Selamat Tanggal 12 di Bulan ke 12

289

Aku ingat, aku marah sekali waktu kamu membunuh naga-naga peliharanku di akun facebook-mu. Iya, waktu itu kita sedang bertengkar hebat. Dan aku dengan cuek, bukannya meminta maaf dan berusaha akur kembali, malah main naga menggunakan dua akunmu. Akhirnya karena kesal, kamu membuang game Dragon City dari akunmu. Yang itu artinya: kamu membunuh naga-nagaku! How could you! Hiks.
Mungkin itu adalah salah satu hal absurd dalam hubungan kita. Hal absurd lain? Ada banyak.
Ingat gak waktu kita mau ke Bogor, pada 23 September tahun lalu? Saat itu kita sudah bersiap untuk berangkat. Tapi mendadak mukamu digelayuti mendung. Aku tanya kenapa. Dengan mata nyalang, kau malah menatapku, sembari pelan-pelan bulir air mata menetes di sudut matamu. Aku bingung. Ada apa? tanyaku pelan. Kamu dengan menahan marah bilang kenapa aku menginterupsi caramu bikin mie instan. Ha?
Saat itu, demi Toutatis, aku antara bingung dan ingin tertawa keras. Bagaimana mungkin hanya gara-gara aku menginterupsi caramu membuat mie instan, kau bisa menangis tersedu sedan. Padahal sejak pertama kali kita berpacaran, 12 Mei setahun lalu, aku menjulukimu dengan sebutan yang gahar: preman pengkolan. Air mata lantas melunturkan polesan eye liner-mu yang sudah kau sapukan beberapa menit lalu. 
Tapi toh akhirnya kita tetap ke Bogor setelah aku mengusap bercak eye liner-mu, menenangkanmu, mengadakan kesepakatan damai, dan aku berbesar hati meminta maaf. Saat itu aku tahu, salah satu cara terampuhmu dalam mengutarakan kejengkelan adalah dengan menangis. Sebelumnya aku sudah tahu kalau salah satu caramu menyirna marah adalah dengan… membersihkan kamar mandi. 
Dari tragedi “Interupsi Mie Instan” itu aku jadi tahu, kamu ingin mandiri. Kamu memang kurang cakap dalam memasak, tapi kamu ingin belajar agar suatu hari nanti kamu bisa memasak untukku. Dan dengan aku menginterupsimu memasak –padahal hanya memasak mie instan, oh betapa egoisnya aku untuk urusan dapur dan perut– itu kamu anggap sebagai halangan untuk belajar.
Setahun menjalin kasih denganmu memang membuatku belajar banyak hal. Belajar bernegosiasi misalnya. Tentang selera musik yang tak sama, atau cara bercanda yang sering kali berbeda. Atau belajar tentang bersabar menghadapimu yang seringkali keras kepala. Aku yakin kamu juga belajar menghadapi aku yang pemalas. Atau sekuat tenaga menjinakkanku yang seringkali bersikap seenaknya sendiri.
Aku yakin kita saling belajar menyamakan langkah agar tak terantuk dan jatuh. Seperti analogimu, kita sedang belajar berdansa.
Sampai di tulisan ini, aku sudah bingung mau berucap apa. Aku kutipkan beberapa paragraf dari tiga tulisan pendek yang kutulis beberapa jam menjelang kita merayakan satu tahunan.
***
Kaliurang, 11 Mei 2013
“…Pada awalnya, jangankan merayakannya dengan euforia, aku bahkan terlalu takut untuk sekedar bilang selamat 1 tahun. Sebab panjangnya waktu seringkali tidak berbanding lurus dengan awetnya hubungan. Tak jarang aku menemukan orang yang sudah berpacaran begitu lama, pada akhirnya cintanya kandas. Apalagi kita, yang baru 12 bulan melewati masa pacaran.

Namun orang-orang bijak selalu berpesan agar kita percaya pada impian. Apalagi ada pepatah yang mengatakan kalau tuhan bersama orang-orang yang berani. Maka aku berani merayakan hubungan kita yang sudah melewati 48 minggu ini. Aku juga berusaha untuk berani mempertahankan mimpi-mimpi yang kita bangun dari puing-puing masa lalu.

Perkara nanti bangunan itu hancur berantakan kembali, semoga masih kamu yang ada disampingku untuk membangunnya kembali. Atau kalaupun kita sudah tidak bisa membangunnya bersama, setidaknya kita pernah berani bermimpi. Tapi aku yakin, jauh dalam hati terkecil kita masing-masing, kita sama-sama tak ingin rumah mimpi yang kita bangun dengan tabungan rindu dan kucuran air mata ini lebur begitu saja.”
***
Condong Catur, 12 Mei 2013, 00.08
“…Malam ini berjalan cukup dramatis ya? Aku harus kerja 14 jam, masuk angin, dan dimarahi kamu. Sedang kamu maag, juga masuk angin, dan aku bawelin terus. Tapi untunglah berakhir bahagia.

Jam 12 dini hari kurang beberapa menit, aku sudah sampai di kamar kos. Beres-beres, lalu menelpon kamu. Duh, suara itu. Masih melenakan, sama seperti pertama kali saat kamu mau memberi nomer telponmu dan membiarkanku menghujanimu sms dan telpon tiap hari.”
***
Sebelum menuliskan tulisan ini, aku sudah diancam saja olehmu. “Jangan tulis kata-kata flowery words!” Maka jadilah aku bingung menulis apa. Bagaimana kalau ucapan terima kasih?
Terima kasih karena sudah membersihkan kerak-kerak luka dan trauma, hingga bersih nyaris sepenuhnya. Kalaupun ada noktah-noktah noda yang tersisa, semoga kau mau menghapuskannya dengan sabar dan tulus.
Terima kasih karena menyediakan pundak, peluk, dan juga hati, untuk aku menaruh dan berbagi semua mimpi, cerita, maupun keluh kesah. Tak ada tempat yang nyaman selain tempat yang kau sediakan untukku.
Terima kasih juga karena selalu bersedia merepetkan kata dan mencerewetiku. Agar aku tak malas mandi. Agar aku rajin menyelesaikan tesis. Agar aku giat menabung. Agar aku rajin sholat. Pacapek lah Nuran! Meski aku sering membuang muka dan menggodamu saat cerewet, percayalah, I am blessed for receiving those kinds of care. 
Terima kasih juga telah menjadi teman bertengkarku. Dari pertengkaran-pertengkaran kita, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan agar tak silap oleh hal yang sama. Agar aku bisa menyesuaikan langkahku dengan langkahmu.
Terima kasih juga karena kembali menghidupkan perasaan takut dan cemburu yang menggebu-gebu. Aku pikir bahwa aku tak bakal lagi bisa merasakan cemburu. Ternyata aku salah. Dan karena itu pula aku jadi sadar kalau kehilanganmu bisa jadi adalah ketakutan dan nestapaku yang teramat besar. Semoga tak akan pernah terjadi.
Dan terakhir… terima kasih karena selalu memberikan tempat pulang untukku. Karena selalu menjaga api-api mimpi kita tetap menyala. Karena masih mau berbagi mimpi denganku. 
Selamat satu tahun Rani Wulandari Basyir. Stay with me forever, will you?
Kebun Raya Bogor, Beberapa Jam Setelah Insiden Interupsi Mie Instan
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR