Mudik dan Rencana Bermotor

2219

Sejak beberapa hari lalu, sedang ada keributan soal pembelian tiket kereta api untuk masa mudik. Seperti biasa, PT Kereta Api Indonesia dengan bangga mengatakan tiket bisa dibeli tiga bulan sebelum keberangkatan. Namun selalu lupa memperbaiki jaringan pembeliannya. Seperti bisa ditebak: pembeli lebih banyak, infrastruktur pembelian kacau, web tak bisa diakses. Begitu bisa diakses, ya sudah, tiket pada habis.

Saya jadi ingat kekacauan di stasiun setiap menjelang masa mudik. Pembeli antri belasan jam. Sampai rela tidur di stasiun. Sampai di depan loket, tiketnya sudah habis. Lantas ricuh. Kekacauan itu sekarang terjadi di dunia maya. Beda lokasi, tapi tetap sama: kacau.

Saya sudah putus asa mau ikut keriuhan ini. Toh hasilnya bakal sama. Saya malah mulai memikirkan alternatif transportasi mudik sejak sekarang. Pesawat, mungkin iya. Terakhir, saya melongok, harga tiket pesawat Jakarta-Surabaya sudah mencapai harga Rp 900 ribuan.

Pesawat mungkin opsi belakang. Apalagi saya sedang takut naik pesawat. Begitu pula Rani. Naik bis, pilihan terakhir sekali. Saya membayangkan letihnya berada di dalam bis selama hampir 24 jam. Lagipula, bagaimana kalau saya sakit perut?

Sewa mobil? Bisa juga. Tapi saya harus cari teman. Jangan cuma berdua. Saya tak bisa nyetir mobil. Yang bisa malah Rani. Tapi masa iya saya tega nyuruh dia nyetir sepanjang Jakarta-Jember pulang pergi. Jadi mungkin opsi mobil ini mungkin dilakukan kalau ada teman berangkat dari Jakarta.

Opsi terakhir: naik motor!

Hahaha. Saya sudah girang duluan membayangkan opsi ini. Capek, memang. Tapi pasti menyenangkan. Apalagi motor jauh lebih fleksibel ketimbang naik mobil. Juga jarang terjebak kemacetan.

Saya membayangkan berangkat dari Jakarta melewati jalur utara. Dari Jakarta ke Cirebon. Lalu ke Pekalongan. Istirahat semalam di Semarang. Cari makan babat gongso, lumpia, atau tahu pong. Wah, pasti nyamleng. Esoknya baru langsung Surabaya. Kalau tidak capek, langsung Jember. Kalau capek, berhenti dulu di Surabaya. Perjalanan ini diperkirakan memakan waktu 3 hari 2 malam.

Lalu pulangnya lewat jalur Selatan. Ini jalur yang tak kalah asyiknya. Bisa lewat Malang. Lalu tembus Solo, mampir makan gudeg ceker atau tengkleng. Nginepnya di Yogyakarta. Menyantap mangut lele dan bakmi Jawa. Sama saja, saya memperkirakan butuh 3 hari 2 malam untuk pulang.

Total perjalanan kira-kira 6 hari 5 malam. Jalur berangkat dan pulang tentu bisa diatur sesuka hati. Mau berangkat lewat jalur selatan, boleh. Pulang lewat utara, juga asyik. Tentu kami tak bakal sekedar lewat doang. Saya membayangkan menginap satu dua malam di kota-kota tertentu yang sekiranya menarik.

Jadi tinggal tunggu sampai Rani dapat kepastian libur dari kantor. Baru kami bisa memastikan akan mudik naik apa.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

7 KOMENTAR

      • Jakarta Madura lumayan adoh lah. Paling 2 dinoan. Iku diitung karo istirahat. Hehehe. Alternatife mungkin nyari angkutan gratis yang bisa bawa motor. Ada banyak, mulai dari Angkatan Laut, sampai Jasa Raharja 🙂

      • ayo mas rafi aku juga lagi nyari barengan buat mudik.. Bekasi – Kediri masih searah kan yo…? ini no ku kalau pengen barengan 089637081333

  1. ayo mas rafi aku juga lagi nyari barengan buat mudik.. Bekasi – Kediri masih searah kan yo…? ini no ku kalau pengen barengan 089637081333

TINGGALKAN KOMENTAR