Laki-Laki Pemalu

521
Saya selalu menganggap “Laki-Laki Pemalu” dari band Efek Rumah Kaca adalah sebuah ode untuk Nody Arizona. Nody, pria berambut andan dengan senyum yang terkulum sering, adalah lelaki pemalu dalam lagu itu.
nanti malam kan ia jerat rembulan
disimpan dalam sunyi hingga esok hari
Nody jarang berbicara banyak. Kalaupun berbicara, kata-kata seakan tersedak dalam tenggorokan. Ia susah mengutarakan sesuatu dengan baik dan lancar. Puthut EA, sang mentor Nody dalam pekerjaan, seringkali meledek Nody.
“Kalau mau jelasin sesuatu, jangan Nody yang ngerjain.”
Nody, sang lelaki yang sering tersipu itu hanya bisa tertawa kecil jika diledek demikian.
Sudah sekitar satu bulan saya tinggal bareng Nody. Obrolan kami pun tak terbilang banyak. Hanya sesekali saja. Selebihnya ledek-ledekan. Tapi saya sering mengamati tingkahnya.
Ia biasanya baru berangkat tidur saat matahari pas diatas kepala. Ia bisa tidur 6 jam. Kadang 9 jam. Tapi sering pula tidurnya terganggu. Nody betah sekali berada di depan laptop. Dengan headset menempel, ia betah menulis atau mengedit kerjaan. Kadang ia ke dapur. Menjerang air, membuat kopi. Ia suka kopi dengan sedikit gula. 
Kadang kalau tak bisa tidur dan bingung melakukan apa, ia tiba-tiba datang ke kamar. Lalu duduk di sebelah saya. Tapi tak bicara apa-apa. Semacam minta ditanya, “kenapa Nod?”
Biasanya kalau saya melakukan itu, ia hanya akan bilang “gak kenapa-kenapa” sembari bangkit dari kasur dan pergi lagi. Dasar aneh.
Kadang ia hanya melongok saya di kamar sembari meledek, “galau Can?” Lengkap dengan cengengesnya yang seringkali membuat saya tertawa. Ia memanggil saya Can, singkatan dari Macan. Saya juga memanggil Nody dengan sebutan yang sama.
Macan adalah julukan kami, anak-anak Jember, untuk pria yang punya banyak sejarah dengan perempuan. Itu mengacu pada Sandi Macan, bocah kecil yang dengan bangga menasbihkan dirinya sebagai macan kimpet, alias women conquistador. Sang penakluk perempuan.
Tapi Nody tak demikian. Ia tak punya banyak sejarah dengan perempuan. Setidaknya, tak banyak yang diketahui oleh kawan-kawannya.
Arys Aditya, karib Nody, pernah berkata pada saya suatu ketika. “Nody gak pernah pacaran seumur hidupnya.” Saya terkekeh.
Entah ada hubungannya atau tidak dengan sifat pemalu Nody. Saya rasa ada. Perempuan Indonesia, terutama mereka yang besar dengan kultur konservatif, akan selalu bersikap menunggu. Bergerak lebih dulu dalam hal cinta, bagi mereka, adalah hal yang tabu.
Kebiasaan macam ini lah yang menyulitkan Nody dalam mencari kekasih. Nody, sepertinya, bukan tipikal pria yang akan lancar mengucap kata cinta. Menjelaskan letak rumah seorang kawan saja ia kesusahan, bagaimana mungkin ia bisa mengucap kata cinta dengan lancar.
Kelu pasti akan terkumpul di ujung lidah. Dari titik ini pula saya semakin yakin kalau “Lelaki Pemalu” adalah lagu untuk Nody.
berharap gadis mengerti hatinya
tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu
Nody sedikit mengingatkan saya dengan Cholil Mahmud, sang penulis lirik lagu itu sekaligus yang menyanyikannya. Saya tak kenal Cholil. Hanya pernah bertemu dan ngobrol satu kali selepas Efek Rumah Kaca manggung di depan perpustakaan Universitas Indonesia.
Bagi saya, Cholil juga sama pemalunya dengan Nody. Ia kalem, tenang, irit bicara, namun punya stok senyum yang melimpah. Namun Cholil, pria dengan tatanan rambut belah pinggir 80-an itu, punya kata-kata dan musik sebagai senjata.
Para perempuan tak perlu mendengar kalimat cinta dari Cholil. Ia menuliskannya. Dan para perempuan akan berebutan untuk berusaha memahami Cholil.
Sedangkan Nody sebaliknya. Ia tak pandai menulis kata cinta. Pria berkulit putih ini jauh sekali tertinggal dengan para kawan-kawan baiknya di Jember, semisal Halim Bahriz atau Arys, yang fasih merangkai kata-kata romantis nan lembut.
Nody terlampau sibuk dengan tulisan ekonomi, sepertinya
Tapi di beberapa kesempatan, Nody seperti melempar sinyal kalau ia menyimpan jiwa harimau dalam dirinya. Pemburu yang ulung.
Saya tahu ada beberapa perempuan yang dekat dengannya. Tapi Nody tak kunjung juga punya pacar. Mungkin karena ia pemalu. Mungkin juga ia sedikit takut menjalani hari dengan perempuan yang mengikatnya.
Sebenarnya tak punya pacar itu adalah hal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan. Tapi entah kenapa, kami, para kawan-kawan Nody, suka sekali meledeknya perkara remeh macam itu. Senjata terbaru kami adalah: bahkan adik Nody sudah menikah.
Nody punya satu orang adik. Perempuan. Beberapa waktu lalu sang adik menikah. Nody yang jadi walinya, karena sang ayah sudah lama tiada. Biasanya kami meledek Nody, “adiknya saja sudah nikah, kakaknya belum pernah pacaran sama sekali.” Nody biasanya hanya bisa mesem-mesem malu kalau diledek demikian. 
Sebenarnya tak terhitung berapa kali Nody dijodohkan. Pernah mas Puthut dengan sengaja menyuruh Nody untuk mengambil sebuah undangan. Sebenarnya bisa saja undangan itu dititipkan. Tapi mas Puthut sengaja menyuruh Nody yang mengambil. Ternyata undangan dipegang oleh seorang perempuan. Nody sadar akan usaha penjodohan itu. Tapi sayang, perjodohan tak lancar.
“Opone, wong mbake lemu,” kata Nody bersungut-sungut. Kami tertawa. Nody rupanya tak suka perempuan yang sentosa.
Belakangan ini, Markaban Anwar, senior kami di kantor, turut serta meledek Nody. Mas Anwar sedang berusaha menjodohkan Nody dengan perempuan kenalannya. Tapi Nody, lelaki yang selalu menunduk kalau sedang berbicara dengan orang lain, hanya bisa tersenyum malu. Sepertinya perjodohan kali ini akan menemui kuldesak lagi.
Sebentar lagi bulan Februari. Beberapa orang menyebutnya sebagai bulan kasih sayang. Mas Puthut, setengah meledek setengah serius, seperti mengultimatum Nody agar segera punya pacar.
“Duh, marine Februari. Kudu nduwe pacar iki,” kata Nody sembari tertawa-tawa kalau mengingat perkara itu.
Carilah perempuan yang tak pemalu juga Nod, saran saya suatu ketika. Entah ia ingat atau tidak. Repot kalau Nody jatuh cinta dengan perempuan pemalu, yang bahkan sekedar melempar tanda-tanda pun segan. Kalau begitu, bisa-bisa mereka hanya bersandiwara dan menunggu.
lelah berpura pura bersandiwara
esok pagi kan seperti hari ini
menyisakan duri, menyisakan perih
menyisakan sunyi… []

Post scriptum: Lha pas saya unggah tulisan ini, Efek Rumah Kaca gaya baru (baca: Pandai Besi), mengeluarkan official video clip “Laki-Laki Pemalu”, lihat di sini.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR