakter pecatur jalanan jagoan di film “Searching for Bobby Fischer.”
Yang lumayan mengejutkan, Dika, ternyata cukup jagoan di atas papan catur. Walaupun dalam percintaan ia selalu jadi pihak yang memble, namun dalam catur ia cukup berjaya. Setidaknya ia sering unggul melawan Fahmi, yang notabene juga pihak yang acap tiarap dalam percintaan.
Seringkali, untuk menambah greget dalam pertandingan catur, kami memberi hukuman pada pihak yang kalah. Biasanya hukumannya adalah push up 10 kali.
Entah sejak kapan kebiasaan ini ada. Seingat saya, sejak masih SMA kami selalu bertaruh push up dalam tiap pertandingan, apapun jenisnya. Mulai dari gaple, sepak bola, hingga Winning Eleven. Pernah suatu kali saya harus push up sekitar 100 kali dalam satu hari gara-gara jadi pecundang dalam permainan gaple. Sial.
Kalau sudah panas, taruhan pun bertambah. Misalkan kalau dalam game normal, push up hanya 10 kali, kalau sudah panas hukuman bisa berlipat ganda: 20 kali, atau malah 30 kali. Mungkin esok atau lusa saya akan pulang kampung sejenak. Sudah pasti saya akan berusaha agar lengan ini tak kram kena push up.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR