Dari Jogja, Jakarta, dan Jember

777
Anjing itu selalu punya aura yang mengintimidasi.
Itu adalah pengalaman bawah sadar saya yang dulu pernah dikejar dan digigit anjing sewaktu kecil. Pengalaman tak elok itu membekas hingga saya dewasa. Sampai umur seperempat abad, saya selalu bergidik ngeri kalau melihat anjing. Jika ada anjing duduk di tengah jalan, saya memilih untuk mencari jalan memutar. Intinya, sebisa mungkin saya menghindari rendezvouz dengan anjing.
Sampai saya bertemu dengan sebongkah bulu berwarna putih gading itu.
Ia anjing. Umur 2 bulan. Belum bisa menggonggong. Hanya bisa menguik. Tatapan matanya sayu. Pantatnya berisi. Ekornya suka goyang-goyang.

Ia datang di suatu pagi, saat semua penghuni kontrakan saya belum terlalu sadar benar dari tidur. Seorang kawan dari Real –salah satu penghuni kontrakan– menghibahkan anjing ini pada kami.
“Gelem gak ngingu asu?” tanya Real. 
Saya yang setengah sadar, menjawab cepat: mau!
Saat itu tak ada yang saya pikirkan. Meski saya takut anjing, saya selalu ingin punya anjing. Pasalnya? Tak jelas. Itu mungkin juga pengaruh bawah sadar, lagi. Beberapa tokoh fiksi idola saya berteman akrab dengan anjing. Membuat saya jadi ingin punya anjing suatu ketika.
Lalu datanglah si gundukan bulu berwarna putih gading itu. Saya spontan menamainya Ozzy. Kenapa Ozzy? Entahlah, dalam masa setengah bangun-setengah tidur, tiba-tiba saja nama itu muncul tak tahu dari mana.
Itu dari Ozzy Osbourne? Entahlah. Saya tak terlalu dekat dengan sang pangeran kegelapan itu. Tak terlalu menyimak takzim musik-musiknya di Black Sabbath. Bukan pula penggemar proyek solonya –kecuali saat ia bareng Randy Rhoads. Tapi nama itu muncul tiba-tiba, macam ilham bagi para pemikir.
Jadilah anjing yang berumur 2 bulan itu dipanggil Ozzy. Setelah terlanjur akrab memanggilnya sebagai Ozzy, kami lantas tahu kalau ia betina. Tak apalah. Ozzy juga nama unisex, sonder gender.
Maka mulailah hari-hari penghuni kontrakan 316 C bertambah ramai. Entah dengan uikan. Entah dengan dengus kesal Real atau Sawir karena Ozzy buang air di sembarang tempat. Kami mengajarinya untuk buang air di tempat yang disediakan, tentu. Tapi ia terlalu bandel. Pasir tempatnya buang air diacak-acak. Berhamburan. Hingga membuat Real kesal. 
Tiap sore, biasanya kami ramai-ramai mengajaknya bermain. Biasanya di depan rumah. Kami suka melempar sandal, lalu Ozzy dengan girang dan riang mengejarnya. Lalu menggigitnya, dan dengan susah payah –sandalnya lebih berat ketimbang berat badannya– membawanya kembali pada kami.
Kami juga pernah membawanya di waduk besar dekat kontrakan kami. Jalan-jalan sore. Ozzy banyak digemari para perempuan yang gemas dengan parasnya. Ia pun diuwel-uwel sedemikian rupa.
Paras Ozzy memang menggemaskan. Tak heran banyak penggemarnya. Di sekitar hunian kami, ada beberapa balita dan pengasuhnya yang rutin memanggil Ozzy tiap kali kami jalan-jalan sore. Biasanya, para pengasuh itu mencatut nama Ozzy agar sang balita mau makan.
“Hayoo, kalo gak mau makan, nanti nasinya dimakan Ozzy lho.” Dan dengan cepat, beberapa bayi itu melahap makanannya.
Ozzy mungkin bukan anjing kebanyakan. Ia jarang sekali menggonggong. Ia takut kucing. Ia gemar mengejar kupu-kupu dan ayam. Pernah ada ayam tetangga sampai jatuh ke selokan yang dalam gara-gara ketakutan dikejar Ozzy.
Namun saat menginjak 6 bulan, ia sudah mulai menggonggong. Gonggongannya keras. Kadangkala terlampau sering. Sampai membuat beberapa dari kami terganggu. Bagaimana tidak, Ozzy mulai rutin menggonggong jam 7 pagi. Saat sebagian besar penghuni kontrakan baru mulai tidur.
Biasanya kalau begitu, saya memindah Ozzy di dekat jendela kamar saya. Saya mengelus kepalanya pelan sembari memberitahunya, “aku belum tidur Ozz, jangan gonggong dulu ya.”
Ajaib, dia diam seribu gonggongan.
Di bulan-bulan penghabisan 2013, Ozzy mungkin merasa tersiksa. Pasalnya, hujan turun nyaris tiap hari. Sepanjang siang hingga petang. Membuat jadwal rutin larinya jadi terganggu. Ia tampak stress. Walau tak lama. Saya memindahkan jam larinya pagi hari, menjelang saya berangkat tidur.
Namun itu belum puncak stress Ozzy.
Titik kulminasinya terjadi waktu kontrakan kami habis masa sewanya. Negosiasi dilancarkan, agar sang pemilik mau mengontrakkan rumahnya setengah tahun saja. Sebab beberapa dari kami sudah, dan akan, lulus dalam waktu dekat. Mengontrak satu tahun merupakan kemubaziran. Tapi sayang, pemilik rumah menggeleng.
Jadilah kami berpencar. Menghuni kosan baru, masing-masing. 
Saya membawa Ozzy turut serta. Dengan senang hati tentu saja. Tempat penampungan saya yang baru punya taman yang lumayan luas di belakang. Ozzy tampaknya senang. Ia berlarian dengan riang. Sayang, Ozzy masih suka menggonggong tengah malam dan subuh. Sedikit mengganggu para tetangga.
Dan hari yang menghancurkan hati saya itu tiba juga.
Suatu pagi, seorang ibu mengetuk pintu rumah. Saya membuka pintu, dan langsung ditanya: siapa yang melihara anjing? Saya menjawab singkat: saya.
“Di sini gak boleh melihara anjing mas. Mengganggu. Di sini juga orang Islam semua, gak suka sama anjing,” kata sang ibu sedikit ketus.
Saya cuma menganggukkan kepala sembari minta maaf, dan berjanji akan memindah Ozzy siang itu juga. Sedih, tentu. Selepas ibu itu minggat, saya ke belakang. Mengelus kepala Ozzy. Terus berkhayal andai saja Ozzy bisa paham kalau ia tak disambut dengan baik di sini.
Lalu saya mulai mencari siapa yang bisa menampungnya. Barang dua-tiga bulan. Panjul, kawan baik saya yang hobi nangis itu, bersedia. Tapi ternyata sang pemilik kontrakannya sedikit keberatan dengan anjing di rumahnya. Saya pun bingung. Kembali mencari siapa yang bersedia menampung Ozzy.
Akhirnya  ide terakhir muncul di kepala: Rani.
Ia sudah lama ingin melihat Ozzy. Perempuan saya ini tentu dengan senang hati memelihara Ozzy. Setelah dihubungi, Rani setuju. Berbunga-bunga ia, karena tak lama lagi bisa bertemu dengan Ozzy. Tapi masalahnya: Rani ada di Jakarta. Itu artinya Ozzy harus dikirim ke ibu kota yang kejam itu.
Maka sore itu, saya tak akan lupa, Panjul membonceng saya yang membawa Ozzy dalam kandang besi. Berat. Panjul pun sedikit tak nyaman posisi duduknya. Ia juga memaki saya yang membual kalau bisa membawa Ozzy dan kandangnya dengan satu tangan saja.
“Matamu. Berat gini mau lu bawa pake satu tangan. Satu tangan biji lu,” maki Panjul sembari ketawa-tawa.
Tapi akhirnya Ozzy sampai juga  di pengiriman barang. Saya mengirimnya via perusahaan ekspedisi Herona. Di hari yang sama, selisih satu jam, saya juga akan pergi ke Jakarta. 
Ozzy berwajah sedih sore itu, seperti tahu bahwa ia akan mengucap pisah dengan Yogyakarta, kampung halamannya. Tempat ia berlarian dengan puas di sepetak tanah kosong di samping kontrakan. Tanah kosong itu, andai Ozzy tahu, akan dijadikan perumahan cluster sebentar lagi.
Tak sampai setengah tahun Ozz, kolam ikan tempat kau melongok-longok hingga pernah tercebur itu, akan diganti pasak beton. Lalu tanah tempat kau menginjakkan kaki dengan riang, akan diganti plester keramik. Tak ada lagi rumput yang bisa kau sesap airnya Ozz. Jadi tak usahlah terlampau sedih.
Jakarta menunggumu…
***
Maka hari pun berjalan dengan lebih ramai bagi Rani. Ia dengan cepat lengket dengan Ozzy. Sang anjing yang sekarang berusia 8 bulan ini pun seperti senang mendapat perhatian dobel, dari saya dan Rani.
Rani seringsekali memanjakan Ozzy. Dibelikan tulang-tulangan hingga dua kali. Juga tempat makan baru berukuran besar. Hingga shampoo. Tiap malam sepulang kerja, Rani mengelus punggung Ozzy hingga  anjing manja itu tertidur. 
Saat malam tahun baru misalnya, Rani dengan selo mengelus punggung Ozzy yang ketakutan karena bunyi ledakan kembang api di udara. Rani melakukannya hingga jam 1 pagi, hingga Ozzy capai dan akhirnya jatuh tertidur.
Gara-gara perhatian macam itu, Ozzy jadi sedikit lebih manja ketimbang biasanya. Ia tak mau ditinggal. Setiap ditinggal, ia menguik, semacam gestur minta perhatian.
Sayang, setelah berhasil mengelabuhi pengelola hunian Rani, akhirnya Ozzy ketahuan. Tempat tinggal Rani memang tak membolehkan penghuni memelihara anjing. Maka Ozzy pun diusir. Rani menangis sore itu. Sesenggukan.
“Kasihan kamu nak, kok diusir lagi,” katanya sembari terisak. Drama sekali. Sedang Ozzy dengan tenang menggigit-gigit tulang mainannya.
Kami berdua pun kembali pontang panting mencari orang tua asuh sementara bagi Ozzy. Saya minta saran kak Pito yang menggemari dan akrab dengan dunia anjing. Perempuan manis-tapi-single-dan-sedang-mencari-teman hidup ini menyarankan saya menghubungi Doni Iblis (@doniiblis).
Om Doni yang memang terkenal sebagai animal defender, menyarankan saya untuk menitipkan Ozzy di Rumah Terraria, sebuah rumah penampungan anjing. Sayang, rumah penitipan itu tutup hingga tanggal 10 Januari. Sedang Ozzy sudah diusir.
1 Januari 2014, kami tak akan lupa malam itu. Kami bertiga –saya, Rani, Ozzy– duduk di pos ronda depan tempat tinggal Rani. Menunggu Mico membawa motor pinjaman. Rencananya kami akan berkeliling mencari tempat penitipan anjing. Rani nangis lagi malam itu. Saya sedih, cuma tak ingin menunjukkan dengan cara dramatis macam itu.
Sayang, saat itu tahun baru. Semua tempat penitipan anjing sedang libur. Untung kami bisa melobi pemilik hunian Rani, jadi Ozzy bisa menginap semalam di taman. Esoknya, 2 Januari, Ozzy menghuni sebuah kandang di pet shop seputaran Tebet. Sementara itu, kami masih sibuk mencari orang tua asuh sementara.
Ternyata tak gampang mencari orang tua asuh bagi anjing. Ada banyak pertimbangan. Seperti, apakah mereka terbiasa memelihara anjing? Apakah mereka mau repot? Atau apakah tetangga mereka tak keberatan? Ya pertimbangan-pertimbangan macam itu juga perlu kami pikirkan agar kedua belah pihak sama-sama tak rugi.
Akhirnya, di hari ke 5 Ozzy dititipkan, Orin, adik saya, memberitahu kalau kawannya bersedia menampung Ozzy barang 2-3 bulan. Sampai saya dan Rani tinggal bersama di Jakarta.
Rumah sang kawan ada di Jember. Kota itu pula yang mendasari kami setuju Ozzy pindah ke sana. Jember kampung halaman saya. Jadi saat saya pulang, saya bisa menengoknya. Lagipula, kawan adik saya itu tinggal di rumahnya sendiri. Tak ada yang berkeberatan ia memelihara anjing. Bagus lah.
Akhirnya kami membawa Ozzy ke stasiun untuk dibawa ke Jember. Ke timur. Nyaris 1000 km. Membawa Ozzy ke stasiun Jakarta Kota pun penuh pengorbanan. Tak ada taksi ataupun bajaj yang mau membawa anjing. Kami maklum. Bulunya rawan mengganggu kenyamanan penumpang berikutnya.
Akhirnya satu ojek mau membonceng Rani dan Ozzy. Sedang saya membawa kandang besinya naik kereta api. 
Kami menghabiskan sore itu di stasiun Jakarta Kota. Di gudang milik Herona, sebuah ekspedisi pengiriman yang tak berkeberatan mengirim anjing.
Gegana memerah. Mata Ozzy juga merah. Ya, ia menangis. Sukar dipercaya memang. Tapi saya melihatnya sendiri, bagaimana matanya memerah, lalu basah. Tak ayal, Rani, lagi-lagi, turut menangis.
“Duh anakku, yang sabar yaaa,” kata Rani sembari mengelus Ozzy dan sesekali memeluk. Drama.
Kami di stasiun sekitar 2 jam. Saat jarum pendek jam bergerak ke arah angka 5, kami pun berpisah dengan Ozzy. Ia menuju timur. Tanpa kami yang akan menjemputnya di sana.
So long Ozzy!
***
Kemarin sore Orin mengabari kalau Ozzy sudah sampai. 24 jam perjalanan Jakarta-Jember. Ozzy insyaallah tak kelaparan atau kehausan. Sebab saya menitipkan Ozzy pada seorang petugas penjaga di kereta. Dengan imbalan salam tempel tentu saja. Tak ada yang gratis di dunia ini bung.
Orin mengirimi saya foto Ozzy. Ia tampak lelah dalam kandang besinya. Orin tetap setia mengirimi kabar ke saya yang sangat cerewet menanyakan setiap perkembangan Ozzy.
Ozzy dirawat teman adik saya. Namanya Demi Nugraha. Teman SMA sekaligus teman kuliah adik saya. Saya dikirimi gambar terbaru Ozzy tadi pagi. Ia tampak tenang bersantai di depan rumah Demi. Saya senang, tampaknya rumah Demi nyaman.
“Nanti sore mau diajak jogging,” kata Orin.
Mungkin Ozzy akan ada di Jember 2 hingga 3 bulan. Hingga nanti bulan April atau Mei, saat saya sudah menetap di Jakarta –kemungkinan besar. Saya dan Rani sekarang sedang mencari kontrakan, yang ada halaman, walau tak terlalu luas. Supaya bisa menampung Ozzy. 
Sekarang sabar dulu ya Ozz. Puas-puasin bermain di Jember. Semoga kelak, kita bisa pindah ke kota itu lagi.
Salam peluk dari jauh.
Teman baikmu.
Tebet Raya, 9 Januari 2014.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR