Pergilah dengan Tenang

260
Foto terakhir saya di Kansas. Waktu yudisium, 2011.
Di pojokan kampus, ada sebuah ruangan kecil yang nyaris tak pernah sepi. Kami, para mahasiswa Fakultas Sastra, menyebutnya sebagai Kansas. Kantin Sastra. Sepertinya julukan ini melekat hampir di semua kantin Fakultas Sastra, di seluruh Indonesia. 
Kansas kami kecil saja. Cuma ada beberapa bangku saja. Karena itu ada meja dan bangku di halaman luar. Saya biasanya lebih suka di luar. Adem. Banyak pohon. Hanya ada satu orang yang berjualan. Kami semua memanggilnya Ibuk. Dia berjualan makanan rumahan. Juga aneka kopi. Kadang ada gorengan dan kue.
Kalau ada kuliah pagi, saya selalu mampir ke Kansas. Beli secangkir Energen. Menunggu jam kuliah datang.
Sebenarnya tak ada yang spesial dari Kansas kami. Tak ada kursi yang cozy. Tiada sambungan internet nirkabel. Apalagi pendingin udara. Yang berjualan pun hanya satu orang saja. Jelas kalah dibandingkan dengan kantin fakultas lain.
Tapi yang membedakan Kansas dengan kantin lain adalah: hanya di Kansas dosen dan mahasiswa ngopi bareng. Tanpa sekat. Tanpa perbedaan status. Tak ada kantin kampus yang bisa begini. Tak heran, banyak kawan-kawan saya dari fakultas lain kaget begitu mengetahui Pak Ayu Sutarto, Guru Besar Universitas, ngopi dan gojekan dengan para mahasiswa atau dosen lain. Pak Ikhwan, dosen muda kebanggaan kampus pun hampir tiap hari nongkrong dengan para mahasiswa di Kansas.
Ini yang selalu kami banggakan. Banyak mahasiswa dari kampus lain ikut ngopi di Kansas. Ya untuk sekedar merasakan atmosfer sonder sekat antara dosen dan mahasiswa. Karena dosen dan mahasiswa ini acap berdiskusi serius, malah kadang berdebat. Semacam kuliah informal.
Sayang, kabar buruk datang beberapa waktu lalu: Kansas ditutup. Ini kabar sedih kedua setelah Panggung Terbuka dibongkar waktu saya kuliah dulu.
Banyak yang heran kenapa Kansas ditutup. Saddam, kawan saya yang juga punggawa Pers Kampus Sastra, Ideas, sampai menulis surat terbuka kepada Pembantu Dekan II. Menanyakan kenapa Kansas harus ditutup.
Tak ketinggalan, para dosen pun juga menulis kritik. Tapi tak ada tanggapan sama sekali. Hingga akhirnya beberapa hari lalu situs Ideas menuliskan tanggapan Pembantu Dekan II.
Alasannya pun ultra klise dan bisa ditebak: harga terlalu mahal.
Prett!
Ini aneh sekali. Pertama, andaikan benar harga mahal, apa urusan Pembantu Dekan II? Yang bayar makanan ya para mahasiswa sendiri. Kedua, Kansas sudah ada sejak lama. Kalau memang alasannyanya adalah harga yang mahal, kenapa tak ditutup dari dulu?
Alasan lain: tempatnya terlalu kecil.
Prett lagi!
Lah, kalau misal si Pembantu Dekan II merasa Kansas terlalu kecil, kenapa tak diperbesar? Sungguh sebuah solusi bodoh jika ada ruangan yang terlalu kecil malah ditutup. Dari dulu, sejak orang mengenal peradaban dan bisa membangun sesuatu, hukum bangunan selalu tetap: kalau kecil ya diperbesar. 
Tentang alasan yang terkesan sangat mengada-ada ini, dosen yang saya kenal memberikan sedikit bocoran. Para penguasa kampus kami, merasa terganggu dengan dekatnya dosen dan mahasiswa yang sering berkumpul di Kansas. Insecure. Takut didemo. Takut didongkel dari tampuk kekuasaan. Penyakit penguasa memang selalu sama dimana-mana: paranoid!
Banyak orang yang kecewa dan marah dengan ditutupnya Kansas. Apalagi para alumnus. Kansas menyimpan banyak kenangan untuk mereka. Sangat banyak kenangan. 
Tapi ya mau gimana lagi. Kami sudah lulus. Sudah tak ada kuasa untuk protes. Paling ya cuma ngomel di tulisan, seperti ini. Atau mengenangnya dengan obrolan-obrolan nostalgia. Entah apa yang akan dilakukan para Mahasiswa Sastra terkait ditutupnya Kansas ini.
“Lha jangankan soal Kansas, soal akreditasi kampus yang tertunda para mahasiswa diem aja kok,” kata Pak Ikhwan, dosen idola para mahasiswa.
Padahal Kansas tempat yang sangat penting sebagai tempat bertemunya mahasiswa dan dosen. Terkadang ada banyak yang bisa dipelajari di sini yang tak bisa didapat di kelas. Kapan lagi mahasiswa bisa ngobrol santai, tanpa jarak, dengan para dosen?
Ya semoga saja Kansas akan ada lagi. Entah kapan. Semoga saja…[]
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR