Terhibur Oleh Arrow Guns

1113

Saya gembira sekali waktu melihat poster acara Tribute to Guns N Roses. Band yang akan tampil adalah Arrow Guns, salah satu band replikasi Guns N Roses yang paling kesohor di Jakarta.

Saya pertama kali menyaksikan Arrow Guns di Soundrenaline 2009 di Bali. Waktu itu saya takjub sekali dengan penampilan band ini. Mereka sangat menjiwai penampilannya. Vokalisnya –belakangan saya tahu namanya adalah McAxl, setelah dikenalkan oleh Rezanov– mirip sekali dengan Axl. Ia tak segan memakai celana pendek putih yang sangat ketat, bandana merah, dan wig berwarna cokelat.

Karena saya sudah lama sekali tidak nonton konser yang menghibur, maka saya niatkan untuk pergi ke acara yang diadakan di @America ini. Saya ajak Rani dan Miko untuk ikut serta. Dan kami seperti direstui untuk menonton. Jalanan Jakarta di Jumat petang yang biasanya biadab, jadi lancar jaya.

Kami sampai beberapa menit sebelum acara dimulai. Seperti biasa, di @America penjagaannya sangat ketat. Harus melalui dua kali pindai badan, dan tas harus dititipkan di loker.

Saya tertawa senang saat melihat personel Arrow Guns naik ke atas panggung. Kuncinya adalah: totalitas. Sebagai band replika, mereka sangatlah total.

Gitaris yang menjadi Slash, misalkan. Ia tampil dengan piranti ala Slash. Mulai celana kulit, rantai dompet, gitar Gibson Les Paul berwarna emas, ampli Marshall, wig kribo, topi ala pesulap, bahkan kaos hitam bergambar sigung yang sering dipakai oleh Slash.

Atau karakter Izzy Stradlin. Tampil dalam balutan kemeja putih lengan panjang, yang dilapisi oleh rompi berwarna hitam, lengkap dengan topi pet khas Izzy.

Karakter Duff McKagan pun begitu. Dengan wig pirang. Sedangkan si drummer, saya belum yakin ia meniru siapa. Apakah Steven Adler atau Matt Sorum. Saya duga, ia meniru Matt. Rambutnya yang mekar, lebih mirip dengan Matt, ketimbang Steven yang panjang dan tidak mekar.

McAxl tentu jadi bintang panggung malam itu. Saya terkesima dengan dedikasinya. Ia berkali-kali berganti kaos, celana, serta sepatu. Mulai dari kaos bergambar Yesus yang bertuliskan “Kill Your Idol”, hingga kaos bergambar Charles Manson yang dipopulerkan oleh Axl di video klip “Estranged”.

Belum lagi sepatunya. Entah dari mana McAxl mendapatkan sepatu keren itu. Sepatu berwarna putih dengan aksen merah, serta bertuliskan AXL di bagian tongue sepatu itu adalah sepatu yang langka. Malah sepertinya tidak dijual di manapun. Mungkin McAxl membuat sendiri sepatu keren itu.

Tak heran kalau McAxl jemawa dengan totalitas Arrow Guns dalam mengemas ulang kejayaan Guns N Roses ini.

“Kalau kamu bisa menemukan band tribute Guns N Roses yang total seperti kita, di Indonesia, tidak, bahkan di Asia Tenggara, aku bakal ngasih uang 100 juta dollar,” kata McAxl dalam bahasa Inggris dan cara bicara yang dimiripkan dengan Axl Rose.

Saya ngekek.

Arrow Guns tampil tanpa basa basi di awal. Menggebrak dengan lagu “Night Train” yang langsung disambung dengan “Mr. Brownstone”. Semua tampil dalam kadar yang nyaris sempurna. Suara Axl Rose tiruan ini bahkan lebih bagus ketimbang Axl Rose yang beneran, di hari ini.

Saya juga salut dengan McAxl yang juga total dalam membawakan karakternya sebagai Axl Rose. Ia tak mau berbicara bahasa Indonesia. Ia memanggil kawan-kawannya dengan sebutan nama personel asli Guns N Roses. Ia juga tak lupa dengan gimmick kecil tapi penting, seperti peluit di lagu “Paradise City”.

Meski di awal tampil tanpa basa basi, ternyata McAxl adalah seorang penghibur kelas wahid. Beberapa kali penonton dibuat tertawa. Termasuk saya, Rani, dan Miko. Salah satu momen yang membuat saya tertawa sangat keras adalah waktu baterai mikrofon nirkabelnya sudah mau habis.

“Bah, baterenya low bat, Bah,” kata McAxl yang kelepasan ngomong pakai Bahasa Indonesia.

Saya ngakak, penonton lain tertawa keras. Abah Jaya Roxx, yang jadi soundman hari itu, juga ngakak gak karuan.

Konser tribute to Guns N Roses ini berlangsung 2 jam. Puas sekali. Pilihan lagunya juga ciamik. Mulai dari “You Could Be Mine”, “November Rain”, “Live and Let Die”, “Knockin On Heaven’s Door”, hingga “Estranged” yang epik, namun sempat salah dibawakan di bagian awal. Bahkan saya mengacungi jempol karena Arrow Guns berani mendepak “Sweet Child O Mine” dari daftar lagu, dan menggantinya dengan lagu yang kurang populer, semisal “So Easy” dan “Rocket Queen”.

Sudah lama sekali saya tak terhibur seperti ini. Rani dan Miko juga tampak bahagia menonton konser ini. Kami tertawa dan bernyanyi di sepanjang pertunjukan. Sepertinya acara seperti ini harus sering-sering diadakan. []

3 KOMENTAR

  1. Hebat band seperti ini. Seniman yang bangga dengan totalitas ‘mencontek’ itu banyak–karena pada dasarnya kita gak mungkin 100% orisinal–tapi seniman yang bangga dengan totalitas meniru secara terang-terangan mungkin jauh lebih sedikit.

    • Setuju bang Elia. Seniman macam ini yang keren. Mereka sadar bahwa mereka meniru, dan mereka berusaha total untuk itu.

  2. Arrowguns memang bener bener keren . . (y) , sukses selalu. . Mc Axl , Sava , Ade Rach , Rega , Ega , Joni Kemon. . \m/

TINGGALKAN KOMENTAR