Dunia Dari Mata Seorang Asing

686

Beberapa waktu lalu, Kang Zen RS menulis sebuah kolom yang sangat menarik di Jawa Pos. Judulnya “Keluyuran di Tengah Kota”. Isinya pun memikat sekaligus menyentil, tentang betapa traveling itu bisa “…menyibakkan sebentuk rasa asing yang mencuat diam-diam.”

Sebabnya, tulis Zen, adalah traveling kini menjadi bentuk lain dari kolonialisme. Tulisan Zen senafas dengan tulisan Arman Dhani yang membuat kami berdebat dan berbalas tulisan tentang perjalanan. Zen dan Dhani sama-sama menembak poin bahwa traveling perlahan bergeser menjadi eksploitasi. Ini karena mereka, para pejalan itu, hanya melihat perjalanan dari yang indah belaka.

Berburu apa yang disebut dengan mooi indie. Matahari tenggelam di pantai berpasir putih yang punya jejeran pohon nyiur melambai. Keindahan itu lantas diposting di media sosial. Traveling tak memberikan ruang bagi, misalnya, kerusakan alam di Papua. Sebab itu tak indah.

Traveling juga memberikan perasaan gumun, tulis Zen. Perasaan kaget melihat sesuatu yang baru. Mungkin itu sama ketika para conquistador terhenyak melihat cengkeh bergelantungan dengan subur di tanah Maluku.

Di akhir tulisan, Zen menuliskan bahwa jenis traveling seperti ini “…rentan terantuk menjadi perayaan nasionalisme yang sloganistis dan hipokrisi yang menutup-nutupi kebobrokan negeri sendiri.”

Saya belajar mula perjalanan dari buku komik yang dibelikan oleh ayah. Tentang Christoper Colombus dan Marcopolo. Kisah mereka memantik rasa penasaran saya terhadap tempat yang jauh, yang asing, yang sama sekali tak kita kenali kecuali dari dongeng belaka.

Banyak petualang hebat lahir karena mendengar hikayat seperti itu. Kisah tentang jazirah yang jauh. Tanah yang dijanjikan. Baju terbuat dari sutera terbaik. Rempah tinggal petik. Kolam susu. Tongkat dilempar bisa jadi tanaman. Orang-orang lokal yang ramah dan murah senyum.

Manusia selalu terdorong untuk pergi ke tempat-tempat seperti itu. Entah atas nama apa. Boleh atas nama pengetahuan, penaklukan, atau hanya sekadar penasaran. Hasrat manusia untuk mencari tempat-tempat terasing tak akan pernah surut.

Layaknya orang asing yang datang ke suatu tempat baru, wajar kalau ada perasaan kaget. Gumun, kata orang Jawa dan Zen. Saya menyebutnya sebagai the eyes of a stranger. Mata seorang asing. Mata yang memendarkan ketakjuban atas hal-hal yang baru ia lihat.

Apakah gumunan itu selalu bersifat kolonial? Apakah hanya monopoli orang “kota” yang pergi ke “desa”? Tentu tidak. Ia bisa dirasakan oleh siapa saja, tak terbatas oleh jenis kelamin, ras, asal usul, strata pendidikan, ataupun umur.

Ia bisa dialami oleh orang Arjasa yang menatap Menara Eiffel. Atau pria asal Cirebon yang masuk ke museum Franz Kafka. Juga orang Semarang yang terbengong melihat gemerlap lampu pencakar langit di New York. Bisa dialami oleh siapa saja. Akan selalu ada keterpukauan yang sukar dilukiskan oleh kata-kata.

Tentu gumunan, atau mata seorang asing itu bersifat temporer. Tak bisa selamanya. Dalam masa tinggal yang panjang, kulit akan tersibak dan kita akan belajar tentang bagian dalam, inti. Ada banyak kisah di sana, yang tak semuanya elok. Keterpukauan itu akan perlahan memudar, atau bahkan hilang, tentu saja.

Mungkin itu yang membedakan seorang pejalan dengan, misalkan, antropolog. Tentu jangan mengharapkan kedalaman kisah dan cerita pada derajat yang sama. Orang yang menetap sejenak dua jenak, lengkap dengan eyes of a stranger, tentu tak bisa menceritakan apa yang dilihat oleh kedalaman mata seorang antropolog.

Tepat di sana, saya setuju dengan Kang Zen. Bahwa orang yang mendalami kotanya sendiri patut dihargai. Tak banyak orang yang menyelami kehidupan kotanya sendiri. Sebab mengenali kota sendiri itu kerap lebih susah ketimbang mengenali kota lain. Sama seperti lebih susah mengenal diri sendiri ketimbang mengenal orang lain.

Salah satu penulis perjalanan favorit saya adalah RZ Hakim, seorang sejarawan partikelir yang lahir dan besar di Jember. Ia banyak sekali menulis tentang Jember. Kini setelah pindah ke Kalisat –salah satu kecamatan di Jember– ia banyak menulis tentang serba serbi kehidupan di Kalisat. Mulai dari soal ludruk, becak, sampai grup musik. Sangat menarik dan memberikan warna sendiri terhadap khazanah tulisan perjalanan di Indonesia. Ia membuat saya yakin, bahwa dunia perjalanan, atau penulisan perjalanan, tidak akan cepat mencapai kejumudan.

Tapi lantas apa Hakim lebih baik, atau lebih ideal, ketimbang pejalan lain yang hanya menghabiskan dua tiga hari di sebuah destinasi? Tentu tidak. Saya juga yakin Hakim tak mau dianggap lebih tinggi. Setiap pejalan tentu punya gaya masing-masing, dan mereka yang berkisah melulu tentang keindahan tentu tidak selamanya mengusung apa yang Zen dan Dhani sebut sebagai kolonialisme.

“Berharap semua pejalan seperti Che Guevara tentu gegabah dan naif.” *

Pada akhirnya jalan-jalan atau keluyuran mengalir di nadi yang serupa. Perihal seperti apa gaya jalan atau seperti apa hasilnya dan mana yang lebih baik atau lebih ideal, tentu kita bisa berdebat sepanjang tahun untuk menentukannya. Dan tetap tak akan ada juntrungannya.

Kalaupun kita berdebat tentang itu, ada baiknya kita berdebat sambil ketawa ketiwi dan nyeruput kopi Aroma. Atau wine dari Praha mungkin, Kang? []

Post Scriptum:

* Itu kutipan dari Panjul. Saya dapat setelah saya menunjukkan tulisan ini dan ia berpendapat. Dia pula yang menyuruh saya untuk tetap mengunggah tulisan ini.

Saya mengumpulkan keberanian selama lebih dari seminggu untuk mengunggah tulisan ini. Ada perasaan takut dan segan yang menjalar sewaktu saya tak sepakat dengan Kang Zen, dan merasa harus menuliskannya. Penyebabnya apa lagi kalau bukan Kang Zen adalah salah satu penulis favorit saya. Pun orang yang sangat saya hormati. Tapi pengalaman ngobrol dan ngebir di malam sebelum pernikahannya, saya tahu Kang Zen akan ketawa ketiwi saja dengan tulisan saya yang berapi-api namun mentah ini. Punten, Kang.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. istilah traveling sekarang kebanyakan cuma memanfaatkan waktu libur-ngabisin duit-seneng-seneng-lalu-pamer-di-sosmed *sarkas*

    jarang yang bener2 jalan2 macam hakikat petualang muda naik motor ke Lombok entah kapan itu hehehe

  2. Akhirnya tulisan ini menjawab apa yang dipikiran saya ketika kang Zen memposting tulisan ini di twitternya dan ketika mas Dhani banyak nulis tentang hal yg sama beberapa tahun yang lalu. Saya juga merasa ada kenaifan, semacam kontestasi yang tidak seimbang. Tapi waktu itu saya ga terlalu berani langsung membantah atau mungkin terlalu sibuk untuk menata pikiran lebih lanjut.
    Dengan melihat sekilas memang ada semacam ketidak beresan dari cara generasi online kita berpelisir. Siapa yang tidak merasa aneh atau mungkin jengkel ketika kegiatan besenang senang dan pamer di medsos bisa mudah bersanding dengan slogan nasionalisme. Terlebih kegiatan tersebut tanpa mereka sadari bisa merusak alam,mengksploitasi atau yang lainnya. Mungkin poin ini yang sebenarnya jadi kritik utama kang Zen.

    Setelah saya pikir-pikir lagi, soal perbandingan perjalanan ala Agustinus Wibowo (yg sekali waktu dipuji mas Dhani) dengan liburan instagram bagi saya seperti membandingkan mana yang lebih buah durian atau pisang. Keduanya sama buah. Tapi kalau saya boleh menyarankan buah yang mesti anda makan, lebih baik anda beli pisang. Selain lebih murah,kandungan vitaminnya lebih banyak dan ia bagus untuk sirkulasi darah dan pencernaan. Sedangkan durian selain mahal, juga rentan mengganggu kesehatan, terlebih anda punya kolesterol tinggi atau mulai sering minum wine dari Praha. hehehe

    Mudah-mudahan analogi saya ga terlalu ngawur..
    Atau mungkin kita bisa cari analogi yang lain yang lebih pas ?

    • Kebanyakan pejalan mungkin menyandingkan nasionalisme dengan plesir (atau naik gunung) karena pengaruh buku Gie. Ia yang mengajarkan kalau nasionalisme tidak bisa dipelajari dengan slogan belaka. Mungkin kalimat itu membakar para anak-anak muda agar mengenali negeri sendiri. Kalau aku sih, ke sini-sini, semakin menyadari kalau jalan-jalan atau traveling tidak melulu harus diberi beban berat, seperti mengenalkan negeri sendiri. Atau punya visi misi muluk seperti mengentaskan kemiskinan. Ya gimana, panutanku itu Jack Kerouac sama Balada Si Roy. Si Jack kerjanya malah hedon, mabuk, ngewe, nonton musik jazz, nulis puisi. Roy juga avonturir karena ingin memuaskan hasrat jalan-jalan anak muda.

      Masalah kerusakan alam, menurut saya, itu bukan monopoli orang yang suka jalan-jalan. Membuang sampah sembarangan, mencorat coret tempat wisata, itu udah jadi kebiasaan buruk banyak orang Indonesia. Itu sih masalah lingkar otak saja, huehehehe.

TINGGALKAN KOMENTAR