Ozz!

423
Dari dulu saya selalu ingin memelihara anjing. Pasalnya beberapa tokoh idola saya memelihara anjing, dan hewan itu jadi sahabat yang sangat cerdas sekaligus setia. Mulai Tintin dengan Snowy, dan Roy yang akrab dengan Joe.

Masalah saya hanya satu: saya takut anjing.

Watu kecil, saya pernah digigit anjing saat berlibur di Bali. Sejak saat itu, jangankan memelihara anjing, memegang pun saya bergidik. Mari sejenak menepikan tentang najis atau haram saat memelihara anjing. Akan sangat panjang perdebatan tentang itu.

Keinginan saya untuk memelihara anjing akhirnya kesampaian saat beberapa hari lalu, seorang kawan dengan sukarela memberikan anjingnya pada anak-anak kontrakan 316C (itu nomer kontrakan saya dan beberapa orang kawan). Sang pemberi rupanya tak boleh memelihara anjing di kosnya. Jadinya anjing itu dihibahkan pada kami.

Saat melihatnya pertama kali, saya langsung jatuh cinta. Mukanya polos sekali. Tatapan matanya melenakan. Umurnya baru 2,5 bulan. Warnanya putih gading, dari ras Kintamani.

Setelah anjing sudah ada, maka munculah permasalahan lain: nama. Entah kenapa, saya selalu bisa spontan saat memberikan nama hewan peliharaan. Dulu saya memberikan nama Axl untuk kucing saya. Sekarang saya dengan spontan menyebut nama Ozzy untuk anjing balita ini. Kawan-kawan saya langsung setuju. Kami memanggilnya Ozz. Karena Ozz masih kecil sekaligus berwajah menggemaskan, saya sama sekali tak takut dengannya. Saya berani memegangnya, bahkan menggendongnya. 
Beberapa menit setelah Ozz resmi jadi penguni 316 C, kami sadar kalau sudah tertipu dengan mukanya yang menggemaskan itu. Ozz ternyata sangat pecicilan. Ia enggan duduk anteng. Ia selalu mengitari kaki saya, mengendus, dan sesekali menggigit. Kalau ditali, ia selalu menguik, memasang tampang polos dan mengibakan. Seakan meminta dilepas agar bisa main. Dasar bandit kecil. Selain sukar diatur, Ozz juga suka menggigit sandal, plastik, dan daun. Mungkin karena dia masih kecil dan gusinya gatal, jadi suka menggigit. Mirip bayi manusia bukan?

Sejak ada Ozz, kontrakan kami selalu heboh. Ada saja tingkah polahnya yang membuat kami gemas, tertawa, dan kadang geram. Ia manja dan tak suka ditali. Tapi kalau dilepas ia suka buang air sembarangan. Ini yang merepotkan. Saat dilatih, ia malah memporakporandakan pasir di bak. Haduh! Memang sepertinya kami kurang sabar melatihnya. Kalau sudah subuh, ia sudah menguik, minta dilepas dan bermain. Biasanya Real yang bangun dan sembari menggerutu melepas dan mengajaknya bermain. Saya dan yang lainnya? Ya tetap tidur.

Sekarang kegiatan saya kalau sore adalah mengajaknya jalan-jalan. Ada banyak orang yang bertanya mengenai Ozz. Jenis apa, umur berapa, dsb. Fans Ozz beraneka ragam, mulai dari bapak-bapak penggemar anjing, adik-adik kecil yang histeris melihat bongkahan bulu berwarna putih yang bisa berjalan, hingga mbak-mbak unyu yang gemas dengan Ozz sekaligus naksir dengan yang punya. Hihihi.

Ozz selalu suka saat saya mengajaknya main. Matanya berbinar. Lidahnya menjulur. Dan ekornya bergerak-gerak. Ayo main Ozz!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR