House of Broken Love

302
Jack Russel sedang berada di puncak ketenaran pada medio 1987. Ia adalah frontman Great White, band hard rock yang tenar pada era 80-an. Lagu-lagu mereka bersliweran di tangga lagu radio. Video klip mereka jadi heavy rotation di MTV. Ini berkat album ketiga mereka, Once Bitten… (1986) yang melejitkan single “Rock Me”. Dua album Great White sebelumnya, S/T (1984) dan Shot in the Dark (1986) belum mampu mengangkat nama Great White. Namun sejak album Once Bitten…, Russel menjelma jadi idola baru banyak fans, terutama wanita.
Tak heran, ia gagah. Russel berbadan tegap dengan suara serak basah yang sangat jelas dipengaruhi oleh Robert Plant. Auranya sangat maskulin, berbeda dengan beberapa frontman hair metal yang kebanyakan beraura manis dan ‘ayu’. 
Tapi Russel adalah salah satu contoh adagium terkenal: rocker juga manusia. Meski punya banyak fans wanita dan bisa tidur dengan wanita manapun, Russel bisa juga patah hati. 
Semua berawal dari perceraian pertamanya. Russel menjadi kacau. Ia limbung. Jangankan melakukan konser, menggarap album baru pun ia malas.
Saat itu tolan setianya adalah Mark Kendall. Ia adalah gitaris sekaligus pendiri Great White bersama Russel. Gitaris yang identik dengan topi koboi berwarna hitam ini juga sedang berusaha bertahan dari cintanya yang kandas dilamun badai.
Mereka sering duduk berdua dan tidak melakukan apapun.
Suatu hari, Alan Niven, manajer mereka, sedikit gemas melihat mereka Russel dan Kendal hanya duduk dan bermalas-malasan. Sedikit menyindir dan berkelakar ia berkata, “what is this, the house of broken love?”
Dari candaan itu, Kendall mendapat ilham. Akhirnya bersama Michae Lardie –gitaris sekaligus keyboardis Great White– dan Niven, mereka menulis lagu yang kelak diberi judul “House of Broken Love”.
Lagu ini masuk dalam album keempat Great White, …Twice Shy (1987), yang sekaligus merupakan album terlaris mereka. Lagu bernuansa blues nan sendu ini berhasil menduduki peringkat 7 dalam tangga lagu Billboard Mainstream Rock Tracks.
Dalam sebuh wawancara dengan The Friday Rock Show milik BBC, Russel mengatakan bahwa lagu ini adalah, “…tentang kesendirianku saat melewati perceraian.” Tak heran liriknya pun liris.
When the night falls, and she’s leaving, 
Ooo the moon shines so cold and grey. 
Hear my heart beat ,yeah,yeah, hear me weeping 
Pain and sorrow’s here to stay, 

But I begged you baby help me, but you turned your back on me, you didn’t even listen.
You should have set me free. 
Now I’m leaving with the devil, gonna leave this search for love, 
I’m leaving with the devil, leave this house of broken love. 
***
Sejatinya, tema patah hati adalah tema yang umum dalam band hair metal. Saat itu kondisinya pas dengan permintaan industri musik yang mensyaratkan adanya –paling tidak– satu buah single ballad dalam sebuah album. Maka ada banyak sekali band yang menuliskan lagu tentang patah hati. 
Kebanyakan dari mereka menuliskan pengalaman patah hati orang-orang terdekatnya. Entah itu kawan, roadie, atau sanak saudara. Namun tak sedikit yang menuliskan berdasarkan pengalamannya sendiri. Karena itu acapkali lagu-lagu mereka mempunyai lirik yang sangat personal sekaligus reflektif. 
Seperti misalnya lagu “I Saw Red” milik band Warrant. Lagu ini muncul dalam album mereka yang paling sukses, Cherry Pie (1991). 
See red sendiri adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menyatakan amarah yang teramat sangat. Jani Lane, sang vokalis sekaligus penulis lirik Warrant, memakai frasa itu kala memergoki sang pacar –yang sudah berpacaran dengan Lane selama tiga tahun– tidur dengan karib Lane sendiri. Kejadian ini membuat Lane sangat shock.
Lane menelan kemarahan sekaligus kegetirannya itu dengan menulis lirik. Namun uniknya, Lane menulis “I Saw Red” dengan nuansa yang teramat kontras. Pada bagian sebelum reff, Lane menuliskan larik-larik indah tentang kekasihnya.
Oo it must be magic
How inside your eyes
I see my destiny
Every time we kiss
I feel you breathe your love so deep inside of me
Juga larik ini:
And if the sun should ever fail to send its light
We would burn a thousand candles
And make everything alright
Namun pada bagian reff, Lane menumpahkan rasa getirnya:
Then I saw red
When I opened up the door
I saw red
My heart just spilled onto the floor
And I didn’t need to see his face
I saw yours
I saw red and then I closed the door
I don’t think I’m gonna love you anymore
Ironisnya, lagu personal nan pilu ini justru sukses di pasaran. “I Saw Red” menjadi salah satu lagu Warrant yang paling sukses, menembus 10 besar dalam tangga lagu Billboard. Jadi bukti bahwa kepedihan bisa jadi dagangan yang laris manis.
Lane sendiri memilih untuk bersenang-senang selepas patah hatinya.
“Aku baru saja putus dengan pacar yang sudah menjalin hubungan denganku selama tiga tahun. Jadi sekarang aku bisa menulis lagu dengan tema seks liar –dan melakukannya!– yang selama ini tak bisa ku lakukan sebelumnya –karena menjaga perasaan pacarku,” kata Lane dalam suatu wawancara.
Lane tak sendiri. Kroninya, Bret Michaels dari band Poison juga mengalami patah hati yang sama hebat. Padahal Michaels frontman band terkenal. 
Pada tahun 1986, Poison merilis album pertama mereka Look What the Cat Dragged In. Album perdana ini melambungkan mereka dalam senarai band populer. Album ini berhasil menduduki nomer 3 dalam tangga album Billboard 200 pada tahun 1987. Album ini juga menjadi cetak biru bagaimana sebuah band hair metal bersikap, baik dalam lagu dan penampilan.
Meski sudah jadi rock star papan atas, Michaels juga bisa patah hati. Kejadiannya bermula pada suatu malam saat Michaels dan Poison usai manggung di Dallas. Michaels kala itu sedang berada di laundromat dan menunggu pakaiannya dikeringkan.
Kala menunggu itu ia menelpon Tracy Lewis, sang kekasih yang berada nun jauh di sana. Namun saat Lewis mengangkat teleponnya, tanpa sengaja terdengar suara desahan lelaki. Michael muntab sekaligus gulana. Ia langsung memutuskan Lewis saat itu juga.
Dan di laundromat bersejarah  itu pula, Michael menuliskan lagu yang kelak menjadi legendaris, “Every Rose Has Its Thorn”.
“Aku menulis lagu itu hanya dengan gitar akustik. Lalu aku langsung merekamnya di studio. When I wrote it, it came from my heart and soul,” kata Michaels dalam sebuah wawancara.
Lagu itu awalnya tak akan dirilis oleh label rekaman yang menaungi Poison. Mereka tak percaya kalau lagu itu bisa jadi hits. Tapi perkiraan para eksekutif label itu salah besar. 
Lagu yang lantas masuk dalam album kedua Poison, Open Up and Say… Ahh! (1988), berhasil menjadi nomer 1 dalam nyaris semua tangga lagu di Amerika. Bahkan VH1 memasukkan lagu ini dalam “100 Greatest Songs of the 80’S”.
“Label kami awalnya enggan memasukkan lagu ini dalam album. Mereka tak percaya pada lagu ini. Dan lagu ini berakhir menjadi lagu nomer satu,” kenang Michaels.
Michaels menuliskan lirik patah hati ini dengan sangat indah dan puitis. Ia memakai metafora yang sangat bagus. Michaels, pria kelahiran Pennsylvania, mengibaratkan patah hatinya sebagai luka akibat sayatan pisau, “…the wound heals, but the scar, that scar remains.”
Lukanya sembuh, namun bekasnya akan tetap ada.
***
Namun seperti biasa, para dedengkot hair metal ini terlalu akrab dengan sex, drugs, rock n roll. Patah hati hanya mereka mampir sekejap saja. Hanya berucap halo kemudian ditendang. Dan mereka kembali larut dengan kegilaan mereka. Pesta! Pesta! Pesta!
Beda dengan Russel, Lane, dan Michaels, beberapa hair rocker lainnya menuliskan lirik patah hati dengan semangat misoginis. Mereka tak sudi menundukkan kepala, melainkan mendongakkan dagu dan mencari perempuan lain. Entah untuk sekedar ditiduri, atau untuk dicintai.
Mulai dari L.A Guns yang menuliskan ballad patah hati dengan sedikit riang berjudul “It’s Over Now”, hingga keoptimisan Bon Jovi pada lagu “You Give Love a Bad Name”, dan kearoganan Mike Tramp dkk dari White Lion dengan lagu anthem sepanjang masa mereka, “Broken Heart”.
Tadi sore saat saya sedikit lelah membaca dan revisi tesis, saya iseng mengumpulkan lagu-lagu patah hati dari banyak band hair metal. Tak ada kesulitan yang berarti, karena nyaris semua hair band punya lagu tentang patah hati. Maka saya menyusunnya dalam sebuah mixtape yang saya beri judul sesuai lagu Great White, House of Broken Love
Selain nama-nama yang disebutkan di atas, ada pula lagu dari Vinnie Vincent Invasion, Vixen, Steelheart, London Quireboys hingga band asal Jepang Loudness –yang sebenarnya kurang tepat juga bila dibilang hair metal, namun tak sepenuhnya salah juga.
Saya anggap mixtape ini adalah sebuah ode untuk para hair rocker yang menyikapi patah hati dengan sangat gagah. Mengakuinya, menghadapinya, lalu kembali menatap ke depan. Kudos![]
Post-scriptum: Lagu-lagu itu bisa didengarkan di sini.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR