#SaveSaut !

162

Dalam beberapa kasus, saya kerap tak setuju dengan Saut Situmorang. Baik perkara gagasan, atau bagaimana cara ia menyampaikan gagasan. Tapi saya sangat menghormatinya.

Penyair berambut gimbal ini adalah satu dari sedikit orang yang berani mendobrak hegemoni dan kejumudan sastra di Indonesia. Ia melakukan itu dengan caranya sendiri. Tajam. Pedas. Galak. Tanpa tedeng aling. Tapi juga sangat runut. Bagi yang tak terbiasa debat atau perang urat syaraf, dijamin kuping dan kepalanya panas. Tekanan darah naik. Tapi itu lah gayanya. Bohemian. Mengingatkan saya pada gerombolan penyair flamboyan generasi Beat yang menolak untuk tunduk pada norma.

Namun jangan salah. Saat Saut menulis esai, ia bisa lepas dari seorang yang meledak-ledak. Esai sastra ilmiahnya selalu dipaparkan dengan baik, jernih, dan punya dasar yang kokoh.

Dalam beberapa kesempatan nongkrong dengan Saut, saya menerka kalau sang penyair Batak yang pernah mengajar di Victoria University of Wellington ini adalah orang yang melankolis.

Suatu subuh di Yogyakarta, saya, Irwan Bajang, dan Daeng Krishna Pabicara sedang asyik nongkrong di emperan Malioboro. Ini seusai menghabiskan malam panjang di kafe Bintang. Saut sedang asyik makan babi panggang dari lapo langganannya. Sedang saya, Bajang, dan Daeng sedang asyik menyesap kopi susu.

Datanglah seorang pengamen muda. Coba tebak apa lagu yang dirikues oleh Saut? “Gereja Tua”, lagu klasik milik Panbers. Ini sebuah lagu tentang rasa rindu pada kampung halaman dan kenangan teman masa remaja. Si pengamen, yang masih umur 20-an, tak tahu lagu itu. Akhirnya Saut mengkudeta gitar, dan ia pula yang bernyanyi. Hahaha.

Karena itu, Saut yang sedang melankolis selalu berhasil menulis puisi yang menggetarkan. Ia bisa menulis tentang cinta yang pernah kecewa. Tentang orang-orang kalah yang tersuruk oleh nasib. Juga tentang rindu yang tersebar di jalan yang baru saja tersiram hujan. Simak salah satu puisi favorit saya, “Karena Laut, Sungai Lupa Jalan Pulang”, yang termaktub di buku Saut Kecil Bicara dengan Tuhan.

di kota kecil itu
gerimis turun
dan kita basah
oleh senyum dan tatapan tatapan curian
yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman panjang …

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan batu batu hitam
daun daun gugur
danau kecil di lembah jauh
jadi sunyi
kehilangan suara jangkrik suara burung

gerimis yang turun
mengikuti terus
di jalan jalan gunung
pasar hiruk pikuk
bis antar kota
pertunjukan pertunjukan malam yang membosankan
sampai botol botol bir kosong
tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau

karena laut, sungai lupa jalan pulang
dan di meja-warung basah oleh gerimis
sebuah sajak setengah jadi
mengabur di kertas tissue yang tipis

Lantas, ia sekarang diperkarakan di pengadilan karena melontarkan kata “bajingan” pada gerombolan orang berduit tapi tak bermartabat. Tak heran, banyak orang turun gunung membela Saut. Bukan hanya kawan yang membela. Bahkan lawan debat Saut, yang pernah debat panas, turut pula membelanya sepenuh hati.

Ini perkara kebebasan bicara dalam forum diskusi. Kalau ide dibalas dengan gugatan pengadilan, tiran baru konon sedang datang. Saut melontarkan serapah dalam diskusi sastra dunia maya. Dan balasannya, bukan lagi ide atau perang kata. Tapi pengadilan.

Sekarang Saut yang diperkarakan. Besok bisa jadi kamu. 20 tahun kemudian, bisa jadi anakmu yang meringkuk di penjara gara-gara debat panas dalam forum sastra. If you tolerate this, your children will be next!

‪#‎SaveSaut‬

TINGGALKAN KOMENTAR