Paralel

164
Kenangan adalah sesuatu yang rangup. Betapa mudah ia terberai ketika dihantam waktu…
Saya dulu pernah menghabiskan waktu nyaris setahun dengan menjadi penduduk Raden Patah. Itu nama ruas jalan tempat SD saya. Saat itu saya kelas 6  SD. Orang tua saat itu menitipkan saya dan Kiki ke rumah saudara jauh.  Ngekos. Tujuannya? Agar kami les di rumah guru setiap hari.
Jadwalnya begini.
Subuh, sekitar jam 4.30, saya dan Kiki bangun. Lalu, dengan mengantuk, kami akan berjalan kaki ke rumah Bu Aisyah, kepala sekolah kami. Di sana kami belajar, diawasi langsung oleh Bu Aisyah yang setia membawa tasbih dan berdzikir. Teman kami waktu itu ada tiga orang: Hendra, Arif Adiwena, dan Distia, satu-satunya perempuan yang ikut les.
Mereka bertiga kos di rumah Bu Aisyah. Saya dan  Kiki awalnya juga akan ngekos di rumah Bu Aisyah. Tapi saat itu kosannya penuh. Jadilah kami tinggal di rumah saudara kami. Kamar kami lantas kedatangan satu kawan lagi:  Fauzi. Saya ingat sekali wajahnya. Jidatnya lebar. Bibirnya agak mancung. Kawan-kawan kami menjulukinya Suneo. Jahat benar.
Fauzi punya dua kebiasaan sewaktu tidur: mangap, dan tidur dengan separuh matanya terbuka.  Aneh benar, batin saya. Bertiga, kami hidup bersama dalam satu kamar sempit ukuran 3×4.
Kami les subuh hingga jam 6.30. Lalu kami pulang ke kos, mandi, sarapan –biasanya mie rebus dan telur–, baru sekolah hingga sore.
Selepas sore hingga Maghrib adalah jam bebas, sebelum kami harus les selepas Maghrib hingga pukul 8 malam. Di masa senggang,  kami biasanya bermain sepak bola dengan anak-anak di dekat kosan kami. Saya masih ingat dengan baik beberapa di antara mereka.
Iping, dia satu tahun di atas saya. Jago main bola. Paling pintar di antara kawan-kawan satu kelompok. Setidaknya dilihat dari sekolahnya.  Ia murid SMP2,  sekolah paling favorit di Jember.
Ada pula Mat. Kulitnya hitam. Paling bengal. Tapi sering menangis kalau digampar ibunya. Sobat kentalnya adalah Wiwit. Beda dengan Mamat yang dari wajahnya saja bisa dilihat kalau ia anak tengil,  Wiwit berwajah cool. Kulitnya bersih. Matanya sedikit sipit. Rumahnya pas di samping rumah Bu Aisyah. Wiwit suka berkelahi. Ia kidal, karenanya  hobi shadow boxing memukul dengan tangan kiri.
Terakhir saya berjumpa Wiwit pas kelas 2 SMP. Ia masih ingat saya. Sore itu saya baru pulang les di kawasan Pertokoan Mutiara. Selagi menunggu angkot, saya disapa olehnya. Waktu itu Wiwit bekerja sebagai pedagang buah  di Jl Gajah Mada. Setelah perjumpaan itu saya tak pernah bertemu dengan Wiwit lagi.
Ada lagi yang namanya Agok,  badannya kekar.  Kulitnya legam. Paling lihai main bola diantara kami. Umurnya setahun di atas saya. Kalau tidak salah ia bersekolah di MTS. Ia bahkan bergabung dengan klub bola lokal dan sering ikut pertandingan antar kampung. Namanya lumayan terkenal sebagai gelandang bertahan. Satu lagi yang saya ingat dari dia, betisnya kekar bukan main. Ia sangat membanggakan betis yang membuatnya sanggup bermain bola selama 90 menit tanpa kram sedikitpun.
Kawan saya yang lain adalah Holis. Meski usianya sepantaran dengan saya, badannya bongsor. Tinggi besar. Namun ia kurang begitu pandai dalam pelajaran. Saya sering mengajarinya membuat PR.  Kami lumayan dekat. Pasalnya, rumahnya pas di sebelah kosan saya. Kadang saya ke rumahnya untuk menumpang nonton tv. Orang tua Holis membuka toko kecil di samping rumah. Holis sering sekali mencuri permen dan jajanan, dan ia bagi dengan saya. Meski bongsor, raut muka Holis lucu. Polos. Ia juga sering ingusan. Entah kenapa. 
Kami bertemu lagi sewaktu SMA. Ia masih mengenal saya dengan baik. Badannya jadi lebih besar. Saya pernah melihat ia berkelahi dalam sebuah tawuran epik dengan gerombolan kakak kelas di lapangan sepak bola, di sore yang ditingkahi hujan deras. Holis meluncurkan upper cut ke pelipis lawan. Crot! Darah mengucur deras dari pelipisnya. Tinju Holis maut juga. Kadang saya tertawa membayangkan ia meninju dengan ingus bergelantungan. Hehe. Sayang, karena bengal, menjelang kenaikan kelas ia dikeluarkan dari sekolah. Sejak itu saya tak pernah mendengar kabarnya lagi.
Diantara semua kawan-kawan baik itu, saya paling akrab dengan Dona. Saking akrabnya, saya ingat banyak hal tentang dia. Namanya sedikit aneh untuk anak lelaki. Kulitnya putih. Rambutnya berponi.  Dan berkacamata.  Tampang nerd.  Tapi ia jago main gitar.  Saya masih ingat gitarnya: Yamaha dengan senar nilon. Dan ada stiker Sex Pistols di badan gitar. Dulu saya pikir Sex  Pistol itu adalah perempuan yang bermain seks dengan pistol. Aneh sekali, pikir saya sembari bergidik ngeri.
Hingga Dona berbaik hati menjelaskan kalau Sex Pistols itu nama band punk. Hehe. 
Saya kagum dengan Dona. Ia pandai. Selera humornya juga baik. Seingat saya kami sering tertawa bareng, walau lupa menertawakan apa. Yang paling membuat saya terpukau adalah permainan gitarnya. Ia lancar memainkan lagu “Dongeng” dari band Wayang yang sedang ngetren kala itu. Kalau dipikir-pikir sekarang, ketertarikan saya untuk belajar bermain gitar mungkin karena mengenal Dona dan melihatnya bermain gitar.
Selepas SD, saya kembali ke rumah dan tak pernah menginjakkan kaki ke Raden Patah lagi. Saya pun putus kontak dengan kawan-kawan di sana.
Hingga akhirnya saya menemukan kontak Dona dari Nova, sahabat saya semenjak SMA. Rupanya dulu ia satu SMP dengan Dona. Nova memberikan alamat Facebook Dona. Tanpa menunggu lama, saya add. Tak lama berselang, permintaan berteman saya disetujui. Langsung saya mengirimkan wall.
“Dona, ini Nuran. Sik eling gak?”
Kemudian dibalas.
“Wah lali, sopo yo? Hehe.”

Apakah saya kecewa? Sedikit. Ini rasanya macam dilupakan oleh kawan yang pernah mengalami susah senang bareng. Sayup terdengar suara Iwan Fals di telinga.
Pernah kita sama-sama rasakan panasnya mentari hanguskan hati.  
Sahabat, masih ingatkah,  kau?
Ya walaupun tak sedramatis itu. Waktu itu kami bukan orangyang sedang menantang dunia. Hanya bocah SD dan SMP yang culun.
Saat itulah saya sadar,  memang kenangan adalah hal yang rapuh dan rawan berkhianat terhadap ingatan. Jangankan kenangan, ingatan saja begitu mudah terselip. Kenangan pula, bukanlah hal yang paralel. Bukan hal yang bersifat kembar. Apa yang kamu ingat,  belum tentu diingat juga oleh orang lain. Meskipun momen yang kalian alami  sama.
Meski kenangan saya akan Dona dan kawan-kawan lain begitu kuat, belum tentu mereka merasakan kenangan dan ikatan yang sama. Walau mereka juga ada di sana. Di momen yang sama.
Saya menceritakan hal ini pada Rani, sekitar dua jam selepas pukul 12 malam. Ia sudah terkantuk, namun masih mau mendengar celotehan saya yang lagi kumat melankolisnya.
Di tengah kantuknya, ia masih sempat-sempatnya meledek saya.
“Kamu melankolis bener deh, udah, jangan dipikirin,” katanya sembari mempukpuk kepala saya.  Sialan.
Tapi iya juga, malam itu saya sedang mengalami melankolia kambuhan.Beberapa hal kecil macam ini kerap membuat saya kepikiran. Gara-gara kepikiran itu, saya jadi tak bisa tidur. Dan menulis note ini.
Besok pasti kesiangan ke kantor. []
Post scriptum: tulisan ini selesai saya tulis jam 2.56 dini hari. Menjelang subuh. Saya masih saja kepikiran hal bodoh ini sampai adzan Subuh menggema memecah udara.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. masih mending mas, ga ketemunya bertahun-tahun, lah dulu saya pernah punya temen SD yang ketemu lagi waktu SMP, dan dia “katanya” ga kenal saya.. jadilah berburuk sangka, mentang2 punya temen baru, yang lama dilupakan, ya sudahlah… sampai sekarang juga udh ga pernah ketemu dia sama sekali

TINGGALKAN KOMENTAR