Komitmen oh Komitmen

223
Jadi orang konsisten menjalani komitmen itu susah. Pasalnya, tak ada yang abadi selain perubahan. Kamu bisa saja berjanji A pada hari ini, dan setahun kemudian kamu akan berubah.
Saya? Kadang, komitmen saya hanya bisa bertahan sehari.
Beberapa tahun silam saya pernah berkomitmen tak akan makan malam. Alasannya apa lagi kalau bukan mengurangi berat badan yang sudah berlebihan. Kawan yang mau ikut sumpah palapa ini adalah Panjul. 
“Oke, malem gak usah makan nasi ya?”
Saya mengangguk tegas. 
Siang diucapkan, malamnya kami berdua sudah duduk nangkring di burjo sembari makan bubur kacang hijau. Esok malamnya, selepas adzan Isya berkumandang di Nologaten, kami berdua sudah lahap menyantap nasi campur di Burjo.
“Lapar jeh,” kata Panjul berusaha memaklumi kami berdua yang begitu mudahnya melupakan janji. Saya mendukungnya dengan menganggukkan kepala dan mengacungkan jempol.
Itu bukan satu-satunya komitmen yang saya langgar.
Pernah saya berkomitmen untuk ikut fitnes. Alasannya hampir sama: mengurangi berat badan. Partnernya masih sama: si bodoh Panjul.
Maka kami berdua dengan yakin mendatangi sebuah fitness centre di bilangan Seturan. Kami mendaftar dan membayar Rp 90 ribu untuk biaya fitness sebulan.
“Kita harus rutin fitness nih. Sayang duitnya euy,” kata saya.
Panjul mengiyakan dengan tegas.
Datanglah hari untuk fitness. Sang instruktur, dengan mata menatap sinis dan iba pada perut kami, dengan telaten mengajari kami memakai alat fitness satu per satu.
Kami berdua pun mulai mencoba  berbagai alat yang macam karya seni instalasi itu. Tak terasa hampir 30 menit kami coba alat-alat itu.
“Jancuk, capek ya cuk. Badan sakit semua ‘e,” kata Panjul pada saya.
Saya cuma mengeluhkan hal yang sama sembari memijit betis dan paha yang linu dan cenut-cenut.
Beberapa puluh hari setelah fitness pertama, kami ingin mencoba fitness lagi. Si mbak front office dengan tenang menyahut, “Wah ini sudah habis satu bulan. Harus bayar lagi,” katanya.
Saya dan Panjul cuma bisa saling tatap. Lalu kompak menjawab, “Iya mbak, ambil duit dulu ya.”
Kami tak pernah kembali lagi ke tempat fitness terkutuk itu. Malam itu kami pungkasi dengan menyantap gudeg ceker dengan santan yang mlekoh. Selamat tinggal perut rata.
Ya, semudah itu saja kami mengingkari komitmen.
Setelah itu tak terhitung saya membuat komitmen dan berhenti di tengah jalan. Kalau di serial Friends, saya sudah macam Joey Tribbiani. “I am Tribbiani, I am quit.”
Saya pernah komitmen lari tiga kali seminggu. Tak makan nasi selepas jam 9 malam. Membaca buku tiap hari. Hingga mengurangi bermain ponsel pintar. Semua itu berhenti di tengah jalan.
Membuat komitmen itu memang tak mudah. Komitmen itu hanya bisa dijalani oleh orang-orang yang teguh. Orang-orang terpilih. Karena itu saya mengangkat topi pada orang macam mereka, yang menjalani komitmen mereka dengan penuh seluruh.
Sore ini, saya membuat komitmen lagi: mengurangi makan nasi. Sebagai asupan karbohidrat, saya akan mulai menyantap umbi-umbian atau jagung. Ini gara-gara saya membaca beberapa literatur tentang pangan.
Dari artikel itu saya tahu, masyarakat kita sudah kecanduan nasi. Tingkat konsumsi beras di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia, mencapai 139,15 kilogram per kapita. 
Sebagai perbandingan, Jepang, negara di Asia yang juga mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok, berhasil menekan angka ketergantungan pada beras, hingga hanya mencapai 58 kilogram per kapita per tahun. Ini karena Jepang sudah mulai mengenalkan makanan pokok alternatif sedari dini. 
Padahal dulu kita pernah mempunyai banyak pangan lokal non beras sebagai makanan pokok. Mulai sagu, jagung, hingga ketela dan ubi. Akibat dari kecanduan nasi ini bisa panjang dan berbahaya. Salah satunya adalah kebutuhan beras yang teramat tinggi, sedangkan produksi beras dalam negeri semakin menurun. 
Akhirnya kita harus impor beras dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan beras di dalam negeri. Tahun lalu, negara ini mengimpor 472 ribu ton beras dari luar negeri. 
Rani mendukung komitmen saya untuk mengonsumsi umbi-umbian. “Aku cubit perutmu kalau makan nasi,” katanya kejam.
Oh ya, Indonesia ini penghasil singkong terbesar ketiga di dunia lho. Setiap tahunnya, produksinya sebesar 23,7 ton.
Mari dilihat berapa lama saya bisa menjalani komitmen ini. Hup! []
Post-scriptum: Ini gak ada hubungannya dengan komitmen hubungan cinta lho ya, itu soal yang berbeda :p
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR