Balada Kaset Di Ujung Zaman

359
Saya ingat betul kaset apa yang pertama saya beli.

Saat itu matahari seperti berada sejengkal saja di atas kepala. Saya bareng orang tua baru keluar dari Johar Plaza. Saat mau berjalan menuju pangkalan angkot, kami melewati jejeran pertokoan. Beberapa diantaranya adalah toko kaset. Saya hidup di zaman dimana toko kaset masih banyak ditemui.

Di Jember ada beberapa toko kaset yang ramai dikunjungi. Yang paling terkenal tentu Melodi, toko kaset terlengkap di Jember. Saat itu Melodi lah yang paling banyak punya  tape deck dan headset untuk mencoba kaset.

Sewaktu lewat di salah satu toko kaset, saya mencuri pandang ke sebuah kaset yang dipajang di rak kaca.

Karena saya agak lama melihat, ayah saya menawari saya untuk membeli kaset itu.

“Mau beli kaset?” tanya ayah saya.

Saya mengangguk girang.
Tak berapa lama kaset yang saya pandang itu berpindah tangan. Itu kaset pertama yang saya beli: Dewa 19 – Pandawa Lima.

Album itu menarik perhatian saya gara-gara video klip “Kirana” terus-terusan seliweran di televisi. Lagunya pun begitu ramah di kuping.

Kaset itu saya putar terus-terusan. Dari pagi sebelum berangkat sekolah, sore menjelang jam bermain sepak bola, hingga malam menuju lelap.

Kalau pagi saya dengar dengan tape deck, malam adalah waktunya saya mendengarkan kaset itu dengan walkman. Di malam yang biasanya senyap itu saya sering memainkan air guitar, berusaha meniru Andra yang memainkan solo gitar di lagu “Kamulah Satu-satunya”.

Hingga akhirnya kaset itu pun mendem, terlalu banyak diputar.

“Si Ari Lasso capek nyanyi tuh. Soalnya tiap hari disuruh nyanyi terus,” kelakar kakek saya yang menggemari lawakan ala srimulat itu.

***

Saya pernah masuk dalam masa kecanduan membeli kaset. Kecanduan ini bahkan mengalahkan kecanduan saya dalam membeli buku. Masa itu dimulai pada kelas 2 SMP. Saya ingat, ada sebuah lapak penjual kaset bekas di dekat tempat les bahasa Inggris saya.

Salah satu kaset yang menarik perhatian saya adalah kaset Motley Crue: Greatest Hits yang bersampul coklat dan bergambar kartun para personelnya.

Sayang harga 12.000 agak mahal untuk ukuran pelajar putih biru seperti saya. Akhirnya saya harus menabung selama dua minggu untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli kaset. Saya harus mengabaikan ajakan kawan-kawan untuk makan bakso Pak To tiap istirahat sekolah.

Saat uang 12.000 terkumpul, dengan jemawa saya datang ke lapak kaset bekas itu. Sampai sana saya malah bingung. Pasalnya saya jadi ingin membeli banyak kaset. Saya tercengang melihat kaset Guns N Roses (dari Appetite for Destruction, sampe Live Era), Skid Row (Slave to the Grind), hingga beberapa band lokal.

Tapi dengan membulatkan tekad, saya membeli  Motley Crue: Greatest Hits. Sampai rumah saya langsung memutarnya berulang kali. Bergantian dengan 40 Seasons: The Best of Skid Row.

Album Motley Crue: Greatest Hits memang jadi pintu gerbang yang kelak membuka rasa penasaran saya pada Motley Crue. Berkat album itu, saya lantas tertarik membeli album Dr. Feelgood hingga Shout at the Devil.

Saat duduk di bangku SMA, hasrat ingin membeli kaset terus berlanjut. Dengan sabar saya menabung hanya untuk membeli satu atau dua kaset tiap bulan. Begitu terus hingga saya masuk kuliah. Saya sudah mulai bisa mencari uang sendiri. Saat itulah hasrat jadi sedikit susah dibendung.

Kebetulan saya lantas berkawan akrab dengan Erwin, penjual kaset bekas yang tiap hari mangkal di depan Fakultas Ekonomi. Setiap hari seusai kuliah, saya selalu menyempatkan untuk mampir di gerobaknya yang berwarna biru itu. Saya jadi pelanggan setianya. Dan saya baru tahu saat itu kalau Erwin ternyata penjual kaset bekas di dekat tempat les saya. Yap, beberapa tahun lalu saya membeli kaset Motley Crue darinya.

Saking akrabnya dengan Erwin, saya seringkali menjaga lapaknya. Bahkan saya punya kuasa untuk masuk ke dalam gerobaknya yang sempit dan berisi ratusan kaset beserta satu buah tape deck tua. Saya pun diberi kuasa untuk menjual apabila ada pembeli.

“Gawe kaset lokal, regone 12.000. Maksimal ditawar dadi 10.000. Nek kaset barat, 15.000, paling pol mudun dadi 13.000,” ujar Erwin memberi petuah pada saya.

Erwin juga menerima gadai kaset. Saya jamak melihat orang-orang yang menjual tumpukan kaset ke Erwin. Dasar pedagang, Erwin pun membelinya dengan harga murah. Untuk kaset lokal Rp 3 ribu dan kaset barat Rp 4 ribu.

Saat itu saya baru tahu margin keuntungan penjual kaset bekas cukup besar.

Tapi bursa kaset bekas bukanlah monopoli Erwin. Ada satu orang saingan berat yang menggelar lapak pas di sebelah gerobak Erwin. Saya lupa siapa namanya, tapi saya memanggilnya Bro. Saya juga beberapa kali membeli kaset di Si Bro kalau kaset incaran saya tak ada di Erwin. Pernah pula saya diajak di rumah si Bro untuk mengambil kaset Kiss Unplugged.

Laiknya saingan, Erwin dan Bro pun saling berlomba jadi yang terbaik. Mereka tak saling menyapa. Sesekali sikap mereka seperti ibu-ibu pada arisan, saling melontarkan gunjingan. seperti misalnya Bro yang menggunjing, “Erwin itu jualnya terlalu mahal,” atau Erwin yang bergosip kalau “Bro itu kasetnya jelek-jelek.”

Saya sih tak ambil pusing dengan perang dingin mereka.

Tapi omongan mereka memang ada benarnya. Erwin memang pedagang yang mematok harga tinggi untuk kasetnya. Tapi kualitasnya selalu prima. Baik dari segi sound, sampai kualitas sleeve yang masih luks.

Bro berbeda. Harga kasetnya memang lebih murah, tapi seringkali kasetnya mendem. Karena itu saya lebih sering membeli di Erwin.

Namun semenjak saya lumayan aktif di UKPKM Tegalboto, saya semakin jarang mampir di lapak Erwin. Saya jatuh cinta dengan dunia tulis menulis dan sedikit melupakan rutinitas hedon membeli kaset.

Namun kalau sedang berkunjung di Yogyakarta, saya selalu menyempatkan diri mampir di sudut pasar Beringharjo. Di sana ada dua pedagang kaset bekas yang koleksinya lumayan top. Saya pernah bersorak karena menemukan dua kaset incaran saya sejak lama, Greatest Hits The Black Crowes dan Hollywood Vampire-nya L.A Guns, di sana.

Entah sudah berapa lama saya tak berkunjung ke lapak Erwin, tahu-tahu gerobak biru yang selalu nangkring dengan manis di trotoar itu sudah tak ada. Di sebelahnya, sudah tak ada lagi kain belacu lusuh tempat Bro menggelar dagangannya.

Inilah masa senjakala kejayaan kaset. Nyaris semua band sudah tak mengeluarkan rilisan fisik dalam bentuk kaset, melainkan CD. Tape deck sudah tak banyak dibeli, terganti oleh CD player. Walkman diganti oleh discman. Erwin dan Bro pun gulung tikar.

Saat saya memutuskan keluar dari rumah, saat itu hubungan saya dengan kaset resmi terputus. Sebabnya semua kaset saya tinggal di rumah. Saya sudah tidak pernah lagi bergelut dengan bolpoin dan pensil untuk memutar pita kaset. Tak pernah lagi asyik masyuk meneteskan alkohol di bantalan pita agar suara tak mendem. Tak pernah lagi membersihkan head tape dengan cotton bud yang dibasahi dengan alkohol. Saya juga sudah tak pernah membaca liner notes di sleeve kaset berlama-lama sembari sesekali tersenyum kalau membaca kalimat yang lucu.

Meski begitu, saya masih menyimpan dengan rapi koleksi kaset-kaset saya. Saya menyediakan wadah khusus untuk menyimpan kaset-kaset. Saat pulang ke rumah, sesekali saya membongkar kaset-kaset itu dan memutarnya untuk nostalgia, meski harus repot meneteskan alkohol ke kaset agar suaranya tak macam anak band mabuk.

Sekitar sebulan lalu saat pulang ke Jember, saya tak sengaja bertemu dengan Erwin. Kami berjabat tangan dengan erat sembari menukar senyum lebar. Entah berapa tahun sudah kami tak bertemu. Saat itu saya mendengar kabar duka.

“Kabeh kasetku wis tak dol nang Malang. Kabeh wis. Lebih paling lek 500 kaset. Ditebas 1,5 juta karo wong Malang,” kata Erwin seraya tersenyum kecut.

Lebih 500 kaset dijual 1,5 juta rupiah saja. Erwin merasakan betapa murahnya menjual kaset ke pedagang kaset. Uang itu akhirnya dipakai untuk modal usahanya sekarang: berjualan pulsa. Setelah ngobrol sebentar, Erwin pun pamitan untuk mengantar anaknya.

“Kapan-kapan mampir nang omah Ran!” ajaknya.

Saya menganggukkan kepala. Rasa-rasanya asyik kalau mampir ke rumah Erwin, meminum kopi sembari memutar kaset dan mengenang masa indah sebelum kaset menjadi barang purba. []

post-scriptum: Tulisan ini dibuat untuk ikut gegap gempita merayakan hari Cassete Store Day. Dulu sekali saya pernah (ingin) punya program rutin di blog ini. Saya namakan Just Push Play, yang isinya adalah review terhadap kaset-kaset saya dan cerita bagaimana saya dapat kaset itu. Sayang, keinginan kadang tak sesuai dengan usaha. Jadinya sampai sekarang program itu tak pernah saya lakukan. Saya hanya sempat menulis introduksinya saja.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. ah masa2 menyenangkan, saat nekat ngabisin jatah bulanan cuma utk satu kaset, itupun utk diserahkan lg utk sang gadis 😀

    dan ngebersihin head tape, saya punya trik tersendiri, murah meriah dan menjijikan, yaitu pake ujung jari yg dikasih.. air liur 😐
    tp serius itu sering saya lakukan, soale ga punya alkohol euy 😐

TINGGALKAN KOMENTAR