Mudik ke Jember

572

Grup band Arkarna memang tak pernah merasakan mudik. Tapi mereka paham betul apa yang dirasakan oleh kaum pemudik: so little time so much to do. Ada banyak yang ingin dikerjakan, tapi waktunya terlalu sedikit.

Begitu pula mudik saya dan Rani tahun ini.

Awal mula mudik, kami sempat bingung. Perkaranya adalah moda transportasi. Tiket kereta api menuju Surabaya sudah ludes beberapa jam setelah dibuka. Naik pesawat, kami masih ketakutan karena beberapa tragedi yang belum lama berselang. Pilihan terakhir adalah naik bus.

“Tapi awas kecirit lagi lu,” kata Panjul, salah seorang kawan, menakut-nakuti. Kampret.

Sebenarnya saya sudah mendaftar mudik gratis untuk awak media. Disediakan oleh sebuah perusahaan gas milik negara. Saya mendaftar untuk dua orang dengan tujuan Surabaya. Rencananya kami mudik bareng Miko. Tapi karena gentar, ditambah ketakutan macet yang mengular –tahun lalu seorang teman bercerita harus menghabiskan dua hari di jalan untuk mudik ke Surabaya– saya akhirnya membatalkan diri ikut mudik dengan bis. Tiket saya akhirnya diambil alih oleh Aang dan Totok, dua orang kawan saya yang lain.

Kami akhirnya, dengan berat hati, memilih untuk naik pesawat. Kebetulan pula dapat harga yang lumayan miring. Plus, dengan kartu kredit, tiket itu bisa dicicil sampai 12 kali. Jadi lebaran tahun depan baru lunas. Dasar orang miskin. Hahaha.

Begitu sampai Jember, tanggal 14 siang, kami tak bisa langsung santai-santai. Ada banyak sekali agenda. Saya sih pengen nongkrong bareng teman-teman lama. Tapi ternyata masih banyak yang di rantau, belum pulang.

Tapi saya sempat bertemu dengan kawan-kawan masa kecil. Ada David, Pandu, Fajar, Real, dan Ade. Sayang, Kiki alias abang saya, berhalangan hadir. David, Pandu, Fajar, dan Real sudah jadi PNS. Satu di Jember dan tiga yang lain di Jakarta. Kami banyak ngobrol soal kerjaan dan juga hidup setelah lepas kuliah. Malam yang menyenangkan.

David, Pandu, Saya, Real, Ade, Fajar
David, Pandu, Saya, Real, Ade, Fajar

Tanggal 16 saya bersua beberapa kawan SMA. Itu pun tak lama. Hanya beberapa jam saja. Pun, tak semua hadir. Kami sempat merencanakan ketemu lagi setelah lebaran. Sayang, seorang kawan harus dinas, dan yang lain harus mudik ke luar kota. Saat semuanya sudah tak sibuk, saya yang tak bisa datang karena ada rencana pergi ke Bali.

IMG-20150717-WA0000

Omong-omong soal Bali, ini adalah rencana lama yang sudah tertunda lebih dari setahun. Sewaktu awal menikah, dulu kami sempat merencanakan bulan madu. Tapi manusia bisa berencana, Tuhan akan menertawakan. Kami tak sempat bulan madu.

Barulah menjelang mudik itu saya tawarkan pada Rani: mau ke Bali naik motor? Rani setuju. Saya menjadwalkan ke Bali setelah reuni SMA. Ndilalah, reuni SMA gagal. Pfffttt.

Namanya rencana yang sudah dipatok jauh-jauh hari, ya ndak boleh meleset lagi. Maka tanggal 20 Juli, kami berdua naik motor ke Bali. Capek? Iya. Menyenangkan? Sangat. Selama empat hari tiga malam di Bali, kami pindah-pindah hotel agar tak bosan. Semua dapat harga miring karena promo dan tetek bengek lain.

IMG_20150805_140051
Sekali-kali narsis bareng bini

Seumur hidup, Rani baru tiga kali ke Bali. Yang pertama waktu masih SD. Naik bis dari Jambi hingga Bali. Buset, perjuangan bener. Kali kedua, dia pergi bersama kawan-kawan kantornya. Sekira 4 atau 5 tahun lalu. Ketiga, ya bulan madu kemarin itu.

Kami lumayan terhibur dengan perjalanan di Bali itu. Banyak makan makanan enak. Ayam betutu Gilimanuk. Nasi pedas Andika. Nasi ayam Ibu Oki. Si Rani banyak belanja untuk buah tangan. Kami juga sempat menghabiskan sore di Kuta. Beralas kain bali dan minum bir. Melihat matahari tenggelam. Biar lengkap jadi turisnya.

IMG_20150721_144157
Nasi ayam Bu Oki yang membuatmu rela mati muda

Di Bali kami juga sempat ngopi dengan Kak Pito. Beliyo yang dikenal sebagai penerjemah handal –hei kapan selesai Satanic Verse-nya?– sudah dua atau tiga tahunan ini tinggal di Bali. Dulu di Ubud. Sekarang tinggal di perbatasan Ubud-Denpasar. Saya sendiri sudah lama sekali ndak ketemu cewek berambut pendek ini. Terakhir ketemu bareng sama Mas Hadid. Nonton film Djam Malam di Senayan, medio 2012. Ini kali pertama Rani ketemu dengan perempuan yang punya anjing bernama Tuhan ini.

Kami nggosip ini dan itu. Diakhiri dengan makan enak di daerah Sanur. Tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Sampai hotel ndak sempet bikin anak. Langsung ambruk, ngorok.

Gara-gara perjalanan ini, saya dan Rani punya pikiran pengen pindah ke sana. Sejak dulu sebenarnya kami tak begitu menempatkan Jakarta sebagai kota ideal. Lagipula mana ada manusia waras yang punya keberanian menetapkan Jakarta sebagai kota favorit.

Ancang-ancangnya, tiga atau empat tahun lagi kami akan pindah ke kota dengan skala yang lebih kecil, skala kemacetan yang nyaris nihil, dan biaya hidup yang jauh lebih murah. Entah itu di Jogja, Surabaya, Malang, Jember, atau Bali. Doakan saja keinginan ini terkabul.

Sama seperti lagu Arkarna tadi, ada begitu banyak kegiatan yang tak bisa dilakukan karena keterbatasan waktu. Saya dan Rani tak sempat melakukan banyak hal di Jember dan Bali.

Saya tak sempat makan rujak Madura langganan, tak sempat mampir ke Apong, tak ketemu dengan banyak teman SMA, gak bisa ngopi dengan teman-teman lain, pun hanya bisa bertemu dengan beberapa orang saudara, dan Rani tak sempat beli oleh-oleh. Di Bali ia belum puas jalan-jalan. Sampai sekarang, ia masih suka membuka tempat-tempat wisata Bali.

“Dua minggu lalu kita sedang makan nasi ayam,” katanya kalau sedang kumat kangen sama Bali.

Oh ya, kami semua sempat mudik ke Lumajang. Silaturahmi ke Bude Padmi. Tahun ini pasti berat bagi beliau. Ini tahun pertamanya tanpa Pakde. Pasti sangat kehilangan. Di Lumajang saya ketemu dengan Kak Lia dan Mbak Dira, istrinya. Kak Arif dan Kak Rani sedang di luar rumah waktu itu.

Yang lucu, kami awalnya mau mudik ke Lumajang dengan motor. Tapi batal karena dianggap tidak efektif. Akhirnya dipinjami mobil oleh Tante Indah. Masalah muncul: siapa yang nyetir? Di keluarga saya, yang bisa nyetir mobil cuma Kiki. Itu pun ugal-ugalan, dan gak punya surat izin mengemudi.

Rani akhirnya dipasrahkan untuk jadi supir. Saya sempat waswas. Ia memang mahir menyetir. Tapi gak punya SIM. Untunglah perjalanan lancar. Walau Rani nyetirnya pelan-pelan karena takut Mamak dan dua adik panik. Haha. Malam itu dipungkasi dengan makan malam, dan saya yang numpang kamar mandi di rumah temen Orin karena kebelet ngising. Hahaha.

Kunjungan yang patut dijadikan bahasan adalah sowan ke Tegalboto. Kok kebetulan pula, pas saya mau ke sana, sudah ada Arys dan Fuk Widi. Kami membawa istri masing-masing. Kali ini dengan buntut: Arys dan Rani –nama istri Arys juga Rani, kami berencana membuat paguyuban Suami Rani– membawa Ilona yang lucu dan menggemaskan itu, kemudian Fuk Widi dan Tina membawa Tulis, bocah lelaki yang suka sekali tersenyum.

Senang sekali ketemu Arys dan Fuk Widi. Meski sama-sama tinggal di Jakarta, saya dan Arys susah sekali bertemu. Jakarta memang benar kota yang kejam. Bahkan ketemu kawan lama pun susah sekali. Sedangkan Mas Widi, desainer handal ini tinggal di Gresik. Tambah susah lagi ketemunya.

Seperti biasa, kalau sudah berkumpul begini, kami nostalgia. Menatap ruang redaksi yang sekarang sangat kotor dan berdebu. Tanda jarang ada kehidupan atau aktivitas di sana. Sedikit sedih sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Kehendak zaman. Zeitgeist, kata orang pintar.

Dulu di ruangan itu, kami sibuk menulis, mendengarkan lagu, menonton video musik, hingga Miko, yang menurut pengakuan Fino, pernah pernah kepergok melakukan sesuatu di sana sembari menonton video Sora Aoi.

Di atas jam dinding, masih berjejer foto-foto para filsuf dan pemikir. Mereka yang bukunya kami baca sembari mengurut kepala. Foto mereka sudah dirambati jaring laba-laba. Tak ada yang mau repot-repot membersihkannya. Oh ya, konon ada sebab kenapa foto para filsuf dan pemikir itu diletakkan di atas jam dinding.

“Itu artinya pemikiran dan karya seseorang itu melampaui waktu,” ujar Mas Romdhi, yang katanya menirukan ucapan Mas Sigit. Dua-duanya senior kami.

Saya yang waktu itu masih sangat hijau hanya mengangguk-angguk saja. Sedangkan Arman Dhani asyik makan kerupuk sembari ngeremuti ceker.

Ada yang tak lengkap kalau ke Tegalboto tapi tidak bertemu dengan Mister Kandar. Tapi lelaki menyenangkan itu tak ada di Tegalboto. Saya cari dia. Ternyata ada di UKM Reog. Menonton televisi sendirian sembari bertelanjang dada.

“Masih ingat saya?”

“Inget lah. Kamu kan Nuran.”

Saya tersenyum. Tajam ingatannya tak menumpul sama sekali. Maka ia pun beranjak ke Tegalboto. Bersalaman dengan Arys, Mas Widi, Tina, dan dua orang Rani. Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia selalu mengenalkan diri pada orang baru.

“Nama saya Nandar. Dulu waktu SD namanya Kusnandar,” katanya lancar sembari senyam senyum.

Siang makin tua. Kami kelaparan. Berencana makan siang di sebuah warung dekat Tegalboto. Kami pun berpamitan pada Cak Kandar.

“Mana THR-nya?” katanya jenaka.

Saya ketawa ngakak. Kami pun memberikan sedikit rejeki, sembari berpetuah: jangan dibuat mabuk lho Cak! Dia mengangguk saja. Sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri berswafoto bersama.

12

 

Cak Kandar langsung membalikkan diri. Menampakkan tulisan besar di baju bagian belakang. Tulisannya besar: KOMUNIS JEMBER. Hahahaha.

Setelah dari Bali, saya dan Rani hanya punya satu hari tambahan di Jember. Itu saya patok sebagai malam keluarga. Kami berencana makan di luar. Sudah lama sekali tidak makan bareng-bareng. Apalagi sekarang Orin sudah kerja. Shasa, si bungsu, sedang KKN di antah berantah. Tambah susah kumpul dan makan bersama.

Makan malam keluarga ini dinodai dengan insiden tolol, karena Orin tidak bisa membedakan mana Cak Sis dan mana Cak No. Hahaha.

Sekadar pendapat, Cak No sudah lewat masa kejayaannya. Entah kenapa, ia terasa malas berinovasi. Jenis masakan sea food yang ia jual hanya punya dua varian: asam manis dan mentega. Ini sama sekali membosankan. Apalagi yang mentega, nyaris tak ada rasanya. Hanya sekedar bawang putih dicacah dan diberi mentega.

Di sisi lain, Cak Sis yang dulu berada di bawah Cak No perihal kepopuleran, kini meroket. Mereka punya banyak jenis varian. Yang paling saya suka adalah varian sea food masak telur asin. Kaya rasa. Tak heran kalau sekarang Cak Sis membuka cabang baru yang megah di pusat kota.

Saat saya dan Rani harus pulang ke Jakarta, kami meninggalkan banyak kegiatan yang tak sempat dilakukan. Sedikit waktu. Terlalu banyak yang dikerjakan. Aduh. Tapi tetap saja, kami senang dengan mudik tahun ini. Semoga kesenangan ini terus jadi abadi. []

TINGGALKAN KOMENTAR