Nollywod dan Kebetulan Itu

264
Beberapa hal besar memang kadangkala dimulai dari suatu kebetulan.
Kenneth Nnebue adalah seorang pedagang biasa di pinggiran kota Onitsha, sebuah kota di tenggara Nigeria.
Kala itu ia punya stok kaset video kosong dalam jumlah besar. Pikirnya waktu itu, ketimbang menjual dalam keadaan kosongan, akan lebih menguntungkan bila ada sesuatu dalam kaset video itu. Maka ia iseng menulis film Living in Bondageyang lantas diproduksi langsung dari kamera video ke kaset video.

 

Sang Legenda

Film itu berkisah mengenai seorang lelaki yang mendapatkan kekuatan super dan kekayaan dengan cara membunuh sang istri dalam sebuah ritual. Sang istri kemudian menjadi arwah gentayangan dan menghantui sang suami sialan itu.
Tak dinyana, film ini laris keras. Setelah digandakan, film ini laku sebanyak 750.000 kopi. Tarikh menunjukkan angka 1992. Living in Bondage —dibuatkan film sekuelnya, walau tak selaris pendahulunya lantas menjadi pemicu derasnya industri film di Nigeria. 
Industri film di Nigeria yang dimulai dari suatu kebetulan itu lantas dikenal dengan sebutan Nollywood.
***
Tanpa banyak diketahui orang, Nollywood sudah menyalip Amerika Serikat dalam hal jumlah produksi film tahunan sejak tahun 2009. Berdasarkan survei dari UNESCO Institute for Statistic, industri film Nollywood berada pada posisi nomer dua, hanya kalah dari Bollywood, industri film di India.
Sepanjang rentang 2005 hingga 2009, Bollywood memproduksi rata-rata 1.178 film tiap tahun. Nollywood menyusul di belakangnya dengan produksi film berkisar 1.093 per tahun, jauh meninggalkan Hollywood yang hanya memproduksi 485 film tiap tahun.
Dalam sektor tenaga kerja, industri film Nigeria menyerap jutaan tenaga kerja. Terbanyak kedua setelah sektor pertanian. Berdasarkan penghitungan dari National Film and Video Censors Board Nigeria, industri film ini menghasilkan perputaran uang sebesar $200 juta hingga $300 juta tiap tahun.
Teco Benson, seorang produser dan sutradara asal Nigeria menyambut hal ini dengan gembira. “Ini adalah alat pemasaran baru Afrika!” tukasnya girang sembari menyebutkan bahwa Nollywood adalah industri adidaya nun digdaya dalam jagat film dunia.
Babad perfilman di Nigeria sebenarnya bukanlah cerita baru. Terhitung sudah sejak dekade 60-an, industri film Nigeria mulai menggeliat. Beberapa sineas awal seperti Ola Balogun sudah mulai memproduksi film yang lantas beredar lokal. Ola seringkali dianggap sebagai sineas gelombang awal Nollywood. Hingga akhirnya industri film Nigeria benar-benar meledak saat Living in Bondage muncul.
Sebenarnya agak sedikit mengejutkan bahwa industri film Nigeria, negara yang dikenal sebagai penghasil minyak, bisa berkembang sedemikian besar. Namun tentu ada faktor pemicu berkembangnya industri ini. Salah satu faktor utama adalah, para sineas Nigeria lebih memilih memakai kamera video biasa (dan sekarang memakai kamera digital) ketimbang memakai kamera 35mm yang umum dipakai untuk membuat film. Ini membuat ongkos produksi jauh lebih murah, sehingga film bisa diproduksi dengan mudah. Walaupun hasilnya seringkali dianggap sebagai kualitas gambar kelas kambing.
Faktor kedua adalah adanya layanan televisi berbayar MultiChoice, yang menyediakan empat saluran film, diputar selama 24 jam, yang khusus memutar film-film Afrika, kebanyakan adalah produksi Nigeria. Dua dari empat saluran ini memutar film dalam dua bahasa utama Nigeria, Yoruba dan Hausa.
Sedangkan di kawasan Afrika Tengah,  para pedagang keping film bajakan hanya menjual film Nollywood dalam rak film Afrika. Film Nollywood juga dialihbahasakan ke bahasa dan dialek lokal, yang membuat penyebarannya makin masif. Di Kamerun dan Gabon, bahasa Nigeria dialihbahasakan ke bahasa Perancis, bahasa utama di dua negara itu. Di Kongo, bahasa Nigeria disulihsuara ke dialek Lingala.
 

Penjaga Lapak VCD Bajakan di Lagos, Nigeria

“Nollywood jauh meninggalkan Hollywood,” kata Barnabas Eset, yang sejak tahun 2000 menyewakan film Nollywood dan Hollywood di Gambia.
Faktor-faktor itu yang membuat Nollywood bisa berjaya di benua Afrika. “Orang Afrika lebih banyak menyaksikan film (produksi) Nollywood ketimbang Hollywood,” cetus sutradara dan produser film lokal, Zeb Ejiro.
Meski demikian, suara sumbang toh tetap terdengar. Terutama berkaitan dengan kualitas film. Situs berita Independent menyebut film Nollywood sebagai film microwave, yakni film dengan masa pembuatan yang singkat, berkisar tiga hingga empat minggu. Ditambah dengan jalan cerita yang nyaris seragam dan seakan menggambarkan kondisi aktual Nigeria: korupsi, penipuan, peredaran narkotika, perdagangan manusia, cinta segitiga, juga dunia sihir, dan hampir semua berakhir bahagia. Dengan kata lain: Nollywood besar kuantitas, namun nihil dalam pencapaian kualitas.
Tapi Obi Emelonye berusaha mengubah citra negatif macam itu.
Obi, sutradara kelahiran Nigeria berumur 47 tahun, seringkali dianggap sebagai wajah baru Nollywood. Pada tahun 2011, sutradara yang juga pengacara ini menulis dan menyutradarai The Mirror Boy, sebuah film drama fantasi yang berkisah tentang seorang bocah Afrika-Inggris yang hilang di tengah belantara rimba Afrika. Film ini berhasil mendapatkan 3 nominasi di African Movie Academy Award, ajang penghargaan tertinggi untuk film di jazirah Afrika.
Obi adalah sutradara yang visioner. Ia menerabas semua pakem film Nollywood. Ia memakai anggaran dana besar, menulis jalan cerita yang tak umum di Nigeria, memakai artis luar negeri, hingga menghasilkan gambar dengan kualitas jempolan. Tujuannya jelas: menarget penonton global.
Tapi jalan menuju ke sana memang tak mudah. Masalah klasik macam birokrasi berbelit selalu menghadang.
“Tantangan terbesarnya adalah bernegosiasi dengan para birokrat, itu benar-benar mimpi buruk,” kata Obi dalam wawancara dengan situs berita Business Day.
Pada tahun 2013, Obi menggarap film Last Flight to Abuja, film thriller yang diadaptasi dari kisah nyata, berkisah tentang pendaratan darurat pesawat Flamingo Airways. Dengan biaya sekitar $ 250 ribu –enam kali anggaran normal film Nigeria– Film ini mendapatkan pemasukan $ 350 ribu, menjadi film dengan jumlah pendapatan terbesar di seluruh Afrika Barat pada tahun 2012. Last Flightbahkan ditayangkan hingga London. Namun besar pendapatan juga berbanding lurus dengan besaran suapnya.
“Setiap hari, saya harus memberi uang kepada pihak berwenang agar bisa terus mengambil gambar,” keluh Obi.
Namun Obi tak bergerak sendirian. Banyak sutradara muda yang ikut turun gelanggang demi mengubah citra negatif Nollywood. Salah satunya adalah Biyi Bandele.
Biyi adalah salah satu sutradara muda Nigeria yang juga digadang-gadang bisa mengubah wajah kelam industri film Nigeria. Ia termasuk sutradara “sekolahan”. Ia pernah mempelajari drama di Universitas Obafemi Awolowo. Anak dari seorang veteran perang Burma ini juga pernah memenangkan kompetisi International Student Playscript pada tahun 1989. Setahun kemudian Biyi pindah ke London.
Pada tahun 1994, Biyi memenangkan penghargaan Best New Play di Festival London New Plays lewat naskahnya Two Horsemen. Sejak saat itu, karirnya menanjak. Pada tahun 2000, Biyi tercatat sebagai penerima beasiswa doktoral Judith E. Wilson di Universitas Cambridge.
Pada tahun 2013, Pria kelahiran Kafanchan, daerah di Utara Nigeria,  menyutradarai Half of Yellow Sun. Ini adalah film yang diadaptasi dari novel terkenal berjudul sama karya dari penulis Chimamanda Ngozi Adichie.
Film ini dengan gagah memajang Chiwetel Ejiofor (nominator Oscar dan Golden Globe), dan Thandie Newton yang pernah bermain dalam film semacam The Pursuit of Happyness dan Mission: Impossible II. Film ini konon menelan biaya hingga $ 8 juta, yang membuatnya dinobatkan sebagai film Nollywood termahal sepanjang sejarah.
Film ini sudah diputar perdana dalam ajang Toronto’s International Film Festival 2013. Film ini akan serentak diputar di seluruh dunia pada awal April 2014. Biyi sang sutradara berharap film ini akan mengubah kemudi Nollywood ke arah yang lebih baik.

“Masa depan film Nigeria sangat bagus. Ada banyak pembuat film muda di Nigeria. Beberapa tumbuh dengan tradisi Nollywood, yang lain adalah hasil dari sekolah film. Dan kita hanya tinggal memadukan bakat macam itu, dan saya tidak sabar menunggu hasilnya,” pungkasnya. []
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR