Tentang Menghadirkan Setangkup Dosa, Sepotong Kota, dan Seporsi Besar Kenangan

418

Bagi saya, musisi folk adalah jenis orang yang kompleks. Ia kritis. Sendu. Romantis. Sekaligus humoris merangkap satiris. Karena itu ia mahir meramu semua hal menjadi lagu. Mulai suasana jalan berdebu, wanita penghibur yang menanti pelanggan, daun berguguran di musim semi, pemerintah yang brengsek, perempuan yang meremukkan hati, hingga kehidupan yang lebih layak ditertawakan ketimbang diratapi.

Silampukau, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening, saya rasa adalah jenis manusia yang demikian. Terkadang saya begitu gemas dengan mereka yang mahir meramu semua hal jadi lagu. Bahkan seorang penjual minuman keras yang ditertibkan Trantib pun bisa jadi lagu yang begitu enak. Aduh.

Saya pertama kali mendengar mereka pada tahun 2009, atau 2010. Saya lupa persisnya. Waktu itu saya mendengar lagu pertama mereka, “Berbenah”, di kamar kos Ayos Purwoaji, di Klampis Sacharosa. Bertahun kemudian, Silampukau tumbuh jadi duo yang lebih menggetarkan. Sempat melewati perpisahan yang pahit, lalu kembali bersama lagi, sepertinya telah membuat mereka semakin matang.

Nyaris tak ada yang berubah dari mereka. Eki masih tetap gondrong, berjenggot, kharismatik, murah senyum, dan suara beratnya masih dengan mudah menghantuimu. Kharis masih tampak seperti perpaduan sempurna antara flaneur dan pujangga. Tampak dingin, angkuh, dan misterius. Kemampuannya menulis lagu tak luntur sedikit pun.

Namun waktu memang tak bisa dilawan, pun tak bisa berbohong. Eki dan Kharis tak lagi segondrong dulu. Menjadi sedikit lebih rapi dan terawat. Dan ya, pipi tirus Kharis sudah jadi kenangan masa lampau yang hanya bisa dilihat di foto-foto masa lalu.

Album Dosa, Kota, dan Kenangan ini merupakan album terbaru Silampukau. Album kedua yang menyegarkan dan lumayan punya banyak perbedaan dengan mini album Sementara Itu. Dosa, Kota, dan Kenangan mirip seperti rangkuman perjalanan Silampukau menuju kedewasaan. Album ini merekam segala dosa masa muda, fragmen sangkala lampau, dan pengaruh Surabaya dalam kehidupan mereka.

Kharis dan Eki berhasil membuat album yang jauh dari kata standar. Kehadiran piano dan trumpet, membuat suasana jadi lebih ramai dan menyenangkan, walau kesederhanaan masih kental kentara. Sesuatu yang membuat Silampukau dicintai banyak orang. Dan penuturan cerita naratif ala Silampukau masih ditemukan di album ini.

Ada cerita mengenai Taman Remaja Surabaya, Dolly, Ahmad Yani, hingga hati yang remuk di Bandara Juanda. Semua dikemas dengan sangat ideal. Kamu bisa menemukan kehidupan pahit anak-anak kusam miskin kota di “Bola Raya”; penghisapan daya dan tenaga serta hymne rindu rumah di “Sambat Omah”; romantisme murah meriah di “Bianglala”; keinginan satir para band almost famous di lagu “Doa 1”; hingga “Puan Kelana”, lagu yang saya yakin akan jadi lagu latar para kekasih yang terpisah ribuan kilometer.

Awalnya saya sempat sedikit skeptis dengan tema ‘pulang’ yang dibawakan oleh begitu banyak para musisi folk Indonesia kini. Ditambah dengan format akustik yang begitu-begitu saja, dengan segera folk menjadi klise baru. Jauh berbeda dengan folk jalanan ala Iwan atau Leo Kristi, misalkan. Jujur, keraguan ini sempat mampir saat saya melihat dan membaca lirik lagu “Sambat Omah”. Namun segera setelah mendengar, saya bersyukur bahwa Silampukau tak jatuh pada lembah kurang ajar bernama cliche. Lagu itu berhasil membawa nuansa yang berbeda dari lagu rindu rumah yang banyak bertebaran kini. Ini adalah lagu rindu rumah khas kelas pekerja. Kalau tak percaya, coba saja dengar.

Memang sangat mudah untuk jatuh cinta pada lagu-lagu di album ini. “Puan Kelana” dengan segera jadi favorit baru saya. Mengisi perjalanan saya dari rumah ke kantor. Dari Jagakarsa menuju Menteng. Menembus kemacetan biadab, sembari membayangkan betapa nyaman dan berbudayanya jika tinggal di Perancis. Gemerisik suara di awal lagu seketikan menghadirkan suasana di film-film garapan Robert Bresson, René Clément, atau Jean Cocteau.

Dosa, Kota, & Kenangan berhasil menghadirkan sosok manusia dan kota sebagai musik folk itu sendiri: kompleks, naik turun, sendu, ceria, muram, syahdu, gembira, sekaligus satir kelas berat. Album ini berhasil menjelma jadi album konsep yang dieksekusi dengan sangat gemilang. Bisa menangkap, menulis, dan menyanyikannya dengan tepat guna, bagaimana kehidupan dan manusia yang perlahan berubah, di kota yang bergerak cepat menuju metropolitan.

Kota Surabaya, menjadi kota yang sedemikian memorable di tangan duo Silampukau. Sebelumnya, Surabaya nyaris tak pernah meninggalkan memori sebesar ini.

Mendadak, setelah menuliskan catatan pendek ini, kenangan terbang menuju Klampis Sacharosa. Menuju kamar kos Ayos yang sekarang sudah tak lagi ia tempati. Di depan laptopnya, ia menunjukkan lagu “Berbenah” dengan begitu bersemangat.

“Rungokno iki, lagune enak cuk.”

Dan saya belum pernah berterima kasih pada Ayos karena sudah dikenalkan pada duo yang begitu menyenangkan ini. Suwun Yos! []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR