Mengenang Anang

159
Salah satu hal menyebalkan yang muncul saat saya bilang berasal dari Jember adalah pertanyaan: wah, satu kota sama Anang dong?
Anang yang dimaksud tentu adalah Anang Hermansyah. Kenapa saya sebal dengan pria ini? Ada banyak sebab. Yang paling mengesalkan tentu adalah sliweran drama kehidupan asmaranya di infotainment. Juga gaya Simon Cowell-esque kala ia menjadi juri salah satu acara pencarian idola instan. Belakangan rasa kesal itu makin menjadi saat ia menikah dengan Ashanti dan diarak di pusat kota Jember, dan konon acara besar-besaran ini menggunakan APBD kota Jember. Walau hingga saat ini tudingan itu belum terbukti.
Tapi satu hal yang tak bisa diingkari, meski sekarang tak lagi aktif bernyanyi lagu rock, Anang tetap vokalis yang mumpuni. Terutama di awal-awal karirnya saat bergabung dengan anak-anak Potlot di Kidnap Katrina maupun solo karir. Suara Anang muda yang masih gondrong ini berhasil membuat saya memaafkan tingkah menyebalkannya satu dekade belakangan ini. Toh ia tak semenyebalkan Ahmad Dhani, misalnya.
Malam ini entah kenapa saya tiba-tiba keranjingan mendengarkan lagu “Biarkanlah”, lagu yang melejitkan nama Anang sebagai vokalis rock beroktaf tinggi. Iya, sebelum dia terlalu sibuk menulis lagu cinta bersama Krisdayanti dan lagu tak-jelas-faedahnya-bagi-umat-manusia bareng Syahrini ataupun Ashanti, lagu “Biarkanlah” adalah simbol pemberontakan anak-anak muda  yang tak ingin jalan hidupnya diatur oleh orang tua. Hingga sekarang lagu itu bahkan masih relevan, dan sampai kapanpun sepertinya masih akan seperti itu. Lagu yang ia ciptakan bareng sobatnya, Pay Siburian, ini juga memamerkan kemampuan vokal Anang yang luar biasa.
Selain itu, belakangan saya juga sibuk mendengarkan album pertama dan satu-satunya Kidnap Katrina. Dan demi tuhan, Anang dulu sangat keren dan berkarakter. Musik yang ia hasilkan bersama kawan-kawannya pun sangat ciamik. Coba dengarkan lagu kerena “Muak”, “Depresi Mania”, atau lagu ballad andalan mereka, “Biru”. Mendengarkan musik mereka, membuat saya heran kenapa Anang bisa jadi seperti sekarang. Tapi ya sudahlah, people change. Memang terkadang masa keemasan itu lebih baik bukan untuk diulang, tapi cukup dikenang.
After all, saya ternyata tak pernah bisa benar-benar sebal pada Anang. Karena suaranya, tentu saja.[] 
post scriptum: Selain lagu “Biarkanlah”, coba simak juga lagu “Merpati” yang membuktikan bahwa Anang dulu pernah keren.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. ah Kidnap KAtrina, dulu kasetnya saya jadikan hadiah buat pacar euy waktu kelas 3 SLTA dulu *nostalgila* itu juga lebih2 karena ada lagu Biru yg mendayu itu

    dan iya Biarkanlah, single Anang yg keren, Merpati mengingatkan saya akan aransemennya INdra Q ya kalo ga salah 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR