Untuk Mereka yang Ketakutan

228
Ingat adegan dalam film Dead Poet Society? Ketika itu, John Keating, sang guru yang diperankan dengan baik oleh Robin Williams, menyuruh seorang murid untuk membacakan definisi puisi. Sang murid menurutinya.

Lalu apa yang dilakukan Keating?

“Robek halaman itu.”

Si murid kaget. Tapi Keating bersikeras.

“Iya, robek saja. Go on!”

Adegan itu, selain bersejarah, juga merupakan sebuah simbol yang sangat dahsyat. Bahwa puisi tak seharusnya dibatasi oleh ini itu. Puisi bukan matematika. Bukan ilmu pasti. Dari sorot mata Keating, memperlakukan puisi seperti memperlakukan matematika adalah sebuah penghinaan.

Saya merasa simbol itu bisa diterapkan pada hal lain. Apapun itu. Menulis misalkan.

Dulu di UKM saya, hampir semua penulis jago analisis. Mau analisis bahasa, pendedahan dengan teori cultural studies, hingga filsafat. Tulisan mereka canggih. Saya sedikit keder. Tapi saya selalu diajari bahwa menulis lah lebih dulu. Tak usah terbebani dengan ini itu. Free your mind and start to write, kata para senior saya di UKM Tegalboto dulu.

Menulis, bagi saya, adalah usaha pembebasan. Paling tidak membebaskan pikiran di kepala. Karena itu agak sedikit merepotkan kalau seorang penulis merasa terbebani dengan hal-hal lain di luar tulis menulis.

Maka saya menulis apa saja yang saya suka. Curahan hati. Menulis musik. Menulis perjalanan. Terus menulis dan menulis.
Betapa sangat menyenangkannya hal itu. Menulis tanpa pretensi apapun. Tak berharap dibaca orang. Tak berharap tulisan ini akan membantu umat manusia. Apalagi mengubah nasib mereka.

Sebut saya naif. Tapi kesukaan saya menulis karena berawal dari hal itu. Betapa menyenangkannya melakukan sesuatu hal tanpa keinginan macam-macam. Ini juga berlaku pada hobi saya yang lain. Pada awal saya suka jalan-jalan lintas kota, saya hanya berangkat dari keinginan melihat kota, bertemu manusia, dan merasakan betapa gagahnya rambut gondrong yang tertiup angin saat berdiri di pintu kereta. Saya terinspirasi oleh Roy!

Waktu itu saya berpikir, jalan-jalan ya jalan saja. Sama sekali tak ada keinginan muluk-muluk. Mengubah nasib kaum miskin kota, misalkan. Hanya ingin berjalan-jalan. Titik. Ada yang salah dengan itu? Kalaupun iya, apa saya peduli pendapatmu? Tentu tidak. Hehehe.

Dan betapa merepotkannya melakukan sesuau sekarang. Mau berjalan-jalan tanpa visi misi, dibilang hanya melakukan kegiatan yang hedon dan narsis. Mau menulis apa adanya, dibilang bisa merusak suatu destinasi. Aduh. Merepotkan benar ya?

Padahal waktu Ernesto Guevara berkelana bareng Alberto Granado, mereka sama sekali tak punya keinginan heroik. Mereka hanya ingin merasakan romantika lelaki. Walau kelak perjalanan itu mengubah banyak hal dalam hidup mereka, toh mereka tak dengan pongah menuntut para pejalan untuk mengikuti jejaknya; tak juga menyuruh ini dan itu; bahwa pejalan harus ini dan itu. Mungkin mereka sadar, bahwa perjalanan itu adalah kegiatan yang sangat personal dan tak perlu dipaksakan. Tak perlu diseragamkan. Apalagi diberi definisi.

Beberapa orang terpenjara ketakutan-ketakutan macam itu. Dalam menulis, acap orang takut bahwa tulisannya akan jelek, tak layak baca. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan: Apakah tulisan saya akan dibaca banyak orang? Apakah tulisan saya akan menyelamatkan dunia? Apakah tulisan saya akan merusak sebuah tempat? Biasanya ketakutan dan beban macam itu yang akan membuat kertasmu polos. Tak tertulisi apa-apa.

Ketakutan itu malah jadi penjara. Ra sido nulis malahan.

Dan orang yang berangkat menulis dengan pretensi muluk-muluk menyelamatkan dunia itu biasanya adalah orang yang snobbish sekaligus naif. Mereka merasa dunia bisa diselamatkan hanya dengan tulisan.

Yes, idea and writing can change the world. Tapi hanya sekadar tulisan bisa menyelamatkan dunia? Itu sama dengan berpikir bahwa dunia akan jadi lebih baik dengan rock n roll. Never happen. Will never happen.

Lennon menuliskan “Imagine”, Jim Morrison menuliskan “Unknown Soldier” berpuluh tahun lampau. Lihatlah dunia sekarang, berpuluh tahun kemudian: orang masih berperang dan saling bunuh dengan aneka ria alasan sepele.

Kalau kelak ada orang yang menyalahkan tulisanmu, tenanglah: langit tak akan runtuh. Dan yang jelas, kau tak akan bisa menyenangkan semua orang. Itulah mungkin pentingnya menulis tanpa beban.

Saya tak ingin jadi seperti Mario Teguh: tulisanmu pada masa lalu, tulisan dengan mutu yang paling buruk, adalah proses belajar yang sangat baik. Tak ada tulisan baik tanpa tulisan buruk. Sampai sekarang saya masih menyimpan blog lama saya. Tak menghapusnya.

Agar kalau kelak saya ingin menengok lagi ke belakang, saya tinggal membaca ulang. Sedikit banyak hal itu bisa memberi semangat. Bahwa kemajuan itu pasti terjadi kalau terus belajar.

Mungkin saya hanya akan mengulang apa yang diajarkan pada saya: Just write!

Tebet, 25 Agustus 2014

02.13 WIB

Post-scriptum: sebenarnya aku ingin sekali menyitir nama Jack Kerouac atau Hunther S Thompson: sifu yang mengajarkan pada dunia betapa pentingnya menulis bebas dan tanpa pusing dengan aturan ini itu. Tapi apa daya, internet saya ngadat dan tak bisa Googling “Jack Kerouac quotes”. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

  1. alasan sy langsung suka dgn blog ini adalah karena sepertinya kita satu spesies, saya macam ketemu kawan yang dah kenal begitu lama…

    salam hangat bro!

TINGGALKAN KOMENTAR