Cinta yang Sederhana

297
Foreigner, band tuwir beranggotakan opa-opa rock n roll, dulu pernah menulis lagu “I Want to Know What Love Is”. Saya kira, ini lagu paling mahsyur dari Foreigner. Sampai sekarang lagu itu masih acap berkumandang. Mulai di sekat-sekat ruang karaoke, hingga di kafe dan bar.
Gerombolan rocker yang menjalani laku kehidupan rock n roll itu ternyata masih sempat-sempatnya mempertanyakan apa itu cinta. Saya kira benar kiranya adagium: rocker juga manusia. Mereka juga pasti bertanya apa itu cinta? Apa cinta sejati itu ada? Apalagi mereka, para rock star itu, hidup dalam dunia yang artifisial. Batasan tulus dan muslihat sangatlah tipis. Nyaris tiada.
Orang mungkin terlanjur memandang cinta adalah sesuatu yang agung. Kudus. Luhur. Cinta dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Banyak orang pula yang menganggap cinta haruslah romantis. Bunga bertebaran tiap hari. Kalimat cinta diucapkan tiap saat. Karena itu, buku-buku Kahlil Gibran atau novelet cinta ala remaja selalu laris dan dicetak ulang.
Saya, dan mungkin juga anda, pasti pernah berada dalam fase itu.
Tapi setelah menikah, saya sadar bahwa cinta itu sederhana. Iya, sangat sederhana. Seperti saling pengertian siapa yang harus cuci piring, sementara yang lainnya memasak. Atau tentang siapa yang harus mengencangkan otot dan memeras peluh untuk mengangkat galon air, sementara pasangannya membersihkan rumah dan mencuci baju. Walau kadang ada repetan omelan. Walau muka sering tertekuk.
Iya, cinta ternyata hanya sesederhana itu.
Malam ini saya sepertinya pulang malam. Kerjaan menumpuk. Cukup membikin kening berkedut. Istri saya pulang lebih dulu. Ia belakangan masuk pagi, jam 8. Biasanya ia masuk kantor siang, atau bahkan sore. Karena itu, sekarang ia sering pulang lebih dulu.Sedang saya, masuk lebih siang. Saya sendiri termasuk orang yang paling malas bersih-bersih. Kabel charger laptop dan ponsel menjulur dimana-mana. Buku berserakan. Baju kotor di sembarang tempat.
Karena itu, kala berangkat kantor, kamar selalu saya biarkan seperti apa adanya. Berantakan. Dan biasanya istri saya yang dengan santai merapihkan. Untuk kemudian saya berantakin lagi. Hehehe.
Barusan, istri saya mengabari kalau sudah sampai rumah, saya kirim pesan pendek: maaf ya kamarnya berantakan. Dengan imbuhan “he-he-he” yang mungkin tampak sangat menyebalkan.
“Wis biasaaaa,” balas istri saya.
Saya tersenyum membaca balasan istri saya. Saya membayangkan ia dengan perasaan yang biasa saja, tidak kesal sama sekali, mengambil celana kotor saya dan menaruhnya di keranjang cucian. Merapikan kembali buku-buku yang saya taruh serampangan. Hingga mencuci sisa piring –ia melarang saya untuk mencuci karena tiap pagi saya bangun lebih dulu untuk membuatkan sarapan, semacam pembagian tugas– di wastafel.
Cinta, ternyata memang sesederhana itu…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.