Cerita Ajaib Dari Burhan

577
“Siap-siap lah bang. Bentar lagi kita off road,” kata Burhan Lahai menyeringai.
Saya tersenyum kecut. Dua orang kawan perjalanan lain, Deni dan Iwan, cuma bisa diam. Tapi saya yakin mereka juga pasti deg-degan. 
Benar saja. Beberapa menit selepas jalan aspal terakhir, mobil Taft rongsok-namun-tangguh yang kami naiki sudah mulai bergoyang. Saya dan Iwan yang duduk di bangku tengah mulai tergoncang hebat. Tangan kiri Deni, yang duduk di samping Burhan, erat memegangi hand holder di atas jendela mobil. Burhan sendiri dengan tenang merokok sembari menyetir. Sambil sesekali berkisah ini dan itu. Medan di depan benar-benar tanah merah. 
“Kalau udah hujan, wah beraaaat,” kata Burhan.
Untung sudah beberapa hari ini tak hujan sama sekali. Tanah kering. Di beberapa tempat sudah macam berkerak. Tapi tetap saja bukan jalan yang mudah dilalui.
“Berapa lama jalannya kayak gini?” tanya Iwan.
“Ya kira-kira 13 kilo lah bang,” jawab Burhan santai.
Kami sama-sama tersenyum kecut. 13 kilometer kalau jalan beraspal, bisa ditempuh dengan singkat saja. Tapi kalau medan buruk macam ini, bisa-bisa 2 jam. Satu dua kali, mobil sudah miring. Macam mau terguling ke samping. Tapi untung tragedi komikal macam itu tak pernah terjadi.
Meski medan cukup menggiriskan, sebenarnya kami tak khawatir sama sekali. Burhan supir yang handal. Ia tipikal supir yang dibesarkan oleh kultur jalanan lintas Sumatera. Ingat: jangan pernah meragukan kemampuan supir yang ditempa di jalanan lintas Sumatera.
Burhan lihai ngebut. Seakan-akan kaki hanya menekan pedal gas. Ia juga mahir bermanuver. Truk-truk besar pengangkut sawit, juga truk yang membawa jeruk dari Medan, ia lewati dengan mudah. Tapi ia tak asal menyalip. Burhan selalu menyalip dengan penuh perhitungan.
Malam sebelumnya, mobil Taft yang kami tumpangi melaju kencang sekali di ruas lintas timur Sumatera. Jalannya naik turun. Tikungannya tajam. Burhan menyetir dengan tenang sembari merokok. Rokok kesukannya adalah Djarum Super. Kadang  A Mild. 
“Saya dulu pernah lewat sini, bawa truk sawit. Eh, truknya kebalik,” kata Burhan sembari tertawa.
Jancuk. Maki saya dalam hati. Tapi saya tertawa juga.  Bayangkan, ia mengebut di jalanan yang gelap, dengan kontur jalan yang cukup ekstrim, malah ia bercerita pernah terbalik. Dengan nuansa bangga pula. Hahaha.
Tapi toh kami selamat juga.
Petang terakhir kami di Pematang Reba, mobil kami melaju lagi di medan yang ekstrim. Dan seperti biasa, Burhan bukan Burhan kalau tak mengebut. Tapi yang bikin saya lega, ia termasuk supir yang berhati-hati. Bukan mengebut yang serampangan. Ya paling tidak, saya berusaha meyakini itu.
“Di sini sering ada kecelakaan bang, banyak yang mati,” celetuk Burhan tiba-tiba memecah sunyi.
Saya yang sudah terkantuk-kantuk di belakang mendadak terjaga. Mata saya langsung melek menatap jalanan yang mulai gelap.
“Pernah ada truk besar ngelindas motor, bang. Pas helm dibuka, eh tengkoraknya lepas,” tambahnya.
Tak ada yang bereaksi. Cuma ada suara tape mobil yang memutarkan lagu “Kereta Malam” lagu favorit Burhan yang diputar terus-terusan. Seisi mobil cuma bisa terdiam sembari berharap hal mengerikan nan surealis macam itu tak terjadi pada kami.
Lagi-lagi kami selamat hari itu. 
Selain jago mengendarai mobil, Burhan juga punya banyak stok cerita ajaib. Yang membuat kita yakin kalau dunia nyata seringkali lebih ajaib ketimbang novel manapun. Selain pernah terbalik waktu mengebut dengan truk sawit; atau kisah tengkorak lepas dan tersangkut di helm; Burhan punya stok banyak cerita absurd nan eksentrik lain. 
Misalkan cerita saat kami berangkat ke dusun Sadan. Kami melewati desa kecil bernama Rantau Langsat. Ada banyak polisi siang itu. Juga ada police line yang tampak terang meski dilihat dari kejauhan. Ini tentu bukan hal lazim di sebuah desa terpencil. Kami semua bertanya-tanya. Tapi tak ada jawaban yang memuaskan. Dua hari kemudian, jawaban itu kami dapatkan. Dari siapa lagi kalau bukan dari Burhan.
“Jadi polisi kemarin itu bongkar kuburan bang,” kata Burhan memulai cerita.
Saya terkesiap. Begitu juga Iwan dan Deni. Ini bakal jadi cerita ajaib, pikir saya. Burhan mendapatkan cerita ini dari keterangan polisi dan warga sekitar.
Jenazah itu seorang perempuan. Sebut saja ia Mawar. Masih muda. Katanya meninggal dibunuh kekasihnya, sebut saja Kumbang. Sekilas seperti kisah cinta biasa berujung kekerasan, yang biasa kita temukan di koran kriminal kota. Masalahnya adalah: sang kekasih itu adalah suami tante Mawar.
“Jadi si Kumbang itu, udah kawin sama si tante. Eh keponakannya diembat juga,” kata Burhan sembari tertawa.
Mawar dikatakan mati bunuh diri. Tapi sang dokter yang memeriksa jenazahnya tak percaya. Ia menemukan tanda-tanda kekerasan pada jenazah Mawar. Tapi Mawar keburu dikubur oleh keluarganya. Setelah sang dokter menyampaikan kesaksian pada polisi, akhirnya kuburan dibongkar. Benar saja, Mawar memang mati dibunuh.
“Dan tau gak bang, ada dua botol kratingdaeng di dalam perut Mawar,” kata Burhan.
Kami semua terkaget. Jancuk, benar-benar kematian yang aneh. Bagaimana caranya memasukkan botol kratingdaeng dalam perut? Ilmu hitam? Bisa jadi. Saya menggeleng heran. Cerita ini tak berhenti sampai di sana. Anak si Kumbang dan istrinya, alias tante Mawar, meninggal setelah kasus ini terbongkar. Padahal anak itu tak menderita sakit apapun. Tahu-tahu meninggal begitu saja. Tanpa tanda. Tanpa isyarat.
“Kayaknya sih ada balas dendam bang,” lanjut Burhan lagi.
Kami semua terdiam. Heran. Betapa kadang nyawa manusia bisa begitu murah. Juga heran dengan kematian yang bisa datang dengan berbagai cara. Bahkan cara yang terkesan ajaib. Tentu tak ada orang yang membayangkan akan mati dengan dua botol kratingdaeng dalam perut.
Life is, indeed, stranger than fiction.
Mobil Taft kami terus melaju di jalan yang bergeronjal. Saya dan Iwan masih tergoncang-goncang di bangku tengah. Deni masih memegang hand holder dengan tangan kiri. Sementara Burhan masih terus menghisap rokok dan menyetir dengan tenang. Lagu “Kereta Malam” juga masih berkumandang dalam mobil kami.

Jug gijag gijug gijag gijug…[]

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR