Piknik Depan Kontrakan

284
Hari Minggu memang enaknya selo. Sebangun tidur tadi, tanpa cuci muka dan sikat gigi dulu, saya pergi ke pasar Colombo untuk beli beberapa bahan masakan. Rencananya siang nanti saya mau masak ayam cola. Maka saya beli 5 potong sayap ayam (bagian ayam yang paling gurih namun paling murah), sebotol cola, bawang bombay, saus tiram, cabe bubuk, lada hitam, dan jamur kancing. 
Sesampai di kontrakan, anak-anak ternyata sudah pada bangun. Melihat saya mau memasak, mereka pada ribut. “Ayo masak yang banyak,” kata mereka. Ya sudah saya suruh mereka beli beberapa potong sayap ayam tambahan. 
“Sayurnya apa?” tanya mereka.
Saya berpikir sejenak. Tumis kangkung sepertinya lumayan cocok untuk jadi pendamping ayam cola. Akhirnya saya suruh mereka membeli kangkung, tahu, bawang daun, dan bawang merah.
Bahan akhirnya sudah terkumpul. Saya memotong-motong jamur, bawang-bawangan, dan juga menggoreng ayam setelah memarinasinya sekitar 15 menit.
Masalah baru muncul: tak ada wajan besar. Di dapur kontrakan hanya ada satu teflon kecil (ini hasil gono gini Real setelah putus dari pacarnya), dan dua wajan berukuran kecil. Itu pun sudah bocor dan harus dipatri. Akhirnya kami beli wajan baru. Diameter 15 cm. Harganya 28 ribu saja. Lumayan murah.
Akhirnya saya masak. Tumis kangkung dulu. Awalnya tahu digoreng hingga setengah matang, lalu masukkan  potongan jamur dan bawang-bawangan. Setelah itu baru kangkung dimasukkan. Diberi air dan diaduk hingga kangkung lemas dan menyusut. Setelah itu baru diberi bumbu yang mudah saja: saus tiram, sejumput garam dan gula, serta lada hitam. Tambahkan bubuk cabe kalau ingin yang lebih pedas (kebetulan tadi kami lupa membeli cabai rawit).
Masak ayam cola lebih ringkas lagi. Tinggal menumis bawang bombay, lalu masukkan ayam yang sudah digoreng di awal tadi. Lalu tinggal diberi cola. Tunggu hingga airnya menyusut dan cola-nya jadi karamel yang menempel di sekujur potongan ayam. Yumm!
Sementara saya masak, anak-anak mengeluarkan karpet di halaman depan kontrakan. Ada yang memecah es batu untuk membuat lime squash (mudah, tinggal campur soda dengan jeruk nipis), dan menanak nasi. Semuanya lalu matang bersamaan. Maka kami, total 7 orang, makan-makan di depan kontrakan. Setelah dihitung-hitung, biaya yang kami keluarkan tidak sampai 10 ribu/orang. 
Setelah kenyang, tak lupa kami cuci piring. Kata Irwan Bajang, kawan saya yang penyair itu, cuci piring setelah makan itu ciri manusia beriman. Mumpung ada banyak orang, mereka dikerahkan juga untuk bersih-bersih dapur. Real mengepel lantai dapur, sementara saya menata stok bahan-bahan masakan. Yang lain cuci piring.
Minggu sore yang menyenangkan.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. Sayang ya gan, banyak orang di negeri ini yang kurang/belum beriman (monggo pilih sendiri yang paling tepat). Mereka meninggalkan begitu saja bekas piring-piring kotor mereka di warung padang, warteg atau rumah makan (jika pernah), tanpa napak tilas yang membekas.

TINGGALKAN KOMENTAR