Buku Digital dan Pencuri Buku

377

Beberapa hari lalu saya pergi ke perpustakaan Pusat Studi Pariwisata UGM. Saya datang agak siang. Sudah sepi. Hanya ada dua, tiga motor di parkiran. Saya masuk ke perpusatakaan. Mengisi buku tamu. Terakhir pengunjung datang adalah tiga hari lalu.

Di dalam perpustakaan juga sepi. Tak ada penjaga. Walau sebenarnya belum jam pulang. Hanya ada satu pengunjung. Perempuan, dengan ponsel iPhone dan laptop Asus. Ia sibuk mengetik di ponsel. Sesekali membaca buku. Kemudian kembali lihat layar ponsel.

Saya mencari beberapa skripsi, tesis, atau disertasi tentang potensi wisata. Untuk menambah kajian pustaka. Namun tak ada yang benar-benar membantu. Saya malah kembali membuka koleksi buku digital saya. Saya mikir, mungkin 5 atau 10 tahun lagi orang tak perlu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.

Rani pernah heran dan tanya: kenapa saya jarang pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan tesis. Saya bilang, semua yang saya butuhkan ada di laptop. Kalau butuh cetak, tinggal pergi ke copy centre terdekat. Murah meriah. Pakai kertas book paper. Saya mencetak beberapa buku digital agar bisa saya bawa dan baca ke mana-mana. Murah. Satu buku kira-kira setebal 250 halaman, hanya menghabiskan ongkos Rp 18 ribu.

Dan perpustakaan di Indonesia tentu tidak semegah di Amerika atau Eropa. Di dua kawasan itu, buku adalah barang penting. Koleksinya lengkap. Dari banyak sekali penulis. Merentang ke berbagai tema. Musik. Film. Pariwisata. Ekonomi. Agama. Banyak sekali.

Di Indonesia, banyak perpustakaan hanya memiliki sedikit buku. Bahkan di kampus saya, perpustakaan hanya memiliki sekitar 5 rak, setinggi dua meter, dengan tiga atau empat kolong. Itu pun isinya tak penuh.

Tapi biar bagaimanapun, memiliki buku dalam bentuk cetak itu menyenangkan. Bisa dilihat dan dipegang. Bisa juga dibaca di mana saja. Di toilet. Di dapur. Di angkutan umum. Tak perlu khawatir baterai gawai habis.

Karena itu, didorong sepinya perpus dan nihilnya penjaga, saya sempat kepikiran ingin mencuri dua tiga buku. Godaan itu teramat kuat. Apalagi setelah saya melongok ke beberapa kolong rak, tampak debu tipis di atas buku. Tanda tak banyak dibaca. Sayang sekali.

Namun bayangan tertangkap, diciduk, dipermalukan, bahkan bisa dipecat dari kampus, berhasil membuat saya mengurungkan niat mencuri buku itu. Saya ternyata tak seberani beberapa orang kawan yang punya catatan gemilang dalam jagat pencurian buku perpustakaan. Hei Irwan Bajang dan Arman Dhani, I am talking to you!

Saya lantas mengepak barang. Memasukkan laptop. Pergi dari perpustakaan. Sebelum dorongan mencuri buku kembali lagi dan semakin kuat. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. wih, ke Jogja dalam rangka misi apa mas? sayang lg mudik, kalo pas ada saya traktir angkringan deh hehe

    dan ya saya jg kenal beberapa orang yg nyalinya terlalu kuat utk saya ikuti dalam hal nyuri buku perpustakaan begitu 😀

TINGGALKAN KOMENTAR