Menjadi Tua dan Menyedihkan

1188
Apakah menjadi tua selalu identik dengan keburukan? Apakah waktu sedemikian kejam hingga bisa membuat berubah menjadi sangat buruk hingga tak ada lagi jejak dan sisa kejayaan masa lampaunya?
Setidaknya itu yang terjadi pada Schlomo Slaughterowitz. Orang mengenalnya dengan nama panggung Mark Slaughter.
Slaughter, pria berparas rupawan, dengan hidung mancung dan dagu yang simetris sempurna, lahir di Las Vegas, Nevada. Ia lahir dari keluarga yang menggemari musik. Tak heran kalau ia bercita-cita menjadi musisi profesional.
Salah satu band pertama Slaughter adalah Xcursion. Pemain bass band ini adalah Kelly Garni, yang merupakan pendiri Quiet Riot bersama Randy Rhoads dan Kevin DuBrow. Setelah Rhoads bergabung dengan Ozzy Osbourne, Garni pindah dari Hollywood menuju Las Vegas. Di sana Garni bertemu dengan Slaughter.
Umur Xcursion tak panjang. Meski demikian, Xcursion sempat merekam album yang pada akhirnya tak pernah dirilis. 
“Kami merekamnya di studio Automatt, San Fransisco. Itu studio tempat Journey dan Y&T merekam album,” kata Slaughter.
Karir Slaughter beranjak naik saat ia pindah ke Los Angeles, pusat orbit scene hard rock dan hair metal pada era 80-an. Banyak band terbentuk dari sini. Iklan lowongan mencari rekan band banyak ditempel di tembok bar-bar seputaran Sunset Strip. Bongkar pasang personel jamak terjadi sebelum mendapat personel yang permanen.
Salah satu musisi yang mencari rekan band kala itu adalah Vinnie Vincent. Vincent, lahir dengan nama Vincent John Cusano, adalah mantan gitaris band legendaris Kiss. Ia menggantikan Ace Frehley yang didepak gara-gara berselisih paham dengan Gene Simmons.
Vincent merekam album pertamanya dengan Kiss pada tahun 1982. Album itu diberi judul Creatures of the Night. Sebenarnya album itu masih digarap bersama Frehley. Nama Vinnie disebut sebagai uncredited musicians. Baru pada album Lick it Up (1983), Vincent diperkenalkan resmi sebagai anggota Kiss.
Namun Vincent tak seberapa cocok dengan para personel Kiss. Selain masalah finansial, salah satu penyebabnya adalah kegemaran Vincent memainkan solo gitar yang panjang. Kala momen itu terjadi, para personel Kiss yang lain biasanya hanya terdiam di atas panggung, tak tahu harus berbuat apa. Pada sebuah konser Kiss medio Januari 1984, Vincent dengan berapi-api memainkan solo gitar yang panjang. Paul Stanley, vokalis Kiss, menyuruhnya untuk berhenti. Namun Vincent cuek bebek dan terus menarikan jari di atas fret berlama-lama. 
Saat konser berakhir, mereka nyaris baku hantam. 
Setelah rangkaian tur Lick It Up selesai pada bulan Maret 1984, Vincent langsung dipecat dari Kiss. Pasca keluar dari band yang identik dengan make up itu, Vincent rutin melanglang di seputaran Los Angeles untuk mencari partner band. 
Pencariannya berakhir saat ia bertemu dengan Dana Strum, seorang pencari bakat di Los Angeles. Strum , pria dengan rambut pirang yang cemerlang, adalah orang yang merekomendasikan Randy Rhoads pada Ozzy Osbourne. Awalnya Strum bahkan tak tahu siapa itu Vincent. Strum sama sekali tak pernah mendengarkan Kiss. Wajar kalau ia tak tahu siapa itu Vincent.
“Saat itu ada seseorang yang berkata pada Dana bahwa Vincent mencari anggota band, dan reaksi Dana adalah, ‘siapa itu Vincent?’ Saat dijelaskan kalau Vincent adalah mantan gitaris Kiss, ia hanya bilang, ‘oh’,” kata Mark.
Dana akhirnya bergabung dengan Vincent dalam band yang dinamakan Vinnie Vincent Invation (VVI). Rekan band lain adalah drummer Bobby Rock dan mantan vokalis Journey, Robert Fleischman yang mengisi departemen vokal.
Bongkar pasang personel pun terjadi. Hingga akhirnya Slaughter mengisi posisi Fleischman. Saat Slaughter masuk, sebenarnya VVI sudah merekam satu album bersama Fleischman. Namun ia lebih memilih untuk keluar. Karena itu beberapa video klip awal VVI menampilkan Slaughter yang lip synch suara Fleischman.
“Saat itu Robert (Fleischman) tak ingin melakukan tur. Dia hanya ingin merekam album, berfoto untuk album dan majalah, lalu selesai. Ia tak ingin melakukan hal yang lebih jauh bersama VVI,” terang Slaughter.
Hidup Slaughter berubah drastis semenjak itu.
“Hidupku langsung berbeda. Aku pernah menjadi vokalis dalam band SMA, namun sama sekali tak pernah melakukannya secara profesional,” kata Slaughter.
Konser pertama Slaughter bersama VVI saat mereka membuka legenda hidup shock rock, Alice Cooper.
“…Dulu aku adalah guru gitar, lalu sebulan kemudian aku menaruh gitarku, dan bernyanyi di atas panggung besar. Menjadi front man di hadapan 20.000 orang!” kata Slaughter yang pernah menekuni karir sebagai guru les gitar ini.
Nama VVI sebenarnya lebih melejit berkat album kedua mereka, All System Go (1988). Pasalnya ada lagu balada “Love Kills” yang menjadi OST A Nightmare on Elm Street 4: The Dream Master. Lagu ini juga berhasil mengangkat Slaughter sebagai vokalis yang bisa dengan mudah menyanyikan nada-nada tinggi.
Namun sama seperti band yang mulai membesar, banyak tekanan yang menerpa. Seperti bisa diduga, VII pecah. Saat itu Vincent berkonflik dengan Strum dan berujung pemecatan Strum. Saat itu Vincent sempat menawarkan pada Slaughter untuk memilih ia atau Strum.
“Saat itu aku memilih Dana (Strum). Ini sebenarnya karena murni persahabatan. Kami jadi sangat dekat satu sama lain saat berada di VVI,” kata Slaughter.
Akhirnya Slaughter dan Strum membentuk band baru yang dinamakan sesuai nama belakang Mark Slaughter: Slaughter. 
Saat itu almanak menunjukkan akhir tahun 1988.
***
Mark Slaughter dan Dana Strum mencari rekan band lain. Pada tahun 1989 mereka bertemu dengan gitaris Tim Kelly dan drummer Blas Elias. 
Slaughter merilis album perdananya Stick it To Ya pada tahun 1990 di bawah bendera Chrysalis Records. Album ini terjual 2 juta kopi di seluruh dunia dan menjadi salah satu album terlaris pada tahun 1990. Album ini punya semua prasyarat agar sebuah album laris. Lagu bertempo cepat yang gampang lekat di kuping (“Up All Night” dan “Mad About You”), serta lagu balada yang diwakili oleh lagu terlaris mereka, “Fly to the Angels”. Lagu ini ditulis oleh Mark Slaughter untuk mengenang kekasihnya yang sudah meninggal.
Salah satu karakter Slaughter adalah corak vokal Mark Slaughter yang serak namun mudah mencapai not tinggi. Itu tampak pada nyaris semua lagu Slaughter. Bahkan dalam salah satu pertunjukan MTV Unplugged, Mark Slaughter bernyanyi nada tinggi dengan mudah saja, macam menghancurkan kerupuk dengan kepalan tangan.
Karakter itu tetap diusung pada album kedua, The Wild Life (1992). Album ini mengandalkan single “The Wild Life” dan “Days Gone By” yang lagi-lagi memamerkan kemampuan vokal Mark Slaughter yang aduhai.
Namun sayang, karena perubahan selera pasar, band hard rock dan hair metal seperti Slaughter tak lagi laku. Album ketiga berjudul Fear No Evil baru bisa dirilis pada tahun 1995. Itupun  dianggap sebagai album yang gagal, baik secara pencapaian artistik maupun angka penjualan.
Album ini juga menjadi gong berakhirnya band bernama Slaughter. Memang Slaughter masih merilis dua album lagi, Revolution (1997) dan Back to Reality (1999). Namun selain dua album itu dianggap gagal, album Fear No Evil adalah semacam nubuat awal bahwa Slaughter sudah tamat.
Saat penggarapan album, gitaris Tim Kelly ditahan karena penjualan drugs, bassist Dana Strum mengalami patah tangan hingga tak bisa bermain bass. Yang paling parah adalah yang terjadi pada Mark Slaughter. 
Pada tahun 1992 seusai beberapa tur The Wild Life, Mark Slaughter harus menjalani operasi vocal cord nodule.
Vocal cord nodule adalah suatu kondisi dimana bertumbuhnya jaringan otot yang menumpuk pada pita suara. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh pemaksaan suara, seperti berteriak, dalam jangka waktu yang lama. Penyakit ini bisa menyebabkan rasa sakit saat berbicara, bahkan bisa mempengaruhi kualitas suara seseorang. 
Penyakit ini berdampak sangat besar pada beberapa profesi, dan penyanyi jelas adalah salah satunya. Dalam beberapa literatur kedokteran, dijelaskan bahwa operasi vocal cord nodule ini dapat mempengaruhi kemampuan penyanyi dalam mencapai not-not tertentu, dengan kata lain: sangat berpengaruh terhadap kemampuan bernyanyi.
Mark Slaughter adalah salah satu buktinya. Ia saat muda dan berjaya sepertinya terlalu mengeksploitasi pita suaranya. Akibatnya pita suaranya menjadi rusak dan harus menjalani operasi. Akibatnya fatal: suaranya tak bisa pulih sepenuhnya. Ini untuk tak menyebut Mark Slaughter sudah tak bisa lagi bernyanyi.
Jangankan untuk mencapai nada-nada tinggi semasa muda dulu, sekadar bernyanyi sesuai nada pun ia kesusahan. Suaranya jadi mengerikan. Ia bagai menelan gumpalan kain berisi paku.
“Saya memang tak berharap mendengar suara Mark seperti ia di era 90-an. Tapi bahkan kenyataannya, ia lebih parah dari yang saya bayangkan. Ia bukan saja tak bisa mencapai nada tinggi, suaranya bahkan tak cocok dengan nada musiknya,” keluh Rob Rockitt, seorang penonton yang menyaksikan Slaughter pada pagelaran M3 Music Festival tahun 2011 silam.
Namun Mark Slaughter masih terus bernyanyi walau tak lagi merdu. Banyak orang yang terkaget-kaget mengetahui betapa berubahnya suara Mark. Kekecewaan jelas muncul. Beberapa menyarankan agar Mark kembali melakukan operasi demi memulihkan pita suaranya. Yang radikal, bahkan menyuruh agar Mark pensiun dan cukup mengenang masa lalunya saja.
Pedih.
***
Mark Slaughter bukan satu-satunya vokalis yang kehilangan kemampuan bernyanyinya. Tom Keiffer dari grup hair metal 80-an Cinderella juga kehilangan suara emasnya. Penyebabnya nyaris sama: operasi pada pita suara. 
Sebelumnya, Keifer menjadi salah satu vokalis dengan karakter suara serak basah ala blues rock. Sesuatu yang sedikit langka diantara banyak corak vokal melengking ala hair metal.
Majalah Rolling Stone menyebut Keifer sebagai, “a gritty, bluesy, rocker with enough genuine swagger to draw comparisons to Mick Jagger.”
Suatu hari, tiba-tiba, iya, dengan begitu saja, suara Keifer hilang. Ia tak bisa berbicara dengan jelas, apalagi bernyanyi. Dokter kala itu tak tahu apa penyebabnya. Namun akhirnya  Keifer menjalani operasi pita suara yang sama dengan yang dilakukan Mark Slaughter. Selepas itu, ia masih harus menjalani terapi agar bisa kembali bernyanyi.
Sama seperti Mark Slaughter yang masih bisa merekam album, Keifer juga masih merilis album bersama Cinderella. Ia bahkan merilis album solo bertajuk The Way Life Goes pada bulan April 2013.
Nasib Keifer lebih baik ketimbang Mark Slaughter. Ia masih bisa bernyanyi, walau tak seprima dulu. Dalam beberapa penampilan, Keifer sudah tak mampu lagi menyanyikan lagu-lagu upbeat dari Cinderella. Namun ia masih bisa menyanyikan dengan baik lagu-lagu di album The Way Life Goes yang kebanyakan bertempo sedang dan pelan. Bahkan situs Metal Forces memuji suara Keifer, “…belum pernah sebagus ini!”
Hilangnya kualitas suara Mark Slaughter dan Tom Keifer karena operasi pita suara masih lebih tinggi derajatnya ketimbang apa yang terjadi pada Vince Neil.
Sang vokalis Motley Crue ini sama sekali kesusahan bernyanyi karena badannya makin tambun. Ia yang dituntut untuk atraktif di atas panggung, susah bergerak dengan perutnya yang membuncit itu. Hal itu berdampak pada nafas dan olah vokalnya. Salah satu penampilan Motley Crue yang paling menyedihkan adalah saat mereka tampil pada sebuah acara menyanyikan “Dr. Feelgood”. 
Neil bahkan tak bisa sekadar bernyanyi mengikuti nada. He’s absolutely out of tune. Neil tampak seperti orang yang ditinggal berlari oleh para rekannya di Motley Crue. Saat mereka semua masih memainkan instrumen dengan baik, Neil sama sekali tak bisa mengikutinya.
Suara Neil tak lagi prima bukan karena penyakit pada pita suara. Melainkan karena gaya hidup yang tak sehat. Hal ini jelas berdampak pada kualitas fisik tubuhnya yang sangat mempengaruhi kualitas suaranya. Mungkin Neil harus mencontoh beberapa koleganya yang masih cakap untuk bernyanyi walau umur tak lagi muda.
Salah satunya adalah Kip Winger.
Kip Winger adalah bassist sekaligus vokalis dari Winger, band hair metal yang populer di era 80-an. Mereka tenar dengan lagu-lagu seperti “Seventeen”, “Headed for a Heartbreak”, dan balada “Miles Away”.
Saat Winger vakum akibat merajanya musik alternatif, Kip Winger masih tetap aktif bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain. Ia rajin olahraga dan menjaga bentuk tubuhnya. Hal ini tampak dari kondisi fisiknya yang tak banyak berubah. Masih tinggi semampai. Tak tampak timbunan lemak. Satu-satunya perubahan padanya adalah tak ada lagi rambut keriting gondrong yang dulu sempat jadi identitasnya.
Yang terpenting adalah suara Kip Winger juga masih dalam kondisi prima. Dalam banyak video yang diunggah di Youtube, tampak Kip bernyanyi dengan sangat baik. Ia masih bisa mencapai nada-nada tinggi, walau sesekali meleset. Pelesetan yang merdu. Tak jauh berbeda dengan masa jayanya dulu.
Kip tak sendirian dalam rombongan penyanyi hair metal yang masih bersuara prima. Kolega lainnya adalah Jon Bon Jovi dari grup band fenomenal Bon Jovi.
Jon –sekarang berumur 51 tahun– bersama bandnya masih rutin mengadakan tur tiap tahun. Dan nyaris semua show-nya selalu sold out. Ia masih dapat  bernyanyi dengan baik. Suaranya masih bisa dalam koridor nada. Tak seperti Neil yang terkadang suaranya berada di Timur Laut sedang suara musik ada di Barat Daya.
***
Menjadi tua ternyata tak selalu identik dengan menyedihkan. Dalam kasus vokalis band hair metal, beberapa memang menjadi menyedihkan. Ada yang kehilangan rambut (cari bacaan tentang Kevin DuBrow yang konon memakai wig saat manggung), jatuh miskin, dan yang lebih menyedihkan lagi: kehilangan suara.
Mark Slaughter dan Tom Keifer adalah dua orang yang harus menelan pil pahit itu akibat penyakit pada pita suara. Namun sama seperti para gerombolan hair metal yang tangguh dan ulet, mereka masih tetap bernyanyi. Vince Neil juga begitu. 
Mungkin tidak adil jika mengharapkan mereka bisa kembali prima seperti masa muda dulu. Namun, semua fans pasti mengharapkan mereka masih bisa –setidaknya– bernyanyi. Tak perlu mencapai nada-nada tinggi. Asal tak fals pun cukup. Kip Winger dan Jon Bon Jovi mungkin bisa jadi contoh yang bagus dari slogan hair metal yang tak pernah lekang: years gone by they still kicking ass!
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. Ada beberapa komentar mas..
    Yang pertama pada kalimat: “Saat dijelaskan kalau Vincent adalah mantan gitaris Kiss, ia hanya bilang, ‘oh’,” kata Mark.”
    Itu bukannya Dana ya?

    Yang kedua, penyingkatan VII itu typo atau memang ada band lain selain Vinnie Vincent Invasion?

    Yang ketiga, mas Nuran juga udah tua. Udah menyedihkan juga. Karena nggak mau komentar soal polemik wisata tempo hari :p

    • Nah emang, makanya dalam kalimat yang diucapkan Mark itu, ia mengacu pada Dana. Ora dong? Pekok :p

      Untuk typo, udah aku benerin Git. Kemarin emang tulisan iki ra tak edit, langsung tak unggah. Hehehe. Suwun.

      Aku ra tua, aku bijak, dadi ra gelem melu polemik dangkal macam ngono :p

TINGGALKAN KOMENTAR